TinjauAds
Mo Ignas

Renungan Katolik Hari Minggu Biasa VI, 16 Februari 2025

Dibaca dalam waktu3 Menit, 21 Detik

TINJAU – “Kartu Identitas Seorang Kristiani”

Bacaan-bacaan:

Bacaan I         : Yer. 17:5-8

Bacaan II        : 1 Kor. 15:12.16-20

Bacaan Injil    : Luk. 6:17.20-26

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Setiap penduduk yang sudah masuk dalam kategori usia dewasa, pasti akan mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP). KTP ini diperlukan untuk menyatakan bahwa orang yang bersangkutan adalah sungguh-sungguh penduduk yang sudah dewasa. Oleh karena itu, melalui KTP ini, orang tersebut dapat menikmati layanan publik yang memang dikhususkan bagi warga yang sudah dewasa. Mulai dari proses pembukaan rekening, pembayaran pajak, transaksi jual-beli, pengurusan ijin, sampai layanan kesehatan. Oleh karena itu, sebagai warga negara yang baik, kita yang sudah memenuhi syarat dan kriteria sebagai usia dewasa, tentu akan mengurus apa-apa saja yang diperlukan untuk mendapatkan KTP. Lantas, pertanyaan yang cukup menggelitik, sebagai seorang Kristiani yang sudah masuk dalam kriteria usia dewasa, apa kartu identitas kita?

Bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan sebenarnya pararel dengan Injil Matius Bab 5, yakni Kotbah Di Bukit. Dalam Bacaan Injil, Yesus secara gamblang memaparkan kartu identitas seorang Kristiani yang sudah masuk dalam kriteria dewasa. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama berjuang menghidupi kartu identitas itu.

Bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan tadi, tidak dapat kita baca dan pahami begitu saja. Perlu permenungan tersendiri dalam membacanya. Jika tidak, kita akan jatuh dalam kesalah-pahaman saat membacanya. Misalnya saja kita akan berlomba-lomba menjadi miskin, lapar, menangis, dan ditolak oleh orang banyak. Hal ini disebabkan kita ingin dipuji oleh Tuhan Yesus sebagai yang berbahagia. Tidak. Bukan hal yang seperti itu yang hendak disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam membeberkan kartu identitas sebagai orang Kristiani.

Jika kita baca lebih tenang, kita akan menemukan bahwa inti dari kartu identitas seorang Kristiani yang sudah dewasa, sebagaimana disampaikan oleh Yesus, adalah mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita. Yesus menggunakan gambaran orang miskin, menderita, lapar, berduka, menangis, dan ditolak banyak orang karena mereka ini adalah gambaran orang-orang yang mau datang, berserah, dan mengandalkan Tuhan dalam hidup mereka.

Sedangkan gambaran orang kaya, orang yang kenyang, orang yang tertawa yang ditegur oleh Yesus adalah gambaran orang-orang yang tidak mau mengandalkan Tuhan. Bagaimana tidak? Seringkali mereka yang dinilai berkecukupan itu justru merasa bahwa segala sesuatunya berjalan seturut dengan apa yang mereka kehendaki, bukan seturut dengan apa yang Tuhan kehendaki. Contoh sederhana saja banyak orang-orang yang merasa memiliki kuasa dan harta dengan mudah mempermainkan orang-orang yang berkekurangan. Bahkan, sudah bukan rahasia umum lagi bahwa segala sesuatunya akan lancar jika ada uangnya. Ini adalah gambaran orang-orang yang ditegur oleh Yesus karena mereka merasa bisa mengendalikan semua-semuanya.

Nabi Yeremia dalam Bacaan I pun menegaskan kembali kepada kita bahwa diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan dan terkutuklah orang yang mengandalkan manusia. Memang jika kita mengandalkan Tuhan, mengikuti kehendak-Nya, jalan yang ditawarkan kepada kita adalah melalui proses yang panjang. Bukan jalan yang instan sebagaimana kita mau. Tetapi, toh jika kita mau mengikuti jalan itu, kita dihantar oleh Tuhan pada keselamatan dan sukacita yang abadi. Bukankah segala sesuatu yang diatur oleh Tuhan menjalani prosesnya masing-masing dan tidak ada yang instan? Buktinya, lihatlah proses di alam semesta ini. Semuanya berjalan seturut prosesnya dan tidak ada yang instan. Matahari terbit dari Timur dan perlahan-lahan menuju ke barat. Bayi perlu belajar jalan selangkah demi selangkah untuk bisa di kemudian hari berlari. Semuanya ada proses.

Kartu identitas kita sebagai seorang Kristiani yang dewasa adalah mengandalkan Tuhan dalam hidup ini. Bagaimana dengan kita? Apakah selama ini hidup kita sudah mengandalkan Tuhan atau justru kita mengandalkan yang lainnya yang bukan Tuhan?

Mengikuti jalan Tuhan memang tidak mudah, tetapi tidak berarti mustahil untuk dijalankan. Mari kita selangkah demi selangkah mengandalkan Tuhan karena melalui proses dari Tuhan, kita dihantar pada keselamatan dan sukacita yang abadi.


Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat

Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button