TinjauAds
Tinjau

Anak-Anak Setelah Gempa Cianjur

Dibaca dalam waktu1 Menit, 33 Detik

Michael Ckowtinjau.id

Cianjur – Selain lansia, anak-anak adalah kelompok rentan tidak terlindungi ketika bencana terjadi. Belum banyaknya pengetahuan mengenai kehidupan, membuat anak-anak perlu menjadi perhatian sesaat setelah bencana seperti gempa di Cianjur terjadi.

Di Kampung Ciherang, Cianjur, anak-anak dan lansia menghuni tenda-tenda pengungsian. Selasa (29/11/22) hari ini, informasi dari Ciherang yang redaksi dapatkan, kondisi sedang hujan sehingga lokasi pengungsian banjir.

Tinjauan Terkait: Update Gempa Cianjur: 310 Meninggal Dunia

“Kami banjir, semua tempat tidur basah, tidak tidur, malah pengungsi kerja bakti memeras air yang membasahi kasur maupun karpet tempat mereka tidur,” demikian pesan yang redaksi peroleh dari Koordinator Relawan Sahabat Subuh, Gladys, Selasa (29/11/22) pagi.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Sewaktu mewawancarai beberapa pengungsi Senin (28/11/22) lalu, tinjau.id menemukan banyak anak-anak mengaku tidak sekolah tetapi juga tidak dapat belajar karena buku dan peralatan belajar tertimpa reruntuhan atau tertinggal di rumah yang jauh dari tenda.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong semua pihak memperhatikan keadaan anak-anak ketika gempa sudah terjadi.

Tinjauan Terkait: Birokrasi Berbelit Demi Sembako

“Dengan korban 321 orang meninggal, menandakan ada anak-anak yang mengalami kehilangan, perpisahan, keprihatinan, yang bila rasa ini tidak diolah menjadi makna positif, akan menjadi keprihatinan mendalam. Bahkan bila penanganannya telat akan membawa multi kehilangan dan kesedihan,” demikian pernyataan Jasra Putra, Kepala Divisi Pengawasan, Monitoring, dan Evaluasi (Kadivwasmonev) KPAI yang diterima redaksi tinjau.id dalam bentuk tertulis.

Menurut Jasra, bencana menyebabkan anak-anak sangat rentan kondisi psikologisnya, mendorong mereka kepada kecemasan yang menyebabkan berkurangnya jam istirahat dan kualitas hidup dan pada akhirnya menimbulkan dampak buruk kepada kesehatan.

“Kehadiran relawan yang memiliki perspektif cara bekerja dengan anak anak, baik anak di bawah umur atau pun usia sekolah menjadi sangat penting, dalam rangka mengalihkan ketakutan dan kecemasan berlebihan mereka. Yang juga bermanfaat, untuk membantu para orang tua mereka, yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kondisi setelah bencana,” tambah Jasra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button