
TINJAU – “Mengubah Ukuran Hidup: Dari Memiliki Menjadi Memberi. ”Bacaan-bacaan: Bacaan I, Pkh. 1:2; 2:21-23; Bacaan II, Kol. 3:1-5.9-11; Bacaan Injil, Luk. 12:13-21.
Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan lagu “Ambilan dan Terimalah”, lagu yang diambil dari Latihan Rohani (LR) St. Ignatius Loyola nomor 234. Dalam latihan rohani tersebut, St. Ignatius menegaskan bahwa segala sesuatunya adalah milik Bapa dan dipergunakan manusia untuk memuji dan memuliakan Bapa. Oleh karena itu, bagi manusia cukuplah menerima rahmat dan cinta dari Bapa.
Namun demikian, jika dihubungkan dengan masa sekarang, manusia agaknya malah menjauh dari memohon rahmat dan cinta dari Bapa. Bagaimana tidak, manusia saat ini lebih memilih untuk memperkaya diri sendiri; kurang peduli dengan keadaan di sekitar; bahkan seolah-olah menjadi supervisor bagi Tuhan dan mengatur apa yang harus Tuhan kerjakan. Hal ini dapat dipahami karena ukuran yang digunakan saat ini adalah “Apa yang saya dapatkan? Apa yang saya terima? Apa yang saya miliki?” Nah, ukuran inilah yang justru membuat hidup manusia terluka sehingga sulit mengatakan seperti Bunda Maria “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”
Kalau kita mau merenungkan LR no. 234 secara lebih mendalam, kita akan menemukan dan mengetahui bahwa segala kepemilikan dan semua kepunyaan akan menjadi invalid ketika seseorang mengalami kematian. Sama seperti yang disampaikan oleh Pengkotbah dalam Bacaan I pada hari ini bahwa jika sekadar kepemilikan dan kepunyaan yang dikejar, semuanya akan berakhir sia-sia. Oleh karena itu, mengapa kita tidak mengganti saja ukuran yang digunakan menjadi “Apa yang bisa saya berikan?” Dengan demikian, fokus hidup bukan lagi pada diri sendiri, melainkan seperti yang disampaikan dalam LR no. 234, fokusnya adalah demi kemuliaan Bapa.
Ketika ukuran yang digunakan berubah menjadi “Apa yang bisa saya berikan?”, kita dapat memahami bahwa bekerja bukan lagi perkara mencari, mendapatkan, dan mengumpulkan uang atau meraih jabatan semata; melainkan perkara memberikan tenaga demi kebaikan bersama, membagikan prinsip hidup bagi rekan kerja, dan berbagi rejeki dengan mereka yang paling membutuhkan.
Ketika ukuran yang digunakan berubah menjadi “Apa yang bisa saya berikan?”, hidup perkawinan bukan lagi perkara memikirkan kepentingan diri sendiri; melainkan kebahagiaan pasangan dengan cara memberi diri, waktu, dan kesetiaan serta kasih kepada pasangan maupun kepada anak-anak yang dipercayakan oleh Bapa.
Ketika ukuran yang digunakan berubah menjadi “Apa yang bisa saya berikan?”, pelayanan di Gereja bukan lagi perkara mencari prestasi, pujian, dan pengakuan; melainkan penghayatan hidup menjadi seorang hamba yang mau melayani demi kebaikan Gereja.
Mungkin sulit mengubah kebiasaan karena terlalu sering menggunakan ukuran yang lama, tetapi toh hal ini bukan sesuatu yang mustahil untuk dilaksanakan. Mari mulai hari ini kita mengubah ukuran yang kita pakai menjadi “Apa yang bisa saya berikan?” Saat ukuran ini kita pegang, kita akan lebih mampu menyukuri berbagai rahmat dan berkat yang Bapa berikan kepada kita. Akhirnya, kita dapat mengatakan seperti apa yang St. Ignatius Loyola sampaikan dalam LR no. 234, “hanya cinta dan rahmat dari Bapa, itu cukup bagiku.”
Selamat merenung.
Selamat mengubah ukuran hidup yang digunakan.
Selamat berproses bersama Bapa.
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









