TinjauAds
Mo IgnasTinjau

Renungan Katolik Minggu Biasa XVII, 27 Juli 2025

Dibaca dalam waktu3 Menit, 16 Detik

TINJAU – “Doa yang Dijawab: Mengenali Jawaban Bapa dengan Hati yang Percaya.” Bacaan-bacaan: Bacaan I dari Kejadian 18:20-23, Bacaan II dari Kolese 2:12-14 dan Bacaan Injil dari Lukas 11:1-13.

Beberapa orang sering datang pada saya untuk sekadar curhat dan bercerita bahwa mereka sudah berdoa dengan sungguh-sungguh. Mereka sudah melengkapi doa-doa mereka dengan puasa dan pantang agar doa-doa mereka dijawab dan dikabulkan oleh Bapa. Bahkan, ada yang bertanya pada saya doa apa yang paling mujarab agar langsung didengarkan, dijawab, dan dikabulkan oleh Bapa. Jawabannya simple dan sederhana, yakni doa yang dilantunkan dari hati. Bukan doa hafalan. Bukan doa yang memaksa Tuhan. Melainkan doa yang sungguh mengalir dari hati.

Nah, salah satu rahasia besar yang terungkap bagi kita, para murid Yesus, adalah bahwa Bapa selalu menjawab doa-doa kita. Jawaban dari Bapa atas doa-doa kita ada 3 bentuknya, yakni “Ya, Aku kabulkan!” ; “Bertahanlah sebentar lagi!”; “Tidak! Jangan memohon hal itu!”. Berkaitan dengan itu, kita perlu memohon rahmat dari Bapa agar kita mampu mengenali dan mengetahui jawaban apa yang Bapa berikan kepada kita. Selain itu, kita juga perlu menyadari bahwa jawaban  atas doa-doa yang kita sampaikan dijawab oleh Bapa dengan memberikan apa yang baik untuk kita dan bukan dijawab dengan memberikan apa yang menyenangkan untuk kita. Kita perlu menyadari apa yang menyenangkan untuk kita, rupa-rupanya bukanlah sesuatu hal yang baik. Oleh karena itu, kita jangan cepat-cepat menyimpulkan bahwa doa-doa yang sudah kita sampaikan kepada Bapa tidak dijawab atau tidak dikabulkan oleh Bapa.

Di samping itu, kita perlu menyadari lagi bahwa dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan pada hari ini, Yesus menegaskan bahwa yang datang untuk memohon lalu dijawab dan dikabulkan adalah para sahabat Yesus. Nah, bagaimana dengan kita? Apakah selama ini kita sudah bersahabat dengan Yesus atau belum? Kita dapat melihat dan merenungkan apakah kita sering menuntut Yesus yang bekerja sesuai dengan yang kita inginkan atau justru kita membiarkan Yesus bekerja memberikan yang terbaik untuk kita? Apakah kita sudah menjalankan apa yang Yesus perintahkan dalam hidup ini? Apakah kita sudah rutin menyantap Tubuh-Nya yang diserahkan kepada kita? Apakah kita sudah rutin memperbaiki relasi kita dengan-Nya melalui Sakramen Rekonsiliasi? Bahkan, apakah kita sudah bisa memahami dan menerima rancangan-Nya dalam hidup kita? Sahabat macam apa kita ini yang selalu meminta untuk dipahami daripada mau memahami?

Dalam Bacaan Injil, Yesus juga menyampaikan kepada kita perihal meminta Roh Kudus untuk menemani, membimbing, menginspirasi, dan menuntun langkah hidup kita. Nah, apakah kita sudah meminta Roh Kudus itu? Meminta Roh Kudus terwujud dalam doa-doa yang kita haturkan. Misalnya : kita lebih meminta kekuatan untuk menghadapi permasalahan-permasalahan dalam hidup ini, ketimbang meminta Yesus yang hadir dan menyelesaikannya; kita lebih meminta rahmat untuk dapat tetap mencintai dan mengasihi orang-orang yang membenci dan menggosipkan kita, ketimbang meminta agar Tuhan mengubah orang itu; kita lebih meminta kesetiaan untuk memanggul salib, ketimbang meminta Tuhan mengangkat salib itu dari hidup kita.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Mari kita bersama-sama menilik hati dan juga pengalaman yang terjadi selama ini. Jangan-jangan sebenarnya semua doa dan permohonan kita sudah dikabulkan oleh Bapa dalam bentuk yang lain. Hanya saja, mungkin, kita yang kurang bersyukur karena doa-doa itu dijawab dengan cara yang berbeda karena Bapa memberikan apa yang terbaik untuk kita, bukan apa yang menyenangkan kita. Tentu hal ini dapat diteliti, meski tidak mudah. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama memohon rahmat dari Bapa agar kita menyadari bahwa doa-doa kita selalu dijawab dan dikabulkan oleh Bapa.

Selamat merenung dan memohon rahmat dari Bapa.

Selamat berjuang membangun relasi yang intim, personal, dan mendalam dengan Yesus, Sang Guru.


Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat

Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button