TinjauAds
Mo IgnasTinjau

Renungan Katolik Minggu Biasa XXIII, 7 September 2025

Dibaca dalam waktu2 Menit, 50 Detik

TINJAU –  “Menjadi Murid dengan Penyerahan Total.” Bacaan-bacaan: Bacaan I: Keb. 9:13-18; Bacaan II: Flm. 1:9b-10.12-17; Bacaan Injil: Luk. 14:25-33.

Hari ini setelah makan siang, saya berjalan-jalan sebentar di sekitar Taman Budaya Hati Tersuci (TBHT) di Paroki Bunda Maria, Cirebon. Saat berjalan seraya mengamat-amati taman itu, saya ditemani oleh sahabat terbaik yang saya miliki, yakni Tuhan Yesus. Ketika saya menyadari bahwa ada sahabat saya yang sedang menemani, saya langsung bertanya “Gusti Yesus, apa sih sebenarnya makna menjadi murid-Mu? Mengapa rasanya banyak orang tidak memahami panggilan untuk bersahabat dan menjadi murid-Mu?” Yesus tersenyum lalu meminta saya memperhatikan salib utama yang berada di Taman Budaya Hati Tersuci. Karena kurang paham dengan apa yang dimaksud oleh Tuhan Yesus, saya bertanya lagi apa maksud dari permintaan-Nya itu.

Yesus menjawab “Apa yang kamu lihat dari salib itu? Suatu keinginan atau suatu penyerahan kepada Bapa?” Saya menjawab, “Suatu penyerahan diri pada rencana Bapa”. Yesus mengatakan “Ya, jawabanmu itu tepat. Sama seperti makna salib, panggilan sebagai seorang murid bukan suatu keinginan pribadi, melainkan sebuah penyerahan total kepada Bapa. Membiarkan Bapa yang bekerja atas dirimu dan hidupmu. Sesuatu yang sepertinya mudah dilakukan, padahal perlu komitmen dalam menghidupinya.”

Dari jawaban Yesus itu, saya menyadari bahwa panggilan menjadi murid bukan suatu proyek pribadi, melainkan pertama-tama menyerahkan diri secara total kepada Bapa. Hal ini ditegaskan pula dalam bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan, “Manusia manakah dapat mengenal rencana Allah, atau siapakah dapat memikrikan apa yang dikehendaki Tuhan? Pikiran segala makhluk yang fana adalah hina, dan pertimbangan kami ini tidak tetap” (Keb. 9:13-14).

Kita seringkali lupa bahwa rencana manusia itu rapuh dan mudah keliru. Keinginan manusia itu selalu saja egois. Kita lebih sering ingin memasukkan Allah dalam rencana pribadi daripada memasukkan diri kita dalam rencana Allah. Hal ini terbukti dari ragam keluhan-keluhan yang sering terlontar saat keadaan tidak sesuai dengan keinginan kita; hal ini terbukti dari kebencian saat perbuatan baik kita tidak menerima pujian; hal ini terbukti dari doa-doa yang acapkali mengancam Tuhan untuk mengabulkan apa yang kita inginkan.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Dalam bacaan Injil pada hari ini kita mendengar bahwa Yesus bersabda, “Setiap orang di antara kamu yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Mungkin kita mengartikan “milik” itu sebagai harta benda semata. Namun demikian, “milik” yang dimaksud bukan sekadar harta benda, melainkan termasuk di dalamnya adalah keinginan, hasrat, dan obsesi pribadi yang seringkali bertentangan dengan apa yang Allah kehendaki.

Oleh karena itu, mari kita menyadari bahwa panggilan menjadi seorang murid berarti panggilan untuk menyerahkan diri kita sepenuhnya pada kehendak Bapa dan membiarkan Bapa yang bekerja atas diri kita. Hal yang bisa kita lakukan adalah memeluk kehendak-Nya itu dalam doa-doa kita, sama seperti Bunda Maria yang mengatakan “Terjadilah kepadaku seturut kehendak-Mu!”. Memang tidak mudah, tetapi inilah jalan yang benar untuk menjadi murid-Nya. Mari melepaskan obsesi, egosime pribadi, dan hasrat kita yang justru rapuh dan berpotensi mengancam keselamatan kita. Mari berjalan seturut dengan apa yang dikehendaki oleh Bapa. Dengan demikian nama Bapa semakin dipermuliakan di dalam hidup kita.


Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat

Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

 

Back to top button