TinjauAds
BeritaPilihan Redaksi

Dekan Fakultas Kesehatan Unika San Agustin Ingatkan Pentingnya Filsafat dan Nilai Kemanusiaan

Dibaca dalam waktu3 Menit, 22 Detik

TINJAU, Pontianak | Dunia kesehatan terus bergerak maju. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), layanan kesehatan digital, rekam medis elektronik, hingga berbagai inovasi teknologi telah mengubah cara tenaga kesehatan bekerja dan melayani masyarakat.

Namun di balik kemajuan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah perkembangan teknologi juga diimbangi dengan pemahaman yang mendalam tentang manusia?

Pertanyaan itulah yang menurut Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Unika San Agustin), Bdn. Agnes Dwiana Widi Astuti, S.SiT., M.Kes, perlu terus menjadi perhatian perguruan tinggi, khususnya lembaga pendidikan kesehatan.

Karena itu, dia menyambut positif penyelenggaraan Workshop Humaniora bertema “Filsafat dan Relevansinya bagi Dunia Pendidikan Tinggi Dewasa Ini” yang akan digelar pada Jumat (26/6/2026) di Aula Lantai 4 Kampus II Unika San Agustin.

Menurut Agnes, filsafat memiliki hubungan yang sangat erat dengan dunia kesehatan karena keduanya sama-sama berpusat pada manusia.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Jika ilmu kesehatan berbicara tentang upaya menjaga, merawat, dan meningkatkan kualitas hidup manusia, filsafat membantu memahami makna kemanusiaan yang menjadi dasar dari seluruh praktik pelayanan kesehatan.

“Filsafat itu penting, karena bagaimanapun filsafat berbicara dan dekat dengan kemanusiaan hingga konteks manusia dan kesehatan, kemudian kesehatan dan masyarakat,” kata Agnes, (25/06).

Dia menjelaskan bahwa dalam pendidikan kesehatan, mahasiswa tidak hanya belajar tentang anatomi, diagnosis, terapi, atau prosedur klinis. Mereka juga dipersiapkan untuk berhadapan dengan berbagai persoalan kemanusiaan yang sering kali tidak memiliki jawaban sederhana.

Seorang tenaga kesehatan, misalnya, harus mampu berhadapan dengan pasien yang sedang mengalami penderitaan, keluarga yang dilanda kecemasan, hingga berbagai situasi yang menuntut keputusan etis dalam waktu singkat.

Menurut Agnes, kemampuan seperti itu tidak hanya lahir dari penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga dari kemampuan refleksi dan pemahaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

“Di dunia kesehatan, kita tidak hanya berhadapan dengan penyakit, tetapi dengan manusia yang sedang mengalami pergumulan hidup. Karena itu, dibutuhkan kemampuan berpikir kritis sekaligus kebijaksanaan moral dalam memberikan pelayanan,” ujarnya.

Dia menilai bahwa salah satu tantangan terbesar pendidikan tinggi saat ini adalah menjaga keseimbangan antara pencapaian akademik dan pembentukan karakter.

Perguruan tinggi memang dituntut menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap memasuki dunia kerja, tetapi di saat yang sama juga harus memastikan bahwa para lulusan memiliki empati dan tanggung jawab sosial.

Menurut Agnes, tantangan tersebut semakin relevan bagi bidang kesehatan yang menjadikan pelayanan kepada manusia sebagai inti profesinya.

“Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kebijaksanaan moral, dan kepedulian terhadap sesama, apalagi yang erat kaitannya dengan dunia kesehatan,” katanya.

Workshop Humaniora oleh: Dr. Mgr. Valentinus Saeng, CP (Uskup Keuskupan Sanggau) Dr. Agustinus Setyo Wibowo, SJ (Imam Yesuit dan Dosen STF Driyarkara Jakarta)

Dia menambahkan bahwa berbagai persoalan kesehatan masyarakat saat ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis. Masalah kesehatan juga berkaitan dengan aspek budaya, ekonomi, lingkungan, hingga keadilan sosial yang membutuhkan cara pandang yang lebih luas dan mendalam.

Dalam konteks itulah, filsafat dinilai tetap relevan bagi mahasiswa kesehatan. Melalui filsafat, mahasiswa diajak memahami alasan di balik tindakan yang mereka lakukan, mempertimbangkan konsekuensi moral dari keputusan yang diambil, serta mengembangkan kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.

Workshop Humaniora yang diselenggarakan Unika San Agustin akan menghadirkan dua akademisi filsafat terkemuka, yakni Mgr. Dr. Valentinus Saeng, CP, Uskup Keuskupan Sanggau, dan Romo Dr. Agustinus Setyo Wibowo, SJ, dosen STF Driyarkara Jakarta.

Selain itu, kegiatan juga menghadirkan sejumlah panelis dari berbagai disiplin ilmu untuk memperkaya perspektif diskusi.

Agnes berharap forum tersebut menjadi ruang dialog yang mampu mempertemukan dunia filsafat dengan berbagai bidang profesi, termasuk kesehatan.

Dia mengajak mahasiswa, dosen, dan masyarakat untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai sarana memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman mengenai peran pendidikan tinggi dalam membentuk manusia yang utuh.

“Mari kita manfaatkan kesempatan berharga ini untuk belajar bersama, membuka pemikiran, memperluas wawasan, dan semakin memahami peran filsafat dalam membentuk dunia pendidikan tinggi yang bermakna bagi kemanusiaan,” ajaknya.

Bagi Agnes, kemajuan teknologi kesehatan memang penting dan tidak dapat dihindari. Namun yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap inovasi tetap berpihak pada manusia. Sebab pada akhirnya, tujuan utama pendidikan kesehatan bukan sekadar melahirkan tenaga profesional yang terampil, melainkan insan yang mampu menggabungkan kompetensi, empati, dan tanggung jawab moral dalam melayani kehidupan. (*)

Back to top button