TinjauAds
Mo Ignas

Renungan Katolik Jumat Agung, 18 April 2025

Dibaca dalam waktu3 Menit, 45 Detik

TINJAU – “Dalam Kekelaman, Allah Tetap Menemani”

Bacaa-bacaan: 

Bacaan I         : Yes. 52:13-53:12

Bacaan II        : Ibr. 4:14-16.17.25

Bacaan Injil    : Yoh. 18:1-19:42

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Ketika Yesus menderita, sengsara, wafat, dan dimakamkan sampai akhirnya IA bangkit dan menampakkan diri, para murid mulai masuk dan mengalami momen-momen paling kelam dalam hidup mereka. Momen ‘hitam’ yang rasanya enggan untuk dialami oleh siapapun. Rupanya pengalaman ‘hitam’ dan kekelaman ini dihadirkan oleh Gereja dalam Perayaan Liturgi. Hari ini adalah Hari Jumat Agung, momen saat di dalam Gereja tidak boleh ada perayaan apapun, kecuali Sakramen Rekonsiliasi dan Sakramen Perminyakan Orang Sakit. Seorang Mesias yang sudah lama dinanti-nantikan ternyata harus takluk juga pada kematian. Momen sepi dan sunyi. Saat Tuhan rasanya meninggalkan segenap umat-Nya dan penebusan tidak berjalan sesuai harapan manusia.

Bahkan momen ‘hitam’ yang kelam ini pun dialami oleh Gereja setelah Yesus naik ke surga. Bagaimana tidak?! Kita tentu ingat bahwa awal perjalanan Gereja diwarnai penganiayaan. Bahkan, pada zaman ini pun beberapa kali Gereja mengalami penderitaan. Pendirian Gereja banyak ditentang; Kerusuhan di dalam Gereja; Teror dan Bom yang mengarah pada Gereja; Pembakaran Gereja; sampai pertentangan di dalam Tubuh Gereja sendiri. Mari kita bertanya-tanya mampukah kekelaman itu memadamkan Api Roh Kudus? Tidak! Karena Yesus Kristus pun mengalami pengalaman kekelaman yang sangat ‘hitam’ itu tanpa sedetik pun keilahian-Nya padam.

Mari kita memasuki relung-relung hati kita. Kita lihat pengalaman-pengalaman ‘hitam’ yang kelam yang telah kita alami selama ini. Pengalaman-pengalaman kekelaman itu acapkali membuat kita lebih mudah menggerutu; lebih mudah menghakimi Tuhan yang tidak peduli dengan kehidupan kita; lebih mudah memutuskan untuk tidak berdoa lagi dengan alasan ‘untuk apa berdoa? toh masalah saya tidak selesai dan hidup saya begitu-begitu saja’; Ungkapan kekecewaan itu muncul seperti yang dialami para murid yang hari-hari ini pun masuk dalam momen ‘hitam’ karena Guru mereka takluk pada kematian.

Namun demikian, agaknya kita lupa bahwa sebenarnya Tuhan Yesus lahir ke dunia ini untuk menemani, menuntun, dan memberkati kita saat kita masuk dalam pengalaman-pengalaman ‘hitam’ yang kelam dalam hidup ini. IA telah menunjukkan kepada kita bahwa dalam kekelaman yang paling pekat, yakni kematian, Yesus tidak kehilangan keilahian-Nya. Kita dengan mudah terpaku untuk meratapi hidup yang tidak baik-baik saja. Jangan-jangan kita lupa bahwa seringkali penderitaan yang paling kelam adalah panggilan dari Yesus sendiri pada kita agar kita kembali ke pelukan-Nya yang hangat dan menenteramkan. Buktinya, kalau kita mau membaca Kitab Suci dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu, kita menemukan bahwa penderitaan Bangsa Israel sebagai Bangsa yang terpilih; Bangsa yang menjadi kesayangan Allah; dialami sebagai panggilan dari Allah yang rindu agar mereka kembali pada pelukan-Nya yang mesra, hangat, dan menenteramkan.

Oleh karena itu, dalam pengalaman hidup yang ‘hitam’ dan kelam itu, kita diajak untuk kembali pada iman kita dan berserah pada Allah sang perancang dinamika hidup kita. Apakah kita masih tetap beriman pada Allah saat pengalaman ‘hitam’ yang kelam dan meyesakkan itu hadir dalam hidup kita?

Tidakkah kamu tahu, Gereja berulang kali mengalami pengalaman ‘hitam’ yang kelam dan amat sangat menyesakkan hampir 300 tahun saat masa-masa awal Gereja berjalan. Tiga ratus tahun Gereja mengalami penganiayaan dan persekusi. Bahkan, banyak martir-martir yang dilahirkan karena iman mereka tetap pada pelukan Allah.

Bila hari-hari ini kita mengalami kedukaan yang luar biasa; kita mengalami pengalaman ‘hitam’ yang menyesakkan, mari kita satukan pengalaman itu dengan pengalaman duka dan kecemasan Gereja seluruh dunia di sepanjang sejarah Gereja. Mari kita masuk dalam kesunyian hati. Mari kita sejenak mematikan ponsel kita yang seringkali justru menjauhkan kita dari pelukan Allah. Lalu, marilah kita berdoa seraya meratapi dosa dan kesalahan kita selama ini. Pandanglah Salib. Pandanglah DIA yang mau menemanimu menjalankan penderitaan ini.

Lalu, bila kehendak dan rencana-Nya terlampau ‘hitam’ dan kelam untuk kita pahami; bila salib hidup ini sangat berat untuk kita panggul, mari kita mendoakan, merenungkan terus berulang-ulang kata-kata Yesus ketika berdoa di Taman Getsemani “Bapa, bukan kehendakku yang tejadi, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi..”

Mari pulang dalam pelukan Allah yang mesra

Allah tetap setia menunggu kepulangan pertobatan kita. Sama seperti Bapa yang setia menunggu anak bungsunya pulang ke rumah yang menawarkan kasih, sukacita, damai sejahtera, dan pelukan yang hangat dan mesra.


Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat

Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button