TinjauAds
Mo IgnasTinjau

Renungan Katolik Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga, Minggu 10 Agustus 2025

Dibaca dalam waktu3 Menit, 5 Detik

TINJAU – “Maria, Teladan Iman.” Bacaan-bacaan: Bacaan I – Why. 11:19a; 12:1-6a.10ab; Bacaan II – 1 Kor. 15:20-26; Bacaan Injil – Luk. 1:39-56.

Pada bagian awal Injil Lukas, kita akan menemukan 3 kidung besar, yakni Kidung Zakharia; Kidung Maria; dan Kidung Simeon. Dalam tradisi suci Gereja, ketiga kidung ini merupakan bagian inti dari doa Ibadat Harian, yang biasa dikenal dengan doa Brevir. Doa ini wajib didoakan setiap hari oleh para klerus dan umat yang memiliki buku doa Brevir ini.

Dalam Ibadat Pagi (Laudes), kita diajak mengidungkan Kidung Zakharia. Kidung Zakharia mengajak kita bersukacita dan bersyukur di pagi hari atas kehadiran Yesus di dunia ini. Dalam Ibadat Malam, sebagai Ibadat Penutup Hari (Completorium), kita diajak mengidungkan Kidung Simeon. Kidung Simeon mengajak kita untuk menyukuri segala sesuatu yang telah terjadi dan mengajak kita menyadari serta waspada akan kematian yang bisa menjemput sewaktu-waktu. Pada Ibadat Sore (Vesper), kita diajak mengidungkan Kidung Maria. Kidung Maria di senja hari mengajak kita belajar dari Bunda Maria sebagai teladan ketaatan iman yang sejati. Sukacita Bunda Maria adalah sukacita seorang hamba yang melakukan kehendak Allah dengan setia.

Mari kita perlahan tapi pasti mendaraskan atau menyanyikan Kidung Maria perlahan-lahan. Mari kita rasakan Sang Bunda yang merasa kecil di hadapan Allah, namun merasa sungguh dikasihi secara luar biasa. Dalam kidung sukacita itu, kita dapat menemukan pergulatan hati Bunda Maria sebagai seorang hamba yang dengan setia menjalankan kehendak Allah.

Dalam kidung itu, kita dapat menemukan pergulatan hati Bunda Maria yang harus melahirkan Yesus, Sang Guru dan Penyelamat, di kandang yang sederhana; saat Bunda Maria bersama Bapa Yosef dan Yesus kecil harus bersusah-payah mengungsi ke Mesir; saat Bunda Maria harus kehilangan suaminya dan anak tunggalnya yang berkelana menjalankan apa yang Allah kehendaki; saat Bunda Maria menyimpan kesedihan hatinya ketika mendengar fitnah dan tuduhan pada anaknya; saat Bunda Maria menangis dalam diam ketika menerima dan memangku jenazah anaknya yang wafat di kayu salib; juga saat Bunda Maria menampung para rasul di rumahnya karena mereka dikejar-kejar oleh para penguasa. Ketaatan iman memang tidak pernah mudah. Tetapi, Bunda Maria menerima, menanggung, dan menjalankan itu semua dengan penuh kesetiaan pada Allah. Semuanya itu pun dijalani oleh Bunda Maria dengan penuh sukacita. Dengan ketaatan iman yang sedahsyat itu, bukankah Bunda Maria memang pribadi yang Istimewa?

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Mari kita mendaraskan atau menyanyikan Kidng Maria saat kita merasa bahwa rancangan Allah terlalu berat untuk kita; ketika kita merasa begitu kecil dan tertimbun dunia yang begitu besar; ketika kita kehilangan orang-orang yang kita cintai; ketika hidup berkeluarga atau hidup panggilan yang kita pilih mengalami permasalahan demi permasalahan; juga ketika kita merasa bahwa salib yang harus dipanggul terlalu berat untuk kita peluk.

Jangan pernah lupakan bahwa Bunda Maria ikut menemani setiap langkah hidup kita. Ia menanggung ketaatan iman yang sama dengan kita, bahkan lebih berat. Kita tidak pernah ditinggalkan sendirian. Oleh karena itu, saat segala sesuatunya lebih berat, larilah ke pelukan Bunda Maria yang akan memelukmu dengan kasih seorang ibu dan daraskanlah atau nyanyiankanlah Kidung Maria ini karena Bunda Maria sudah memberi keteladanan yang luar biasa perihal menjalani apa yang Allah kehendaki dengan ketaatan iman yang luar biasa. Tidaklah mengherankan bagi kita bahwa dengan iman yang sedemikian luar bias aitu, Bunda Maria diangkat ke surga, dimahkotai, dan menerima gelar sebagai Ibu kita semua. Bahkan, Bunda Maria diberi gelar sebagai Ratu Surga yang begitu mencintai anak-anaknya yang masih berjuang dan berziarah di bumi ini.


Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat

Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button