TinjauAds
Tinjau

DPRD: Kota Bogor Belum Aman untuk Pelajar

Dibaca dalam waktu2 Menit, 42 Detik

Ketua Komisi IV DPRD Kota Bogor Akhmad Saeful Bakhri menilai, daerah ini belum aman untuk pelajar. Hal itu  menyusul maraknya kasus kekerasan sesama pelajar hingga menyebabkan kematian..

Bogor, tinjau.id – Saeful Bakhri angkat bicara soal adanya kelemahan sistem pendidikan di Kota Bogor.

Menurutnya, kematian pelajar kelas X SMK Bina Warga, Arya Saputra, menjadi catatan kelam dunia pendidikan di Kota Bogor.

Saeful Bakhri  menilai, kunci utama untuk menyelesaikan permasalahan kasus kekerasan terhadap pelajar, ada di pola pengasuhan anak dari keluarga.

Pemerintah Kota Bogor dengan program Kota Ramah Keluarga perlu menguatkan intervensinya agar keluarga memiliki ketahanan fungsi.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

“Ketika visi Kota Bogor sebagai Kota Ramah Keluarga. Maka masih banyak PR dalam menguatkan peran keluarga agar menjadi keluarga yang memiliki ketahanan fungsi. Ini yang perlu pemikiran pemerintah,” ujar politisi PPP itu, Selasa (14/3/23).

Menurutnya, tidak dapat terlesaikannya kasus kekerasan  pelajar, lantaran buruknya komunikasi  KCD Pendidikan Jawa Barat yang menaungi SMA dan SMK.

Sehingga, program  yang harunya mendapat penyelerasan antara Pemerintah Kota Bogor dengan Provinsi Jawa Barat menjadi terhambat.

“Ini yang perlu mendapat perhatian bersama. Kembalikan kebijakan kewenangan ke kabupaten dan kota, jangan di provinsi. Dan rekan-rekan di KCD, membuka ruang untuk komunikasi dan diskusi karena para pelajar berdomisli di Kota dan Kabupaten Bogor,” jelasnya.

Dalam waktu dekat, lanjutnya, DPRD Kota Bogor akan menggelar rapat kerja khusus.

Pihaknya akan  memanggil KCD Pendidikan Jawa Barat, Disdik Kota Bogor, Polresta Bogor Kota dan stakeholder lainnya. Hal ini untuk merumuskan sistem pendidikan agar tidak terjadi lagi kasus kekerasan terhadap pelajar.

[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]

“Kami akan panggil semua, diskusi bersama agar ada sistem yang jelas dan nyata, supaya tidak ada lagi korban jiwa seperti ini,” tandasnya.

Ia juga menegaskan dukungannya kepada jajaran Polresta Bogor Kota agar para pelaku yang terlibat tindakan kekerasan tersebut mendapat hukuman yang serius.

“Tentu kami mengecam segala bentuk tindakan kekerasan terhadap pelajar. Apalagi ini sampai merenggut nyawa. Sehingga para pelaku ini perlu mendapat hukuman yang serius,” tegasnya.

KNPI Siap Perkuat Satgas Pelajar

Ketua KNPI Kota Bogor, Sapta Bela mengaku prihatin dengan maraknya aksi tawuran dan aksi kekerasan  di wilayah Kota Bogor.

Menurutnya, perlu ada sikap tegas dari kalangan pendidikan, untuk mencegah hal itu terjadi kembali.

“Perlu memperkuat Satgas Pelajar. Kami di KNPI siap berkolaborasi. Jangan sampai upaya pencegahan hanya seremoni saja atau sekedar slogan. Sudah banyak korban jiwa dan sangat meresahkan. Pemkot seharusnya lebih fokus dengan persoalan ini, tidak bergerak setelah ada korban dahulu,” kata Sapta Bela.

Menurutnya, keberadaan Satgas Pelajar Kota Bogor saat ini, belum memperlihatkan hasil yang maksimal. Kerja sama dengan berbagai pihak, tentunya harus terus dilaksanakan demi tercapainya upaya pencegahan.

“Peranan pengawasan harus melibatkan semua pihak, termasuk unsur pemuda. Termasuk pola komunikasi lintas instansi yang terkoneksi dengan baik. Perlu melibatkan juga orang tua pelajar sehingga seluruh fungsi berjalan sebagaimana mestinya,” jelasnya.

Sapta Bela juga mengatakan, pengelolaan SMA dan SMK yang kini terkoordinir oleh KCD Provinsi Jawa Barat juga perlu evaluasi  total.

Sebab, tanggung jawabnya juga tak hanya mengurusi PPDB melainkan harus kepada upaya-upaya baik dalam menjalin komunikasi dengan berbagai pihak.

“Jangan saat ada kejadian, saling lempar tanggung jawab. Yang direpotkan itu wilayah juga kalau sudah ada kejadian seperti di Simpang pomad. Kami minta mereka yang memiliki andil besar dalam dunia pendidikan bertanggungj awab secara penuh,” pungkas Sapta Bela.

Back to top button