Proyek Sodetan Berjalan, Setelah Mandek 6 Tahun
Telan Dana Rp 1,2 Triliun
Menteri PUPUR, Basuki Hadimuljono menuturkan, proyek menelan dana yang tidak sedikit, yakni sekitar Rp 1,2 triliun, belum termasuk biaya untuk membebaskan lahan.
“Mahal, tapi insya Allah itu ada manfaatnya untuk pengedalian banjir,” ujar Basuki.
Sodetan ini berguna untuk mengendalikan potensi banjir akibat hujan yang terjadi di wilayah Jakarta. Sedangkan Bendungan Ciawi dan Sukamahi hanya mampu mengendalikan potensi banjir akibat hujan di daerah hulu.
Basuki menjelaskan, sodetan ini akan mengalirkan air dari Sungai Ciliwung menuju KBT bila curah hujan di Jakarta sedang tinggi.
Adapun sodetan ini terdiri dari dua terowongan sepanjang 1,3 kilometer dengan diameter masing-masing 3,25 meter yang bisa mengalirkan air dengan debit 33 hingga 63 meter kubik per detik.
Senada dengan Jokowi, Basuki yakin infrastruktur ini dapat efektif mengurangi banjir di Jakarta.
Sayangnya, seperti kata Jokowi, Basuki menyebutkan bahwa proyek ini tidak mengalami perkembangan berarti selama 6 tahun terakhir.
“Kalau konsisten dilakukan dari dulu pasti sudah berkurang. Hanya saja masalahnya tadi Pak Presiden bilang, 6 tahun enggak diapa-apain, normalisasi enggak diapa-apain, sodetan enggak diapa-apain,” kata Basuki.
Ia menambahkan, pemerintah juga tengah membangun stasiun pompa di hilir Sungai Sentiong sebagai upaya pengendalian banjir di sisi hilir.
Basuki yakin, banjir di wilayah DKI Jakarta akan berkurang drastis. Andaisaja semua infrastruktur tersebut rampung meskipun ia tidak menjamin Jakarta dapat benar-benar bebas banjir.
“Dari 414 (kelurahan terdampak banjir), kalau dengan (Bendungan) Sukamahi-Ciawi menjadi 318, kalau dengan (sodetan) ini menjadi 211. Nanti dengan (stasiun pompa) Sentiong di bawah berkurang lagi, dengan normalisasi berkurang lagi, selama ini enggak ditangani,” kata Basuki.
Editor: Michael Ckow









