TinjauAds
Mo Ignas

Renungan Katolik Pesta Yesus Dipersembahkan Ke Bait Allah, Minggu 2 Februari 2025

Dibaca dalam waktu3 Menit, 22 Detik

TINJAU – “Proyek Keselamatan Allah: Panggilan untuk Beriman”

Bacaan-bacaan:

Bacaan I         : Mal. 3:1-4

Bacaan II        : Ibr. 2:14-18

Bacaan Injil    : Luk. 2:22-40

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Hari ini kita perlu bersyukur karena ada misteri Ilahi yang disampaikan kepada kita. Misteri Ilahi itu adalah pola yang selalu digunakan Allah sejak zaman dahulu kala sampai saat ini ketika Allah hadir, menemani, menyertai, memberkati, dan mengarahkan hidup kita, anak-anak-Nya. Polanya adalah Allah menyampaikan proyek karya keselamatan-Nya kepada manusia. Lalu, Ia akan menemani, menyertai, memberkati, mengarahkan, dan tidak akan meninggalkan manusia dalam proses pengerjaan proyek keselamatan-Nya itu. Respon dari manusia tentu berbagai macam. Respon yang paling umum adalah sukacita mendengar proyek keselamatan itu dan antusias untuk memulainya. Namun demikian, ketika proyek keselamatan itu dimulai, perlahan-lahan manusia mulai mengeluh karena jalan yang harus ditempuh tidaklah mudah. Jalan yang tidak mudah itu membuat banyak orang rasanya menyerah di tengah jalan. Mengapa? Karena jalan utama yang harus ditempuh adalah salib.

Lihat saja pengalaman hidup tokoh-tokoh terdahulu. Bapa Abraham. Ia diberi janji akan diberkati dengan keturunan yang banyak. Tetapi, saat Ishak lahir, Allah meminta agar Abraham mengurbankan Ishak sebagai kurban bakaran. Tentu ada pergulatan dalam hati Abraham. Apakah Abraham menyerah? Tidak. Abraham tetap beriman pada Allah. Pengalaman lain yang bisa kita pelajari adalah Kisah Musa. Musa diberi janji keselamatan bahwa Bangsa Israel akan dibebaskan dari perbudakan. Namun demikian, dalam prosesnya Musa harus melawan Firaun yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri. Belum selesai di situ saja. Musa pun harus bersabar hati menerima keluhan Bangsa Israel saat mereka berjalan di padang gurun. Namun demikian, Musa memiliki iman, harapan, dan kasih yang besar sehingga menjalankan itu semua seturut dengan apa yang Allah kehendaki.

Pola yang digunakan oleh Allah sama. Ia menyampaikan proyek keselamatan-Nya kepada manusia. Lalu, Ia menemani, mendampingi, mengarahkan, dan memberkati manusia untuk berproses menyukseskan proyek keselamatan-Nya itu. Dalam pol aitu, selalu ada salib yang harus dijalani oleh setiap orang.

Hari ini adalah Pesta Yesus dipersembahkan ke Bait Allah. Tokoh-tokoh yang muncul dalam Bacaan Injil pada hari ini pun mengalami pola yang sama. Simeon dan Hana. Mereka berdua saat muda menerima proyek keselamatan Allah, yakni sebelum mereka meninggal dunia, mereka akan melihat Mesias yang lahir ke dunia. Selama waktu penantian itu, tentu tidak mudah karena tidak ada kepastian kapan Mesias akan lahir. Namun demikian, mereka berdua tetap berserah kepada Allah, datang ke Bait Allah setiap hari untuk berdoa, mendekatkan diri pada Allah. Apakah itu mudah? Tentu tidak. Di usia mereka yang sudah lanjut mungkin ada kesulitan-kesulitan tersendiri. Tetapi toh tidak melunturkan sikap iman mereka.

Bunda Maria pun demikian. Dalam Bacaan Injil hari ini, kita mengetahui bahwa sebagai Ibu dari Yesus, Bunda Maria pun mengalami pola misteri Ilahi ini. Ia diberi kabar proyek keselamatan bahwa Ia akan menjadi Ibu dari Yesus. Namun demikian bukan berarti Bunda Maria terbebas dari salib itu. Justru, Bunda Maria dan Bapa Yosef yang memulai proses jalan salib itu. Bagaimana dengan kita?

Tidak semua penderitaan yang kita alami adalah salib. Kenapa? Karena salib itu adalah penderitaan yang berbuah sukacita dan damai. Jika penderitaan yang kita alami membuahkan sukacita dan damai, penderitaan itu adalah salib. Gambaran sederhananya adalah proses persalinan seorang Ibu. Saat ibu itu melahirkan, ini adalah proses yang menyakitkan, tetapi setelah bayi itu lahir, penderitaan saat melahirkan itu membuahkan sukacita dan damai. Nah, jika penderitaan yang dialami tidak membuahkan sukacita dan damai, penderitaan itu adalah penderitaan pada umumnnya.

Syukur kepada Allah misteri Ilahi ini dibukakan kepada kita pada awal tahun. Harapannya adalah agar selama 1 tahun ini, sepanjang tahun 2025, dan terutama selama Tahun Yubelium ini, kita diingatkan bahwa sebagai murid-murid Kristus, salib tidak pernah terhindarkan dari hidup kita. Tinggal kitanya saja, apakah mau bertahan dan beriman dalam menjalani salib yang ada?


Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat

Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button