TinjauAds
Mo IgnasTinjau

Renungan Katolik, Minggu Biasa XXI, 24 Agustus 2025

Dibaca dalam waktu3 Menit, 20 Detik

TINJAU – “Memanggul Salib dengan Setia.” Bacaan-bacaan: Bacaan I: Yes. 66:18-21; Bacaan II: Ibr. 12:5-7.11-13; Bacaan Injil: Luk. 13:22-30.

Kemarin malam, saat sedang santai sembari menyiapkan renungan untuk minggu ini, saya duduk minum kopi bersama dengan sahabat saya, yakni Tuhan Yesus. Dalam pembicaraan itu, saya bertanya pada-Nya, “Gusti Yesus, kenapa Engkau meminta agar orang-orang hanya memanggul salib? Kenapa orang-orang tidak diminta untuk turut disalib bersama-Mu?” Saat mendengar pertanyaan saya, Yesus hanya tertawa seraya menyeruput kopinya.

Yesus lalu memandang saya dan mengatakan, “Hal paling mudah itu memanggul salib dengan setia. Kadang hal itu saja tidak dilaksanakan, malah kamu meminta yang berat, yakni disalib. Mau memanggul salib saja sudah cukup kok.” Lalu kami tertawa bersama.

Ketika saya masuk ke kamar dan merenungkan pembicaraan itu, saya mulai menyadari bahwa memang memanggul salib bukanlah pekerjaan yang mengenakkan. Tetapi ada yang luput dari perhatian. Seringkali orang-orang menyebut penderitaan yang dialaminya adalah salib yang harus dipikul. Pernyataan itu tak sepenuhnya benar. Kalau kita mau melihat secara teliti, salib itu adalah penderitaan yang membawa pada kebahagiaan dan sukacita. Jadi, jika penderitaan yang dialami tidak membawa pada kebahagiaan dan sukacita, itu sebenarnya adalah murni penderitaan dan bukan salib. Kita dapat melihat apa yang dilakukan Yesus. Yesus memikul dan disalib. Memang berat dan sulit, tetapi penderitaan itu membawa pada kebahagiaan dan sukacita. Contoh lain, Ibu yang hamil lalu berjuang melahirkan. Proses melahirkan itu tentu tidak mudah dan mungkin membawa kesakitan, tetapi toh membawa pada kebahagiaan dan sukacita. Inilah pemahaman baru mengenai salib. Salib bukan sekadar penderitaan semata, melainkan penderitaan yang membawa pada kebahagiaan dan sukacita.

Proses kita dalam memanggul salib dengan setia bukanlah perkara yang mudah. Karena, saat kita memanggul salib, kita membiarkan diri ini dididik oleh Allah secara keras. Bahkan saat kita memanggul salib, kita pun akan dilempari cemoohan, hujatan, penghinaan, dan ketidak-adilan. Hal-hal itu tentu membuat kita terluka. Namun demikian, itulah car akita memanggul salib hidup yang diberikan kepada kita. Tetaplah demikian. Tetaplah setia. Bahkan, jangan sungkan untuk menjadi kotor bersama salib yang sedang kita panggul itu. Bukankah salib Yesus adalah salib yang kotor pula?

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Sayangnya, kerapkali, kita ingin agar salib yang harus kita panggul itu menjadi salib yang bersih dan steril. Rasanya kita tidak ingin membuat salib itu kotor. Oleh karena itu, kita seringkali menempatkan salib kehidupan pada dinding kaca kesombongan iman; kita seringkali membawa salib itu dalam kendaraan kemalasan untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah; dan kita berusaha melindungi salib itu dengan senjata kata-kata kasar yang ditujukan pada orang-orang yang mencemooh usaha kita saat memanggul salib itu. Nah, hal-hal itu membuat salibmu tetap bersih dan steril. Sadarilah, itu bukan yang Allah kehendaki.

Hal yang dikehendaki oleh Allah adalah kita berjuang dengan tulus dan setia memanggul salib kehidupan itu, seperti yang telah diteladankan oleh Yesus, Sang Guru. Bila kita takut terluka dan kalah; Bila kita ingin membalas penghinaan; Bila kita takut terlihat lemah; Bila kebencian menghilangkan kesabaran; Adakah kita masih setia memanggul salib itu bersama dengan Yesus, Sang Guru?

Salib Yesus, Sang Guru, justru akan membantu kita untuk belajar sehingga kita mampu mengatakan “Terima kasih telah mencemooh dan melukai salib ini dan diriku. Sekarang aku semakin yakin bahwa salibku ini adalah Salib yang Allah kehendaki.”

Salib itulah yang perlu kita panggul dengan tulus dan penuh kesetiaan. Karena salib itulah yang akan membawa dan menghantarkan kita pada kebahagiaan dan sukacita yang sejati. Jika kita masih lebih suka membuat salib itu steril dan bersih, jangan-jangan kita tidak mau memasuki pintu yang sempit itu, tetapi beralih pada pintu yang lebar yang mengarahkan kita pada kebinasaan.

Selamat berjuang memanggul salib kita.

Semoga apa yang kita lakukan berkenan di hati Allah.


Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat

Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

 

Back to top button