Renungan Katolik, Pesta Pembaptisan Tuhan, Minggu 12 Januari 2025

TINJAU – “Panggilan untuk Hidup Baru dalam Roh Kudus”
Bacaan-bacaan:
Bacaan I : Yes. 40:1-5.9-11
Bacaan II : Tit. 2:11-14; 3:4-7
Bacaan Injil : Luk. 3:15-16.21-22
Sebagai warga Negara Indonesia, kita tetap perlu memberi apresiasi yang luar biasa kepada Presiden Ke-7 Indonesia, yakni Pak Joko Widodo, di samping memang sedang banyak berita yang bermunculan mengenai beliau. Mulai dari berita yang positif sampai dengan berita-berita yang negatif. Meski demikian, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Pak Joko Widodo memberi standar yang tinggi dalam hal cara menjadi pejabat pemerintahan yang baik. Salah satu yang membekas dalam memori kita adalah Pak Joko Widodo sangat terkenal dengan gaya blusukannya. Metode blusukan ini rupanya mampu mengikis jarak yang begitu jauh antara pemerintah pusat dengan warga masyarakat biasa. Bahkan, warga masyarakt bisa merasa dekat dengan pemimpin mereka. Warga masyarakat pun tak segan-segan menyuarakan kegelisahan, kecemasan, kesulitan, dan permasalahan-permasalahan mereka kepada pemimpinnya. Metode blusukan ini pun mengubah gaya kepemimpinan para pejabat. Hal yang paling terasa adalah para pejabat pemerintahan pun dapat langsung mengetahui apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan akhirnya membuat kebijakan-kebijakan untuk menjawab serta mengatasai kesulitan, kegelisahan, dan kecemasan warga masyarakat.
Sebagai orang Katolik, metode blusukan ini sebenarnya sudah digunakan oleh Allah dalam menyapa dan menyelamatkan manusia. Dalam khazanah Kekatolikan, metode blusukan ini lebih dikenal dengan sebutan inkarnasi. Saat Sang Sabda mau hidup, tinggal, menjadi manusia, dan tinggal bersama dengan manusia. Alalh yang berada di Kerajaan Surga sana, mungkin terasa jauh dari manusia, melalui Sang Sabda yang berinkarnasi, sekarang menjadi dekat, berjalan, dan dapat dipahami oleh manusia. Dengan demikian, kita dapat merefleksikan bersama bahwa Yesus, yang lahir pada hari Natal kemarin, hadir, lahir, dan menjadi manusia, bukan untuk dunia yang besar, melainkan untuk diri kita masing-masing. Karena Ia mau menemani kita berziarah di dunia ini dan menemani kita menjalani penderitaan hidup kita di dunia.
Hari ini Gereja merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Dalam tradisi, pembaptisan digunakan untuk menyucikan seseorang dari dosa-dosanya, terutama dari dosa asal, dan akhirnnya mengangkat orang tersebut menjadi anak-anak Allah. Baptisan Yohanes pun, jika kita telusuri, adalah pembaptisan untuk pengampunan dan pembersihan diri dari dosa. Mungkin kita bertanya-tanya, Yesus, Sang Allah Putra, yang menjadi manusia, untuk apa dibaptis? Apakah Yesus berdosa seperti manusia?
Tidak. Yesus tidak berdosa seperti kita manusia yang lemah ini. Pembaptisan Yesus yang dilakukan oleh sepupunya, St. Yohanes Pembaptis, mau menegaskan kepada kita manusia bahwa Yesus mau solider dengan kita manusia. Ia mau merasakan suka-duka, kebahagiaan, kekecewaan, harapan, dan permasalahan hidup manusia. Ia menegaskan bahwa dirinya 100% Allah sekaligus 100% manusia. Ia mau solider dengan manusia dan menemani manusia dalam peziarahan hidup di dunia ini. Ini menjadi rahasia agung yang dibuka kepada kita bahwa Tuhan Allah mau hadir untuk solider dengan kita manusia.
Dengan demikian ada gerak inisiatif dari Allah untuk mau lebih dekat dengan manusia. Lantas, bagaimana dengan kita? Apakah kita menyadari hal ini dan mau bergerak mendekat kepada Allah? Atau kita masih takut untuk datang, dekat, dan berelasi dengan Allah?
Relasi dengan Allah bukan sekadar ditampilkan melalui ucapan maupun tindakan-tindakan rohani. Relasi itu ditampilkan melalui hidup rohani yang dipelihara. Doa, puasa, misa, devosi, dan lain sebagainya adalah suatu bentuk kegiatan rohani. Nah, kegiatan rohani itu perlu diarahkan untuk semakin memupuk dan mengembangkan hidup rohani. Hidup rohani adalah relasi kita dengan Allah.
Cara mengecek apakah hidup rohani, yakni relasi kita dengan Allah sudah terjalin atau belum adalah melalui penghayatan hidup kita. Pertama, bagaimana doa-doa kita apakah sudah ada relasi dalam doa itu atau masih sekadar kata-kata semata tanpa makna? Kedua, apakah kita melibatkan Allah dalam setiap langkah hidup atau tidak? Kalau kedua hal itu sudah dilaksanakan, ya mari kita perdalam lagi relasi itu. Kalau belum, ya mari kita mulai mengusahakannya. Istilah yang biasa saya gunakan dalam hal ini adalah mari kita jatuh cinta pada Allah. Dengan demikian, layaknya orang jatuh cinta, kita selalu ingin berelasi dengan Allah sendiri.
Satu pesan dari saya : Jangan lari menjauh, saat Allah mau hadir, mengenal, dan berelasi denganmu.
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









