Schopenhauer: Tiga Solusi Meringankan Penderitaan

Schopenhauer menyadari bahwa hidup manusia diiringi begitu banyak penderitaan. Ia mencoba mencari solusi agar meringankan kita dalam upaya menangani persoalan tersebut.
Jakarta, tinjau.id – Kita tentu masih mengingat filosofi Schopenhauer bahwa hidup adalah siklus penderitaan terus-menerus, di mana kepuasan sesaat seseorang hanyalah penderitaan yang belum terbentuk; yaitu penderitaan yang akan segera datang. Untuk itu, ia menyediakan solusi yang mungkin dapat kita upayakan.
Tiga Solusi
1. Pertapaan atau Askese
Jalan yang paling ekstrem menuju pengentasan penderitaan adalah asketisme. Pertapaan hanyalah sebuah bentuk penolakan terhadap semua kesenangan. Istilah itu menggambarkan kehidupan yang sangat disiplin yang terkait dengan kehidupan para biarawan dan pendeta selibat, di mana penyangkalan terhadap seks, makanan, alkohol, dan banyak kesenangan lainnya diperlukan.
Mengikuti tradisi Buddha dan Hindu, Schopenhauer berpendapat bahwa dengan memotong semua kesenangan dari hidup seseorang, keinginan dan ‘keinginan untuk hidup’ dapat dihilangkan secara permanen. Karena ‘keinginan untuk hidup’ adalah hal yang paling bertanggung jawab atas semua penderitaan manusia. Seseorang dapat membebaskan diri dari penderitaan ini dengan menyangkal hal yang melanggengkannya. Dengan cara yang sama, seorang Buddhis berhasil mencapai keadaan nirvana, bebas dari semua keinginan duniawi. Pertapa yang berhasil akan mencapai keadaan ‘tanpa kehendak’, yang menghasilkan ketenangan yang serupa.
Namun, Schopenhauer memahami sifat manusia. Dia sendiri sama sekali bukan seorang pertapa. Dia mengakui bahwa sebagian besar orang tidak memiliki minat dan/atau disiplin untuk menjadi pertapa sejati, dan dengan demikian tidak akan cukup mengatasi penderitaan hidup dengan mengikuti jalan ini. Karena itu, dia mengajukan opsi kedua.
2. Kasih Sayang
Menurut Schopenhauer, jika seseorang tidak bisa mengikuti asketisme, setidaknya dia bisa berbelas kasih. Mengapa berbelas kasih?
Seperti yang ia nyatakan sebelumnya, Schopenhauer melihat ‘keinginan untuk hidup’ sebagai akar dari semua penderitaan. Dan konsep ‘kehendak’ ini dapat kita anggap terutama sebagai keinginan kita untuk terus ada dan berkembang biak.
‘Keinginan’ ini adalah yang mendasari semua realitas. Baginya, kehendak adalah satu-satunya realitas ‘objektif’ yang terpisah dari pikiran kita, yaitu berbeda dari pengalaman fenomenal. Ini adalah ide kunci dari filosofinya, yang terlihat dalam judul karyanya The World as Will and Representation.
Kunci konsep kehendak adalah hadir (imanen) dalam setiap aspek realitas. Dengan kata lain, hal itu adalah keseluruhan realitas, termasuk diri kita sendiri, dunia organik dan anorganik. Dengan demikian, tidak ada perbedaan antara hal-hal; tidak ada individu, tidak ada diri sendiri, tidak ada pembagian. Oleh karena itu, realitas adalah satu.
Maka…
Dari sini, ia mengemukakan, masuk akal untuk memperlakukan sesama manusia, hewan, dan segala sesuatu di dunia dengan kasih sayang. Jadi, berbelas kasih berarti memperlakukan diri sendiri dengan baik. Dan menjadi berbelas kasih juga berarti mengakui bahwa seluruh realitas memang terdiri dari kehendak, dan dengan demikian mampu melepaskan diri dari kehendak.
3. Pertemuan Seni dan Estetika
Meski belas kasih adalah solusi yang lebih masuk akal daripada menjadi seorang pertapa, hal itu tetap menuntut kita untuk mengembangkan pendekatan khusus terhadap kehidupan. Namun, ada solusi sementara yang dapat seseorang gunakan untuk meringankan penderitaan hidup, yakni melalui seni.
Setelah merenungkan tentang estetika, Schopenhauer menggambarkan sebagai berikut sebagai hasilnya:
“the attention is now no longer directed to the motives of willing, but comprehends things free from their relation to the will. Thus it considers things without interest, without subjectivity, purely objectively … Then all at once the peace… comes to us of its own accord, and all is well with us”
(Janaway, 2013).
Setelah merenungkan sebuah karya seni, kita dapat melepaskan diri dari keinginan. Kita untuk sementara ditangguhkan dari berbagai keinginan dan perjuangan. Akibatnya, kita ‘kehilangan’ diri sendiri dalam karya seni, kita lupa bahwa kita adalah individu yang diatur oleh kemauan, dan menjadi satu dengan karya seni.
Tapi, bagaimana ini mungkin?
Schopenhauer mengonseptualisasikan seni sebagai ‘ide Platonis.’ Maksudnya, seni dan seniman yang baik bercita-cita untuk mereplikasi objek dalam bentuknya yang paling tidak terdistorsi. Dengan kata lain, seniman yang melukis lanskap mencoba melukisnya ‘sebagaimana adanya’ daripada bagaimana mereka melihatnya. Dengan demikian, seni bertujuan untuk menangkap objektivitas.
Secara keseluruhan…
Schopenhauer menawarkan banyak solusi atas penderitaan. Solusi-solusi ini tidak hanya meringankan penderitaan, tetapi juga memungkinkan orang yang tercerahkan memperoleh pengetahuan yang lebih besar tentang realitas: kesatuan benda dan bentuk aslinya. Sementara asketisme mungkin merupakan tugas yang terlalu besar, dan berbelas kasih dengan kesulitan yang sama, apresiasi estetika adalah sesuatu yang umum dalam kehidupan sehari-hari kita semua.









