Renungan Katolik Minggu Paskah II – Minggu Kerahiman Ilahi, 27 April 2025

TINJAU –“Menjadi Tanda Kerahiman Allah”
Bacaan-bacaan:
Bacaan I : Kis. 5:12-16
Bacaan II : Why. 1:9-11a.12-13.17-19
Bacaan Injil : Yoh. 20:19-31
Beberapa hari yang lalu, sepulang saya pelayanan pemberkatan sebuah rumah, udara terasa sangat panas. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli segelas es cincau di depan suatu sekolah. Setelah menyiapkan pesanan saya, Bapak penjual es cincau itu melihat seorang anak SD yang juga kepanasan. Anak itu hanya mengamat-amati gerobak es cincau itu. Lalu, Bapak itu memanggil anak itu dan bertanya apakah anak itu mau segelas es cincau atau tidak. Anak itu menjawab bahwa ia sudah kehabisan uang jajan. Jadi, ia tidak sanggup untuk membeli es cincau itu. Bapak penjual es cincau itu langsung meminta anak itu mendekat dan ia menyiapkan 1 gelas es cincau untuk anak itu. Awalnya ketika Bapak penjual itu memberikan segelas es cincau itu, anak itu terlihat menolak dan beberapa kali mengatakan bahwa ia tidak punya uang. Tetapi, Bapak itu mengatakan bahwa untuk anak itu hari ini segelas es cincau gratis. Anak itu duduk di sebelah saya dan menikmati es cincau itu dengan gembira. Setelah ia menghabiskan segelas es cincau itu, ia berpamitan pada saya dan Bapak penjual itu. Anak itu menghaturkan terima kasih kepada Bapak itu dan mendoakan semoga Bapak penjual itu diberkati oleh Tuhan agar dagangannya laku.
Saat saya melihat peristiwa itu, saya tersenyum sendiri. Saya bertanya pada Bapak penjual mengapa Bapak itu begitu murah hati mau memberikan dagangannya kepada anak kecil itu. Bapak itu menjawab bahwa meskipun ia berjualan, perihal kemanusiaan harus selalu didahulukan. Memang anak itu mungkin tidak bisa membayar, tetapi melihat kegembiraan anak itu saat menikmati es cincau itu, bagi Bapak penjual itu juga sudah termasuk dalam rejeki yang diterimanya.
Setelah saya selesai menghabiskan es cincau itu, saya membayar apa yang saya beli. Saya sengaja membayar untuk 3 porsi. Bapak penjual itu kaget dan bertanya mengapa saya membayar begitu banyak. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak penjual karena sudah melegakan panasnya udara dengan segelas cincau lalu saya juga mau membayarkan 1 porsi untuk anak yang tadi sudah diberikan segelas es cincau oleh Bapak penjual dan 1 porsi lainnya untuk siapa saja yang sekiranya memang perlu dibantu. Bapak itu menghaturkan terima kasih kepada saya lalu saya melanjutkan perjalanan pulang ke pastoran.
Hari ini adalah Hari Minggu Paskah II. Gereja semesta merayakan Minggu Kerahiman Ilahi. Banyak orang masih bingung dan bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan Kerahiman Ilahi. Kerahiman Ilahi adalah kemurahan hati Allah yang begitu mencintai manusia apa adanya. Meskipun manusia terluka oleh dosa dan kesalahan yang mereka perbuat, Allah tetap mau memeluk dan mencintai manusia dengan cinta tanpa syarat.
Kerahiman Ilahi dapat kita pelajari pula dengan memandang Yesus yang bangkit. Yesus bangkit dengan tetap membawa luka-luka pada tangan, kaki, dan lambung-Nya. Luka-luka Yesus itu tidak dilihat sebagai aib karena wafat di Kayu Salib. Tetapi, luka-luka itu mau diperlihatkan sebagai bukti nyata betapa agung cinta Yesus pada kita. Sekalipun Yesus terluka, toh Yesus tetap mau menyembuhkan luka-luka kita. Sekalipun kita melukai Yesus dengan dosa dan kesalahan yang kita lakukan, Yesus tetap mau memeluk dan menyembuhkan kita. Luka-luka Yesus itulah yang menyembuhkan luka-luka kita karena dosa dan kesalahan yang kita perbuat. Itulah misteri Kerahiman Ilahi. Itulah kemurahan hati Allah pada kita.
Sama seperti Bapak penjual es cincau itu. Meski Bapak itu bukan seorang Katolik, tetapi ia menghadirkan wajah kerahiman Allah pada sesama manusia. Meski Bapak itu tidak kenal dengan Yesus, tetapi Bapak itu menjalankan apa yang diajarkan oleh Yesus, yakni saling mengasihi satu sama lain. Sebagai murid-murid Yesus, kitapun dipanggil untuk mau menghadirkan wajah kerahiman Allah pada orang-orang yang ada di sekitar kita.
Kerahiman Allah atau kemurahan hati Allah hadir saat kita terluka, tetapi kita masih mau berbagi kebaikan pada orang lain; saat kita kekurangan, tetapi kita masih mau berbagi; saat kita lapar, tetapi kita mau berbagi makanan dengan yang lebih membutuhkan; ketika kita sibuk, tetapi kita masih mau memberi waktu untuk mendoakan; ketika kita sedih, tetapi kita masih mau menghibur orang lain; ketika kita tak bersalah, tetapi kita masih mau meminta maaf; ketika kita kesepian, tetapi kita masih mau menemani orang lain; dan ketika kita dibenci, kita tetap mau melayani dengan sepenuh hati. Itulah wajah Kerahiman Ilahi. Itulah Kemurahan Hati Allah.
Jika wajah Kerahiman Ilahi ini kita hadirkan, tentu kita bisa membayangkan betapa damai dan sukacitanya hidup di dunia ini. Bahkan mungkin istilah yang tepat adalah kita menghadirkan surga ke dalam dunia ini.
Mari kita saling menghadirkan wajah Kerahiman Ilahi pada orang-orang yang kita jumpai. Karena kita tahu bahwa luka-luka Yesu situ menyembuhkan luka-luka kita. Sekarang, kita dipanggil untuk mau menghadirkan wajah Kerahiman Ilahi itu.
Selamat berproses.
Selamat menghadirkan wajah Kerahiman Ilahi dan Kemurahan Hati Allah pada orang-orang yang kita jumpai.
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









