
TINJAU – “Salib: Bilas dan Libas.” Bacaan-bacaan: Bacaan I: Bil. 21:4-9; Bacaan II: Flp. 2:6-11; Bacaan Injil: Yoh. 3:13-17.
Salah satu kekayaan dan keunikan sastra yang ada di seluruh berbagai belahan dunia adalah permainan kata. Permainan kata ada banyak macam dan bentuknya. Salah satu permainan kata yang cukup popular adalah anagram. Anagram adalah permainan kata yang huruf-hurufnya disusun kembali sehingga memiliki makna yang baru. Dalam berbagai kesempatan, anagram digunakan oleh berbagai kelompok orang untuk menyampaikan pesan atau nasehat tersembunyi bagi kelompoknya itu.
Beberapa anagram yang terkenal, rupa-rupanya memiliki pesan tersembunyi yang menarik. Contohnya anagram dari kata “Listen” adalah “Silent”. Pesannya adalah seseorang dapat mendengarkan “listen” kalau orang tersebut mau diam “silent”. Contoh lainnya anagram dari “Mona Lisa Da Vinci” adalah “Maid in oil canvas” (perempuan dalam lukisan minyak).
Bahkan, dalam Kitab Suci pun muncul beberapa anagram yang menarik. Memang dalam Kitab Suci, anagram tersebut dapat ditemukan dalam Kitab Suci Bahasa Latin, yang diterjemahkan oleh St. Hieronimus. Salah satu anagram yang terkenal dalam Kitab Suci adalah pertanyaan Pilatus kepada Yesus. Pertanyaannya adalah “Quid est veritas?” (apa kebenaran itu). Nah, anagram dari pertanyaan Pilatus itu adalah “Vir qui adest” (Laki-laki yang berdiri di hadapanmu). Jadi, kebenaran adalah laki-laki yang berdiri di hadapan Pilatus, yakni Yesus sendiri.
Dalam Pesta Pemuliaan Salib Suci pada hari ini, saya juga iseng mengutak-atik kata “Salib” dan mencari anagramnya. Dari kata “Salib”, saya menemukan 2 anagram yang menarik untuk direnungkan. Pertama, dari kata “Salib”, saya menemukan kata “Bilas”. Seperti kita ketahui bersama, kesetiaan kita memeluk, mencintai, dan memikul salib kehidupan kita, hal-hal itulah yang akan membilas kita dari dosa-dosa yang selama ini kita lakukan. Seringkali kita berniat untuk membuang dan menjauhkan hidup kita dari salib. Padahal, dengan mau setia memeluk, mencintai, dan memikul salib, dosa-dosa kita akan dibilas dari diri kita. Kedua, dari kata “Salib”, saya menemukan kata “Libas”. Saya merenungkan bahwa kesetiaan dan ketaatan memikul salib yang Allah berikan kepada kita, tentu segala pengaruh dan godaan roh jahat akan dilibas oleh Roh Kudus.
Baik bilasan dari dosa dan libasan dari pengaruh roh-roh jahat, dapat kita peroleh melalui kesetiaan, ketaatan, dan kecintaan kita pada salib kehidupan yang memang harus kita pikul selama hidup ini. Keteladanan dalam hal ini adalah Tuhan Yesus sendiri. Lihatlah ketaatan, kesetiaan, dan kecintaan Tuhan Yesus pada salib yang harus Ia pikul melahirkan bilasan dosa dalam hidup manusia dan libasan telak pada gangguan serta pengaruh roh jahat yang hendak menjauhkan manusia dari cinta Allah.
Berkaitan dengan hal ini, Allah tidak pernah memaksa manusia untuk mau setia, cinta, dan taat pada salib hidup mereka. Hal ini dikarenakan Allah sangat menghormati kehendak bebas yang dimiliki oleh manusia. Dengan demikian, keputusan semuanya ada pada diri kita, apakah kita mau selamat atau tidak. Harapannya adalah semoga kita bersama-sama mau memilih tawaran dari Allah, yang meskipun terlihat tidak membuat kita nyaman, tetapi inilah pilihan yang benar dan pilihan yang memampukan kita hidup di dalam dan bersama dengan Allah.
Kita tinggal memilih saja, apakah mau mengambil dan menerima tawaran dari Allah itu atau kita justru menolak tawaran dari Allah itu. Hal yang perlu kita ingat adalah kita tetap perlu menerima semua konsekuensi atas pilihan yang telah kita ambil serta menghidupinya dengan penuh komitmen.
Selamat memilih.
Selamat merayakan Pesta Pemuliaan Salib Suci.
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









