Kurikulum Sekolah Gagal Menyediakan Pendidikan Berbasis Budaya
Defisit Dalam Pengajaran: Pemaknaan Budaya Yang Dangkal
Lebih lanjut penelitian NYU mengamati tiga orang siswa dari latar belakang budaya yang berbeda.
NYU menyimpulkan bahwa ketiganya tidak memiliki daya tanggap budaya.
Penggambaran mengenai keragaman pada setiap anak juga terlalu dangkal dan menyebabkan rusaknya konteks, praktik, atau tradisi budaya yang sesungguhnya.
Peneliti NYU memperlihatkan bahwa pengisahan cerita secara sepihak, tidak lengkap atau dangkal hanya akan memberikan narasi tunggal yang ahistoris mengenai makna keragaman yang sesungguhnya.
Sebagai contoh menurut Flor Khan, menunjukkan suatu pemahaman budaya yang dangkal mengenai suatu kelompok orang dari budaya tertentu.
“Penduduk asli Amerika tergambar sebagai penurut, menyedihkan, terasing, dan berkarakter buruk secara sosial,” ujar Khan.
Anggapan dangkal semacam ini lalu menunjukkan bahwa tidak ada panduan yang terlalu jelas bagi guru untuk bagaimana memosisikan diri mereka saat terlibat dalam pengajaran yang dihadiri oleh siswa dengan ragam latar belakang.
Kontradiksi Ide Kurikulum Berbasis Budaya
Kurikulum sekolah yang merespon secara budaya bukannya tanpa kritik.
Di Amerika Serikat, perubahan regulasi yang diperkenalkan di 46 negara bagian dan berisi aturan mengenai rasisme, seksisme, dan bentuk diskriminasi lainnya malah diajarkan bagi siswa di kelas 12.
Para pendukung regulasi ini melihat bahwa beberapa pelajaran mengenai ras dan penindasan terhadap itu telah membuat siswa merasa bersalah, tidak nyaman bahkan malu ketika menengok ke dalam diri mereka.
Siswa telah mengomparasi ke dalam diri mereka persoalan ras dan jenis kelamin sehingga mendorong rasa bersalah sesuai latar belakang diri mereka masing-masing.
Kritikus mengatakan kebijakan ini menyensor guru dan siswa, dan menyaring atau menghapus perspektif tertentu dari sejarah.
Merosotnya kualitas akademis karena kurikulum yang berkutat pada pengajaran mengenai ras dan gender yang membangun rasa bersalah, para peneliti justru berpendapat bahwa pendidikan yang responsif secara budaya dapat menjadi kunci bagi perubahan.
Penulis: Stella Hanu
Editor: Michael Ckow









