Renungan Katolik Minggu Biasa V, Minggu 9 Februari 2025

TINJAU –“Tetap Dekat dengan Allah: Mengatasi Godaan Roh Jahat”
Bacaan-bacaan:
Bacaan I : Yes. 6:1-2a.3-8
Bacaan II : 1 Kor. 15:1-11
Bacaan Injil : Luk. 5:1-11
Seperti kita ketahui, Roh Jahat membenci jika kita semakin mendekatkan diri pada Allah. Roh Jahat pasti akan menggunakan berbagai macam cara, termasuk menggunakan ilusi maupun memborbardir manusia dengan godaan-godaan yang menjadi senjata utamanya, agar kita menjauh, bahkan semakin jauh dari Allah. Kalau kita mau jujur dengan keadaan dan situasi, pintu masuk yang empuk bagi Roh Jahat menyerang kita adalah melalui pikiran kita. Roh Jahat akan mempermainkan pikiran kita agar kita berkesimpulan bahwa jalan yang terbaik adalah jauh dari Allah. Setelah pikiran kita kena dan terpengaruh, Roh Jahat akan mudah membuat kita melakukan dosa, kesalahan, dan tidak mau melakukan pertobatan. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dengan pemikrian kita sendiri. Mari kita waspada, jangan-jangan selama ini pemikiran kita sudah dipengaruhi oleh Roh Jahat.
Inti penyerangannya adalah Roh Jahat ingin agar kita semakin jauh dari Allah. Satu strategi yang sering digunakan oleh Roh Jahat dan tentunya berhasil adalah saat Roh Jahat tidak mampu menjauhkan kita dari Allah, Ia akan membuat kita menjadi sombong secara rohani. Merasa paling suci, merasa paling tahu, merasa paling senior, merasa paling mengetahui segalanya. Oleh karena itu, jika ada sesuatu yang baru, kita akan dengan mudah menghakimi bahwa itu keliru. Kenapa? Karena mungkin saja cara yang baru itu justru cara yang mampu membuat kita semakin dekat dengan Allah. Lantas, apa yang perlu kita lakukan untuk menghadapi serangan Roh Jahat yang demikian luar biasanya? Caranya mudah, simple, sederhana, yakni tidak menjauh dari Allah.
Dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan, kita melihat bagaimana Roh Jahat ingin agar Petrus menjauh dari Yesus. Roh Jahat bermain-main dengan pikiran Petrus bahwa dirinya adalah seorang pendosa dan tidak layak untuk Yesus. Bahkan, Petrus meminta agar Yesus menjauh dari dirinya. Inilah cara yang digunakan oleh Roh Jahat agar manusia jauh dari Allah. Tetapi, Yesus menyerang Roh Jahat itu dengan menjala Petrus sebagai penjala manusia. Peristiwa penjalaan ikan di siang hari itu memporak-porandakan pemikiran Petrus.
Awalnya tentu Petrus merasa paling jago dalam hal penangakapan ikan. Tentu saja, sejak lahir, Petrus adalah seorang nelayan. Pemikiran Petrus saat itu adalah bagaimana mungkin seorang tukang kayu mengetahui cara untuk menjala ikan? Petrus meremehkan bahwa Allah bisa berkarya melalui apa saja. Bahkan, melalui orang-orang yang kita nilai kurang kompeten di bidangnya. Namun demikian, saat Allah berkehendak, apapun dapat terjadi.
Momen penjalaan ikan ini menjadi momen penyadaran dalam diri Petrus bahwa Yesus adalah Sang Mesias yang selama ini dinanti-nantikan. Toh, karya Yesus sebelumnya bukan sekadar menangkap ikan, melainkan Yesus juga mengusir Roh Jahat, menyembuhkan yang sakit, dan mengajar mengenai kasih. Inilah penyadari dalam diri Petrus bahwa Yesus adalah Sang Mesias. Ketika Petrus mengetahui bahwa Yesus adalah Sang Mesias, Petrus justru dilumpuhkan lagi oleh Roh Jahat yang ingin agar Petrus menjauh dari Yesus. Roh Jahat menggunakan pikiran Petrus agar Petrus meminta Yesus menjauh dari dirinya.
Dalam menanggapi Petrus, Yesus semakin mendekatkan diri dengan Petrus dan mengatakan agar Petrus jangan takut. Begitu juga dengan kita. Saat Yesus hadir, memanggil, dan menyapa kita, kita jangan takut lalu pergi. Sikap baik dalam menanggapi panggilan Allah adalah jawaban dari Nabi Yesaya saat ia berhadapan dengan Tuhan yang memanggilnya, “Inilah aku, utuslah aku!”. Sikap dan jawaban Nabi Yesaya menegaskan bahwa meski hidup ini dipenuhi dengan kelebihan dan kekurangan, toh Allah mau memakai kita sebagai perpanjangan tangan-Nya dalam melaksanakan proyek keselamatan-Nya. Tinggal bagaimana respon kita, apakah kita jatuh dalam permainan godaan Roh Jahat atau justru kita kuat untuk semakin mendekat pada Allah? Oleh karena itu, kita perlu waspada dengan pikiran kita sendiri. Jangan-jangan Roh Jahat sudah mempermainkan pemikitan kita.
Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









