Peduli Sampah dengan Cegah Sampah
Peduli sampah dengan mencegah sampah. 21 Februari 2023 diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Bertema “Tuntas Kelola Sampah untuk Kesejahteraan Masyarakat”, momen ini mengingatkan semua pihak, persoalan sampah harus menjadi fokus utama.
Jakarta, tinjauid – Tragedi Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 melatarbelakangi Hari Peduli Sampah Nasional. Longsornya gunungan sampah setinggi 60 meter sepanjang 200 meter di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah itu efek hujan deras yang mengguyur semalam suntuk.
Ledakan gas metana dari dalam tumpukan sampah menyertai musibah itu. Akibatnya dua permukiman penduduk, yaitu Kampung Cilimus dan Kampung Pojok berjarak 1 kilometer dari TPA Leuwigajah hilang tersapu longsor. 157 orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
Tahun ini, Hari Peduli Sampah Nasional 2023 merupakan peringatan ke-18. Melansir dari situs Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengusung tema Hari Peduli Sampah Nasional 2023 “Tuntas Kelola Sampah untuk Kesejahteraan Masyarakat”.
Upaya pengelolaan sampah memang membutuhkan kontribusi semua pihak. Mengingat sampah masih menjadi masalah besar di Indonesia, dengan jumlah sampah yang terus meningkat setiap tahunnya.
[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]
Pada tahun 2020 saja, Indonesia memproduksi 67 juta ton lebih sampah. Menilik hal itu, semestinya setiap orang tidak hanya berkontribusi membuang sampah pada tempatnya saja. Tapi juga turut mencegah sampah.
Andhini Miranda, praktisi hidup tanpa limbah, melalui laman media sosialnya Instagram @021suarasampah aktif menyuarakan pentingnya mengurangi sampah sehari-hari bersama keluarga.
Ia memberikan contoh bagaimana praktik mencegah sampah dan belajar hidup selaras dengan alam. Misalnya, dengan selalu membawa wadah makanan dan minuman yang bisa dipakai ulang saat di luar rumah.
Menurut Andhini yang sudah aktif mencegah sampah sejak tahun 2012 ini, ia dan keluarga menghindari belanja produk yang dikemas sekali pakai. Saat sampah sudah dicegah sejak awal, katanya, maka tidak ada sampah yang perlu ditangani. Praktis.
Lantas bagaimana jika pilihan mencegah sampah sulit dilakukan?
Kata Andhini, hal itu bisa disiasati dengan memilih produk yang paling minim dampak kerusakan lingkungan.
“Namun, dalam kondisi sulit pun, kami tetap berusaha membeli makanan dengan memilih kemasan dari bahan alami dan bisa terurai,” papar peraih Green Heroes Award kategori Green Agent of Change dari SUN Energy ini.
Yuk kita turut berkontribusi cegah sampah!









