Renungan Katolik Hari Minggu Biasa III, Minggu Sabda Allah 26 Januari 2025

TINJAU – “Akrab dengan Kitab Suci, Dekat dengan Tuhan”
Bacaan-bacaan:
Bacaan I : Neh. 8:3-5a.6-7.9-11
Bacaan II : 1 Kor. 12:12-30
Bacaan Injil : Luk. 1:1-4; 4:14-21
Sewaktu masih usia kanak-kanak, salah satu nasihat dari orangtua yang selalu saya ingat adalah “Jangan pernah mau kalau diajak pergi oleh orang yang tidak dikenal!” Melalui nasihat ini, saya belajar untuk menjadi lebih waspada terhadap lingkungan sekitar dan sebisa mungkin menghindari kontak dengan orang-orang yang mungkin dirasa memiliki niat tidak baik kepada saya. Rasa-rasanya nasihat dari orangtua semacam ini pun masih sangat relevan untuk zaman sekarang. Nah, nasihat dari orangtua ini juga dapat kita renungkan dan refleksikan terkait dalam hidup rohani kita. Kalau kita saja tidak mau ikut pergi dengan orang yang tidak dikenal, lantas apakah selama ini kita mengenal dan mampu berelasi intim, mendalam, dan personal dengan Tuhan Yesus yang kita imani?
Gereja Katolik memiliki 3 cara agar umat mampu mengenal, dekat, dan menjalin relasi yang intim, personal, dan mendalam dengan Tuhan Yesus. Cara pertama, melalui Magisterium Gereja. Caranya sederhana, kita hanya perlu membaca dokumen-dokumen resmi yang dikeluarkan oleh kepausan seraya mencoba menghidupinya. Cara lainnya adalah mendengarkan homili dan pengajaran yang diberikan oleh para imam. Jika hal ini masih dirasa sulit, kita coba lihat cara yang kedua.
Cara kedua, melalui Tradisi Suci. Caranya sederhana, kita hanya perlu mempelajari tradisi-tradisi suci yang dimiliki oleh Gereja sejak zaman para rasul, zaman Gereja Perdana, sampai saat ini. Dengan mempelajari dan mencoba menerapkannya dalam hidup, tentu kita dapat terbantu untuk dapat memahami relasi para rasul dengan Yesus, Sang Guru. Jika hal ini juga masih dirasa sulit karena harus bertanya tradisi-tradisi yang mana saja, ya mari kita coba cara yang ketiga.
Cara ketiga, melalui Kitab Suci. Kita tinggal membaca Kitab Suci saja. Syukur kalau pernah membaca Kitab Suci secara khatam mulai dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu. Setelah membaca perikop-perikopnya, kita tinggal mengambil inspirasi dan refleksi yang bisa kita ambil lalu menerapkannya dalam hidup. Tentu kita sepakat bahwa cara ketiga ini lebih familier dan lebih mudah dijalankan serta dihayati.
Cara paling sederhana untuk mengenal serta menjalin relasi yang personal dengan Tuhan Yesus adalah dengan membaca Kitab Suci. Sejak Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu, kalau kita peras dan sarikan, kita menemukan bahwa semuanya mengarah pada Tuhan Yesus sendiri. Melalui pembacaan dan permenungan Kitab Suci ini, kita dapat lebih mengenal Tuhan Yesus yang kita imani.
Setelah mengenal, tentu langkah selanjutnya adalah mengikuti. Cara paling sederhana untuk mengikuti Tuhan Yesus adalah minta diri untuk dibaptis dan hiduplah seperti Yesus. Toh, Tuhan Yesus pernah bersabda bahwa cara untuk mengikuti Dia adalah menyangkal diri; memikul salib; dan mengikuti-Nya ke mana pun Ia pergi. Rasanya sederhana, mudah, dan sederhana. Namun demikian, mengapa rasa-rasanya hal ini masih sulit untuk dijalankan? Agaknya jawaban yang paling pas adalah karena kita tidak tahu harus memulai dari mana.
Pada Minggu Sabda Allah, saya mengajak kita semua untuk lebih akrab dengan Kitab Suci. Karena melalui Kitab Suci, kita dapat lebih mengenal dan mampu berelasi yang intim, personal, dan mendalam dengan Tuhan Yesus yang kita imani.
Ketika membaca Kitab Suci, jangan terlalu dipikirkan ini maknanya apa, mengapa ditulis demikian, siapa target pembaca tulisan ini, dan sebagainya. Ketika membaca Kitab Suci, langsung saja merenungkan sabda ini berbunyi atau berpesan apa padaku? Tuhan ingin apa dariku melalui sabda yang telah kubaca. Dengan demikian, perlahan tapi pasti, kita dapat lebih akrab dengan Kitab Suci dan tidak merasa kesulitan untuk lebih dekat dengan Tuhan Yesus yang kita imani.
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









