TinjauAds
Tinjau

ChatGPT, Peluang Sekaligus Ancaman

Dibaca dalam waktu2 Menit, 51 Detik

ChatGPT, perangkat pintar berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) sebagai peluang sekaligus ancaman. ChatGPT mempunyai kemampuan menghasilkan teks bahasa manusia.

Jakarta, tinjau.id – Perangkat pintar bernama ChatGPT memampukan seorang mahasiswa pascasarjana lulus ujian, walaupun tidak dapat memperoleh nilai yang memuaskan.

Fenomena keterlibatan bot percakapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence chatbot) dalam lingkup pendidikan terjadi di Universitas Minnesota dan Sekolah Bisnis Wharton dari Universitas Pennsylvania.

Profesor Sekolah Bisnis Wharton Christian Terwiesch mengungkapkan, perangkat ini dapat membuat esai ilmiah yang menekankan informasi detail dengan hasil menakjubkan.

Selain itu juga mahir dalam menjawab pertanyaan mendasar tentang operasi manajemen dan proses analisis.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Namun, ChatGPT lemah dalam ingatan yang lebih lanjut dan membuat kesalahan fatal dalam perhitungan dasar matematika.

Profesor dari Sekolah Hukum Universitas Minnesota melakukan uji coba atas jawaban bot percakapan itu.

Setelah menjawab 95 soal pilihan ganda dan 12 soal uraian, ChatGPT berada pada tingkat mahasiswa yang mendapatkan nilai C+.

Nilai itu termasuk kategori rendah, namun masih lulus standar minimal dari pihak universitas.

Mengenal ChatGPT

Melihat fenomena tersebut, kita setidaknya perlu mengenali ChatGPT terlebih dahulu sebelum menggunakannya.

Mengutip pendapat Sam Illingworth, Profesor Rekanan dari Universitas Napier Edinburgh, perangkat ini merupakan model bahasa pemrograman yang dikembangkan oleh OpenAI. 

[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]

ChatGPT mempunyai kemampuan untuk menghasilkan teks yang mirip dengan bahasa manusia, yang memampukannya terlibat dalam percakapan secara alamiah.

Program tersebut mempunyai potensi untuk merevolusi cara manusia berinteraksi dengan komputer. Program ini juga sudah mulai dipakai dalam aneka macam industri.

Sejak tersedia pada November 2022, perangkat ini  digunakan untuk menghasilkan tulisan atau esai ilmiah yang asli, kisah, dan lirik lagu sebagai keperluan dari pengguna.

Selain itu, ChatGPT telah menghasilkan bagian abstrak dari tulisan penelitian ilmiah, yang dapat membodohi para peneliti.

Meskipun baru berjalan selama beberapa bulan, perangkat ini telah memberikan dampak signifikan dalam produktivitas setiap manusia.

Jon Choi, salah satu Profesor Hukum Universitas Minnesota, berpendapat, tujuan dari menguji ChatGPT adalah untuk mengeksplorasi potensi-potensi ChatGPT dalam membantu para pengacara dalam praktiknya.

Selain itu, alat itu juga membantu mahasiswa dalam mempersiapkan ujian–kendati para dosen tidak mengizinkannya.

Choi menambahkan, ChatGPT mengalami kesulitan dalam komponen klasik dari hukum seperti menemukan masalah hukum yang potensial dan menganalisis secara dalam dengan menerapkan aturan hukum pada kasus tertentu.

Meskipun demikian, alat ini dapat membantu mahasiswa untuk memberikan tawaran kerangka awal dari suatu esai, yang dapat mereka saring sendiri.

Dampak Etis ChatGPT

Brian Lucey dan Michael Dowling mengakui betapa ChatGPT ini unggul dalam mengutip berbagai teks dari luar sistem dan merangkumnya dalam satu sistem.

Selain itu, ChatGPT dapat menghubungkan rangkuman teks satu  dengan yang lain, sehingga mendapatkan poin-poin penting dari suatu tema tertentu.

Bahkan, program berbasis kecerdasan buatan tersebut dapat membuat jurnal ilmiah keuangan dengan sangat baik. Sayangnya, program ini tidak mampu beroperasi dalam analisis masalah yang lebih kompleks.

Lucey dan Dowling menegaskan, terdapat dampak etis bagi dunia penelitian. Integritas riset dalam perkembangan ilmu pengetahuan menjadi taruhannya.

Kehadiran ChatGPT dapat memperparah kualitas tulisan ilmiah dengan tidak terdeteksinya plagiarisme, bahkan sampai pada penelitian yang benar-benar salah.

Para akademisi dapat mencegah dampak etis tersebut dengan mempertahankan budaya akademis “menerima masukan dari peneliti manusia.”

Selain itu, Lucey dan Dowling berpendapat untuk melihat ChatGPT sebagai asisten, bukan lagi sebagai ancaman.

ChatGPT dapat berguna bagi para peneliti di negara berkembang yang punya kesulitan dana untuk melakukan riset.

Walaupun demikian, para peneliti perlu sadar akan larangan penggunaan teknologi dalam riset dan penulisan ilmiah.

Lucey dan Dowling tetap mengimbau untuk tetap hati-hati dalam menggunakan teknologi ini.

Back to top button