Renungan Katolik Minggu Palma, 13 April 2025

TINJAU – “Dari Hosana Menuju Salib”
Bacaan-bacaan:
Bacaan I : Yes. 50:4-7
Bacaan II : Flp. 2:6-11
Bacaan Injil : Luk. 22:14-23:56
Dalam kesibukkan mempersiapkan Perayaan Ekaristi Minggu Palma, saya menyempatkan diri duduk paling belakang di gereja paroki. Saya hanya diam seraya memandang salib besar ada di atas Tabernakel. Saya menghela nafas cukup panjang. Saya tahu bahwa tubuh ini sudah agak lelah dengan berbagai macam kesibukkan. Lalu, tetiba Tuhan Yesus datang dan duduk di sebelah saya.
Tuhan Yesus melihat saya dan tersenyum, “Kamu lelah ya. Gak apa. Istirahat dulu duduk di sini sejenak sambil kita ngobrol.”
Saya menjawab, “Hehehe.. iya, sepertinya badan ini sudah mulai lelah. Wah, terima kasih ya sudah mau duduk bersama saya di sini.” kembali Tuhan Yesus hanya tersenyum seraya menemani saya memperhatikan para petugas liturgi yang sedang gladi untuk Perayaan Ekaristi Minggu Palma.
“Sus, bolehkah saya bertanya?” Saya menoleh pada Tuhan Yesus.
“Kamu mau bertanya apa?” Tuhan Yesus tersenyum dan memperhatikan saya.
“Sebenarnya, wajah-Mu waktu disambut di Yerusalem itu seperti apa? Senang? Bahagia? Takut? Atau bagaimana? Mereka yang menyambut-Mu kan mereka juga yang akhirnya berteriak ‘Salibkan! Salibkan Dia!” tanya saya seraya memperhatikan wajah Tuhan Yesus.
“Kenapa? Kamu menyadari Perayaan Minggu Palma adalah Perayaan Ironi ya?” Tuhan Yesus menjawab lembut.
“Aku diutus untuk menemani manusia menjalankan penderitaan mereka. Memang mereka yang menyambut-Ku, mereka jugalah yang akhirnya berteriak ingin menyingkirkan-Ku. Meski begitu, Aku ingat tugas perutusan dari Bapa. Oleh karena itu, Aku ya turut bersukacita saat duduk di keledai dan disambut memasuki Yerusalem. Memasukki penderitaan-Ku untuk keselamatan mereka.”
***
Perayaan Minggu Palma adalah perayaan ironi. Ada perarakan meriah, namun ada pula Kisah Sengsara. Kontras yang begitu tajam antara penampakan luar dengan makna yang ada di dalam. Di luar, orang-orang berkerumun menyambut Yesus. Tentu mereka tidak memahami apa yang menjadi pergulatan hati Tuhan Yesus. Padahal, selang seminggu, sambutan ‘Hosana’ berubah menjadi teriakan ‘Salibkan Dia!’. Tentu hal ini terjadi seturut dengan kehendak Bapa. Tetapi, dari sisi manusiawai, kita dapat mengetahui bahwa ironi ini terjadi karena orang banyak hanya berhenti di permukaan wajah saja. Mereka tidak mengerti dan mengenal wajah Yesus saat disambut itu. Wajah Yesus yang sedih itu tidak Ia tampakkan. Wajah Yesus yang sedih itu hanya ditampakkan pada para rasul-Nya ketika perjamuan malam terakhir.
Tanpa sadar, kita acapkali menjadi seperti kerumunan orang banyak yang mengarak Yesus saat memasuki Kota Yerusalem; mengarak Yesus saat memasuki penderitaan-Nya. Kita menilai bahwa Yesus bahagia dan sukacita saat disambut semeriah itu oleh kerumunan orang banyak. Padahal, kita tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh Yesus. Ya, kita dengan mudah sering menilai sesuatu hanya dari ‘wajah’ yang ditampilkan di muka umum. Lantas, merasa sudah mengetahui situasi ini dan orang-orang yang bergulat di dalamnya. Lantas, dengan mudah mengkritik, menilai, dan mengahikim. Bahkan, menolak dan menertawakan.
Oleh karena itu, jangan-jangan sebenarnya kita tidak mengenali Yesus yang kita ikuti. Jangan-jangan kita hanya tahu Yesus dari wajah yang Ia tampilkan saja. Padahal, ketika kita mengenal seseorang, kita akan tahu dan turut merasakan apa yang dirasakan oleh hatinya; mengenali apa yang menjadi pemikirannya; dan mau mendengarkan apa yang tak dapat terucapkan oleh mulutnya.
Pertanyaan permenungan yang menarik pada Minggu Palma ini, apakah kita sungguh mengenal dan berelasi dengan Tuhan Yesus atau tidak? Jangan-jangan kita hanya menilai Yesus dari wajah yang Ia tampakkan saja, tetapi kita tidak mau merasakan apa yang dirasakan hati-Nya. Buktinya saja, saat doa kita dikabulkan, kita dengan mudah mengatakan Allah sungguh amat baik. Tetapi, saat doa kita tidak dikabulkan, dengan mudah kita mengatakan Allah sudah menjauh; Allah tidak mau mendengarkan; Allah tidak peduli lagi dengan saya; Buat apa saya berdoa lagi kalau begitu. Bukankah ini menjadikan kita sama seperti orang-orang yang berkerumun menyambut Yesus secara meriah di luar. Lalu, saat di dalam kita berteriak pula ‘Salibkan Dia!’
Nah, mari kita bertanya pada diri hati kita masing-masing. Kita ada dimana? Apakah kita termasuk orang-orang yang hanya dengan mudah menilai, mengkritik, mengakimi seseorang karena wajah yang ditampakkannya saja? Itu berarti kita tidak ada bedanya dengan kerumunan orang yang menyambut Yesus memasukki Kota Yerusalem. Atau, apakah kita ikut menyertai rombongan Yesus, lalu kita pun mengenali Yesus bukan dari apa yang ditampakkan, melainkan mengenali apa yang tidak ditampakkan oleh-Nya?
Selamat hari Minggu Palma.
Selamat memasuki Pekan Suci.
Selamat menemani Yesus dalam misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya.
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









