Renungan Katolik, Minggu Paskah IV – Hari Minggu Panggilan Sedunia, 11 Mei 2025

TINJAU – “Menuju Kekudusan: Memaknai Panggilan Hidup Kita”
Bacaan-bacaan:
Bacaan I : Kis. 13:14.43-52
Bacaan II : Why. 7:9.14b-17
Bacaan Injil : Yoh. 10:27-30
Hari ini adalah Hari Minggu Paskah IV yang dikenal juga sebagai Hari Minggu Panggilan Sedunia. Tentu di banyak paroki-paroki diadakan kegiatan-kegiatan yang menunjang minggu panggilan. Misalnya saja sharing dari para kaum berjubah mengapa akhirnya mereka memutuskan untuk menjalani hidup panggilan khusus. Ada juga paroki-paroki yang menggelar basar panggilan. Setiap biara ataupun rumah formasi calon imam atau suster atau bruder diberi stand untuk mengenalkan spiritualitas biara mereka. Tentu minggu yang menyenangkan karena bisa lebih mengenal spiritualitas bahkan pergulatan yang dialami oleh kaum berjubah.
Beberapa hari yang lalu, dalam perjalanan pulang ke Cirebon, saat saya menyetir, saya ngobrol santai, ringan, dan penuh makna dengan Tuhan Yesus, yang menemani saya selama perjalanan. Saya bertanya pada Tuhan Yesus mengapa setiap minggu panggilan selalu yang dipromosikan adalah hidup dan spiritualitas dari para kaum berjubah. Mengapa panggilan hidup berkeluarga agaknya jarang mendapat tempat untuk dipromosikan. Bahkan, beberapa anak muda di zaman sekarang, rasanya anti untuk memulai hubungan yang mengarah untuk hidup berkeluarga. Saya melihat Tuhan Yesus tersenyum dan tertawa mendengar pertanyaan yang saya ajukan. Lalu, Tuhan Yesus mengajak saya untuk merenungkan sebenarnya apa yang menjadi panggilan hidup setiap orang.
Dalam pembicaraan dengan Tuhan Yesus, saya menemukan dan memahami bahwa panggilan hidup setiap orang adalah berjalan menuju pada kekudusan. Nah, jalan untuk menuju pada kekudusan itu yang beragam. Ada yang memilih hidup selibat dengan menjadi Imam, Suster, Bruder, atau awam selibat. Ada juga yang memilih hidup berkeluarga. Semuanya itu adalah jalan-jalan yang ada untuk menuju pada kekudusan. Setiap orang tinggal memilih jalan hidup mana yang hendak dipilihnya untuk berjalan menuju pada kekudusan. Hidup kudus berarti mau hidup serupa dengan Kristus.
Oleh karena itu, pertama-tama yang bis akita lakukan adalah membuat komitmen untuk hidup kudus. Caranya adalah merayakan sakramen-sakramen, terlibat dalam hidup bermasyarakat maupun pelayanan di Gereja. Hidup yang terarah pada kekudusan inilah yang akan membuat kita menjadi bijak dalam memilih, mana panggilan hidup yang tepat. Bila memang ada yang memilih hidup berkeluarga atau berencana hidup berkeluarga, jangan lupa mengenalkan pada anak-anak mengenai hidup panggilan khusus sebagai Imam atau biarawan-biarawati. Ajak anak-anak untuk aktif di Gereja.
Terkait pertanyaan saya pada Tuhan Yesus, Tuhan Yesus menjawab bahwa kalau setiap keluarga itu baik dan mengarah pada kekudusan, ini merupakan suatu promosi hidup berkeluarga yang lebih dari cukup. Bagaimana tidak? Tayangan-tayangan TV, tayangan di media sosial, semua selalu menawarkan perihal hidup berkeluarga. Tentu secara otomatis anak-anak mengenal dan tertarik untuk hidup berkeluarga. Apalagi kalau kita mengingat pengajaran St. Paus Yohanes Paulus II mengenai hidup berkeluarga. St. Paus Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa hidup berkeluarga dalam perkawinan yang sah itu adalah jalan menuju pada kekudusan karena setiap manusia mencapai kesempurnaannya sebagai manusia saat ia hidup dalam ikatan perkawinan yang sah dan membawa keluarganya itu pada Tuhan.
Mungkin muncul pertanyaan apakah hidup khusus sebagai kaum selibat berarti hidupnya tidak sempurna? Hidup sebagai kaum selibat itu juga merupakan hidup yang mengarah pada kekudusan. Bagaimana tidak? Hidup kaum selibat adalah bentuk kesaksian yang nyata bahwa di Kerajaan Surga nanti setiap orang tidak kawin dan tidak dikawinkan. Maka hidup kaum selibat adalah suatu kesaksian kebahagiaan hidup di Kerjaan Surga nanti. Oleh karena itu, baik hidup berkeluarga maupun hidup selibat, keduanya baik dan mengarah pada kekudusan. Kekeliruan kita adalah berat sebelah melihat bahwa hidup yang baik hanyalah hidup para kaum selibat.
Oleh karena itu, mari kita bersama-sama memohon bimbingan Roh Kudus untuk membantu dalam memilih jalan yang mana yang hendak ditempuh untuk berjalan pada kekudusan. Karena jalan keduanya, baik hidup berkeluarga maupun hidup selibat bukanlah pelarian karena menolak jalan yang satu dan memilih jalan yang lain.
Selamat berjuang dalam perjalanan menuju pada kekudusan.
Mari kita saling mendoakan sehingga jalan yang dipilih sungguh menghantarkan kita pada kekudusan.
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









