TinjauAds
Mo IgnasTinjau

Renungan Katolik Minggu Biasa XXV, 21 September 2025

Dibaca dalam waktu3 Menit, 12 Detik

TINJAU – “Keadilan Sosial: Panggilan Iman dan Kebangsaan.” Bacaan-bacaan: Bacaan I: Am. 8:4-7; Bacaan II: 1 Tim. 2:1-8; Bacaan Injil: Luk. 16:1-13.

Dasar Negara kita adalah Pancasila. Tentu masing-masing dari kita sudah hafal dan mengenal kelima sila yang ada dalam Pancasila itu. Pada sila kelima disebutkan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Konsep sila kelima itu, kalau kita renungkan dan refleksikan, tujuannya adalah untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Artinya, setiap individu warga Negara Indonesia berhak mendapatkan perlakuan dan hak yang sama dalam pelbagai bidang kehidupan untuk mencapai kesejahteraan bersama. Maksudnya jurang pemisah antara yang kaya dan miskin tidak semakin lebar. Dengan demikian, setiap individu warga Negara Indonesia mendapat kesejahteraan dalam hidup sehari-hari.

Sila kelima ini sejalan dengan Ajaran Sosial Gereja. Cita-cita Gereja adalah melaksanakan apa yang telah diajarkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus, yakni keberpihakan pada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Tujuan keberpihakan ini adalah agar setiap individu warga Gereja mampu hidup sejahtera dalam hidup mereka sehari-hari.

Meski Ajaran Sosial Gereja ini bagus dan baik, rupa-rupanya tetap saja ada pihak-pihak yang menentang ajaran ini. Kenapa? Karena pihak-pihak tersebut masih menggunakan pola pikir zaman sekarang, yakni kalau bisa memperkaya diri sendiri untuk apa memikirkan hidup orang lain yang menderita?

Nubuat Nabi Amos, dalam Bacaan I, dengan jelas menggambarkan kemurkaan Allah pada orang-orang yang menyengsarakan orang yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Kemurkaan Allah yang diberikan pada mereka yang dengan segala kelebihannya, bukannya membantu tetapi ‘memalak’ orang miskin untuk semakin memperkaya diri mereka sendiri. Berkebalikan dengan itu, bendahara yang dikisahkan, dalam Bacaan Injil, justru menggunakan keahlian, kecerdikan, dan kemampuannya untuk membantu orang miskin, tanpa membuat tuannya keberatan.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Nasehat dan teguran dari Nabi Amos ini rupa-rupanya ditujukan kepada kita. Tidak ada yang salah memiliki kelebihan, keterampilan, keahlian, kepandaian, bahkan kekayaan untuk mencari uang pada zaman ini.

Kekeliruan terjadi ketika kita menjadi sedemikian rakus dan memaksa semua orang untuk membayar kelebihan dan keterampilan yang kita miliki. Kita tentu sering mendengar kata-kata “Kalau tidak punya uang, ya tidak perlu meminta bantuan. Semua kan ada harganya. Emang ada yang gratis di zaman sekarang ini?” Nah, orang-orang seperti inilah yang berlawanan dengan Ajaran Sosial Gereja dan Sila Kelima dalam Pancasila. Bahkan, orang-orang yang demikian justru membuat jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin semakin lebar dan semakin tak terseberangi.

Orang-orang yang memiliki keahlian dan kepandaian di zaman sekarang ini yang mempermainkan pemikiran mereka yang lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Permainan mereka membuat orang-orang yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel ini semakin menderita. Bagaimana tidak, lihat saja iklan-iklan produk bersliweran, membujuk orang-orang lugu dan tak mampu untuk membeli apa yang sesungguhnya tidak mereka perlukan; Para perancang dan ahli hukum yang kaya akan pengetahuan mempermainkan orang kecil lewat hukum dan pengadilan; para ahli IT dan pemegang media massa mengeruk uang dari konten-konten hoax dan sensasional yang menimbulkan konflik akar rumput. Pertanyaannya adakah dirimu juga melakukan hal yang sama? Atau, sudahkan dirimu menggunakan keahlianmu untuk membantu mereka dengan cuma-cuma?

Banyak orang ahli dan kompeten di dalam Gereja. Namun demikian, kurang terketuk pintu hatinya untuk sungguh-sungguh membantu dan mendorong orang-orang yang kecil untuk berkembang dan berusaha mencapai kesejahteraan hidp mereka. Semoga kita tidak menjadi orang-orang yang miskin hatinya. Tetapi mau melaksanakan cita-cita Gereja dan juga negara, yakni bersama-sama memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Selamat bermenung.

Selamat bekerja sama untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bersama.


Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat

Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button