Mengasah Spiritualitas Ala THS-THM
Mengasah spiritualitas ala THS-THM atau organisasi Pencak Pendidikan Katolik Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria Distrik Jakarta menjalankan kegiatan pendadaran 19 anggota di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Cibubur.
Jakarta – Organisasi Pencak Pendidikan Katolik Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria Distrik Jakarta menjalankan kegiatan pendadaran 19 anggota di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Cibubur. Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari sejak tanggal 27 Desember 2022 ini, melibatkan beberapa ranting THS-THM yang ada di Keuskupan Agung Jakarta.
Pendadaran kali ini, dipimpin oleh Joey Kristian, sebagai ketua panitia dari ranting Paroki St. Fransiskus Xaverius. Slogan dari THS-THM,”Pro Patria et Ecclesia”, yang menjadi dasar pendadaran kali ini. Dimana kita diajak untuk mengenal lingkungan kita (bumi Indonesia).
Pro Patria et Ecclesia yang berarti berjuang demi bangsa (tanah air) dan gereja. Dari slogan ini pula kita mengingat salah satu Pahlawan Nasional, Albertus Soegijapranata, yang juga memiliki slogan, “100% katolik 100% Indonesia”.
Selain itu THS dan THM memiliki semboyan perjuangan, Fortiter in Re Suaviter in Modo yang berarti kokoh dalam pendirian namun lembut cara mencapainya. Dengan kata lain sikap yang mau ditampakkan yaitu sikap berani, keuletan dan rendah hati.
Kegiatan kali ini di bagi menjadi 3 bagian dalam 3 hari 2 malam. Yang pertama, pengenalan lingkungan sekitar serta melihat perkembangan fisik, mental, organisasi, dasar negara, pancasila dan patriotisme.
“Hari pertama kita belajar secara teoritis, setelah mengetahui secara teorinya, barulah bagaimana cara pelaksanaannya diaktualisasikan secara langsung oleh masing-masing pribadi.” ujar Joey Kristian.
“hari pertama kita tutup dengan jurit malam, yang kita laksanakan dengan membagi menjadi 7 pos yang bertema sakramen-sakramen dalam Gereja Katolik” tambahnya.
Tujuan jerit malam ini, menyadarkan para calon anggota, yang sedang di dadar, agar mengingat kembali bahwa mereka adalah bagian dari gereja katolik yang memiliki 7 sakramen yang tidak bisa di pisahkan. Ketujuh sakramen itu ialah Baptis, Ekaristi, Krisma, Tobat, Perkawinan, Imamat dan Pengurapan Orang Sakit.

“dihari kedua, kita melihat perkembangan mereka secara fisik dan mental serta menguji pengetahuan yang diajarkan pada hari pertama. Peserta diajak menunjukkan kreativitas mereka dalam malam inagurasi.” ungkap Joey Kristian
Di hari kedua, pengujian dilakukan dengan melakukan Jalan Salib bersama, para peserta dan anggota diajak untuk merenungkan perjalanan penderitaan Yesus Kristus.
Di hari terakhir, pendadaran akan ditutup dengan upacara yang dilakukan bersama dan penerimaan para peserta menjadi anggota secara simbolis. Upacara sebagai bentuk Cinta akan Tanah Air, dan tetap memiliki jiwa Nasionalis yang tinggi.
Penerimaan para peserta menjadi anggota dengan cara seorang anggota membasuh kaki seorang peserta pendadaran. Hal ini mengingat tindakan yang dilakukan Yesus ketika membasuh kaki para murid.

“semoga aktivitas THS-THM semakin menggeliat, pasca pandemi. Semoga bisa seaktif seperti sebelum pandemi, kalau bukan dari kita, siapa lagi yang akan mengaktifkannya?” Jawab Joey Kristian ketika di tanya harapan pasca pendadaran ini.
Dalam Pendadaran kali ini, juga di hadiri oleh Ketua Koordinator Nasional, Eugenius Kau Suni, yang mengecek secara langsung kegiatan pendadaran yang dilaksankan di Cibubur.
“Pendadaran bagi para pesilat muda-mudi THS-THM wilayah Jakarta. Semangat belajar bersama, berlatih bersama, membentuk diri bersama, dan saling memajukan ke depannya.” Ujar Ketua Koordinator Nasional, Eugenius Kau Suni.
Gloria! Deo Gratias!
Penulis: Balsamus Pieter Dwiwasa
Editor: Claudia Stella Hanu









