Sejumlah Warga Tolak ERP Di Jakarta
Hal serupa juga dituturkan oleh Yogi (32), yang juga berdomisili di Bekasi.
“Kurang setuju karena cukup jalan tol aja yang bayar, jangan jalan yang biasa dilewati,” ungkap dia.
Jika setiap hal selalu soal uang, imbuh Yogi, masyarakat yang keberatan dapat memberi penilaian yang buruk bagi kebijakan pemerintah ke depannya.
Adeen (35), berdomisili di Jakarta, juga menyampaikan keberatan atas kebijakan jalan berbayar. Menurut dia, ada kemungkinan masyarakat perlu mengeluarkan uang untuk memasang alat pendeteksi pada mobil atau motor.
“Berarti kan kita harus siapkan alat buat pendeteksi. Enggak mungkin di-tap kayak jalan tol. Pasti pake RFID (Radio Frequency Identification),” ujar dia.
Menurut Adeen, belum tentu orang-orang memiliki bujet untuk membeli RFID. Ia pun tidak menampik, meski mampu membeli RFID, belum tentu orang-orang mengerti cara pemakaiannya jika berkaitan dengan ERP.
“Bingung mau isi saldo di mana, bayar (ERP) seperti apa,” katanya.









