Angka Stunting di Kota Bogor Alami Kenaikan
Angka stunting pada anak di Kota Bogor mengalami kenaikan. Dalam kurun dua tahun terakhir, dari sebelumnya 16 persen kini naik menjadi 18,7 persen. Lalu, seperti apa strategi Pemerintah Kota Bogor dalam menekan angka penyakit kurang gizi ini?
Bogor, tinjau.id – Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto mengaku telah melakukan langkah cepat dan memastikan semua elemen bergerak bersama masyarakat hingga rumah tangga untuk menekan angka stunting di Kota Bogor.
“Mulai dari pendamping keluarga, Dasa Wisma, Meja Enam-Meja Tujuh Posyandu dengan strategi intervensi spesifik, intervensi sensitif dan edukasi yang digiatkan bersama Forkominda. Semua akan turun melakukan pemetaan,” kata Bima Arya, Minggu (12/2/23).
Bima Arya juga mengatakan, dirinya telah meminta Dinas Pertanian Kota Bogor agar berada di garda terdepan untuk memfasilitasi KWT, Urban Farming, Bogor Berkebun dengan kebutuhan pangan bagi yang beresiko stunting.
“Seperti misalnya suplai sayuran, buah-buahan dan juga hasil ternak atau daging yang terjangkau dan murah. Kemudian dengan Kemenag, kami fokus untuk mengedukasi pasangan yang baru menikah. Jadi kami bergerak cepat memobilisasi semua elemen,” paparnya.
[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]
Tekan stunting melalui maksimalisasi sosialisasi
Terpisah, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bogor, Rudy Mashudi mengatakan, salah satu upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dalam menekan angka stunting yakni melakukan sosialisasi.
Pihaknya bekerjasama dengan Warga Upadaya dan Child Fund Internasional pada Jumat (10/2/23) kemarin, menggelar Diseminasi Program Percepatan Penurunan Stunting Ibu Anak Tangguh Kota Bogor (Batagor Phase II) di Bogor Creative Center (BCC).
“Kerja sama ini sudah masuk tahun ketiga. 2021 dilakukan di dua kelurahan, yakni kelurahan Pasirkuda dan Pasirjaya. Kemudian di 2022 kemarin dilakukan di empat kelurahan, yakni kelurahan Pamoyanan, Mulyaharja, Rangga Mekar dan Babakan Pasar,” ujar Rudy.
Pembinaan yang dilakukan, jelas Rudi, yakni dengan memberikan edukasi kepada peserta potensial, terutama pada ibu yang memiliki anak di bawah dua tahun tak terkecuali yang berisiko stunting. Dalam pembinaan ini, para ibu diajarkan terkait dengan pola pengasuhan, pangan gizi dan Perilaku Hidup Sehat dan Bersih (PHBS).
Lebih lanjut Rudi menjelaskan, pendekatan penanganan stunting terdiri dari dua, yaitu pendekatan spesifik yang terkait dengan kesehatan intervensinya 30 persen dan pendekatan sensitif yang terkait dengan lingkungan dan infrastruktur intervensinya 70 persen.
“Dua pendekatan ini kami coba kolaborasikan menjadi satu bagian utuh. Di wilayah yang dilakukan pembinaan, ibu-ibunya sudah tereduksi, semoga manfaatnya bisa dirasakan jangka panjang, yakni ada perubahan perilaku, perubahan mindset dan perubahan pola asuh,” jelas Rudi.
Namun, Rudi mengakui adanya perbedaan data stunting Kota Bogor yang dikeluarkan dari pemerintah pusat yang kini berada di kisaran 18,7 persen. Data ini, kata Rudi, berbeda dengan data yang dimiliki Dinkes Kota Bogor yang mencatat hanya 3,5 persen, sesuai dengan angka saat Bulan Penimbangan Balita (BPB) Agustus 2022 lalu.
“Pemerintah pusat tetap menggunakan data dari pusat. Nah pada saat roadshow Menteri Kesehatan hampir semua yang kota/kabupaten menyatakan ingin ada integrasi data atau sinkronisasi data karena rata-rata di Kabupaten/Kota angkanya juga berbeda dengan BPB,” ujarnya.









