TinjauAds
Tinjau

Thomas Hobbes: Politisi, “Leviathan,” dan Metode “Padua”

Dibaca dalam waktu2 Menit, 43 Detik

Thomas Hobbes adalah tokoh politik yang memberikan sumbangan pemikiran politis sekaligus filosofis pada zamannya. Pemikirannya terwakilkan dalam karya “Leviathan” dengan metode Padua.

Jakarta, tinjau.id Thomas Hobbes tokoh politik yang berpengaruh dalam perkembangan pemikiran politik dunia. Dia lahir di Malmesbury, Wiltshire, Inggris, pada 5 April 1588, dari keluarga biasa dan religius. Mengutip dari tulisan John Aubrey (1681), Hobbes menggambarkan ayahnya sebagai sosok “soleh, yang bermain kartu sepanjang Sabtu malam, dan paginya bertugas di gereja ketika masih terkantuk-kantuk.”

Mengenal Kehidupan Hobbes

Hobbes terkenal sebagai anak pintar dalam hal akademis. Dia belajar di Paroki Westport pada usia 8 tahun, lalu melanjutkan studinya di Malmesbury dengan seorang ahli klasik Yunani dan Latin, Robert Latimer. Hobbes belajar dengan dua atau tiga “anak pintar” lainnya dari sore hari hingga pukul sembilan malam.

Pada usia 14 tahun, dia melanjutkan studi di Magdalene Hall, Universitas Oxford, selama 5 tahun dalam bidang sastra klasik. Selain itu, dia juga berkenalan dengan kontroversi teologis pada zamannya. Akhirnya, dia mendapatkan gelar Bachelor of Arts (BA).

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Setelah menyelesaikan belajarnya, Hobbes bekerja kepada Keluarga Cavendish untuk menjadi tutor Pangeran William Cavendish pada bulan Februari 1608. Dalam kesempatan inilah, dia bertemu dengan Francis Bacon, seorang negarawan sekaligus pemikir. 

Bacon sangat menyukai Hobbes, sehingga (berdasarkan tulisan Aubrey) Bacon mengangkatnya menjadi juru tulisnya. Bacon dapat memahami rumusan yang Hobbes buat. Oleh karena itu, dia menyatakan, Hobbes seorang juru tulis yang lebih baik daripada juru tulis lainnya.

Karya filosofis Hobbes untuk pertama kalinya muncul pada tahun 1640. Namun, pada tahun 1629 dia sudah pernah menerbitkan terjemahan karya Thucydides yang berjudul History of the Peloponnesian War ke dalam bahasa Inggris. Dua karyanya yang sangat berpengaruh sebagai tulisan filsafat adalah buku Elements of Law, yang diterbitkan pada tahun 1650, dan buku De Cive

Karya terbesar Hobbes tercermin dalam Leviathan pada tahun 1651. Mengenai karya tersebut, Aubrey mengungkapkan, “Dia mengarahkan pikirannya untuk meneliti dan berkontemplasi… Ia banyak berjalan-jalan berkontemplasi, senantiasa membawa pena dan tinta, selalu membawa buku catatan di sakunya, dan seketika sebuah gagasan muncul, ia berhenti untuk mencatat dalam buku saku itu…”

Hobbes meninggal pada tahun 1679 pada musim dingin.

Sistem sekaligus Metode Filsafat Hobbes

Thomas Hobbes membagi filsafat menjadi 3 bagian: filsafat alam, filsafat moral, dan filsafat kenegaraan. Dalam karyanya yang berjudul De Cive, menyandur dari tulisan Bambang Herry-Priyono, Hobbes mengungkapkan sebagai berikut. “Saya mempelajari filsafat untuk dirinya sendiri, dan saya telah mengumpulkan unsur-unsur utamanya dalam berbagai rupa… Pertama, saya mengkaji tubuh (body) beserta ciri-ciri hakikinya; Kedua, tentang manusia (man) dan perangkat-perangkat kemampuan serta perasaannya; Ketiga, tentang pemerintahan negara (civill government-sic) dan kewajiban-kewajiban warga. Maka bagian pertama berisi filsafat prinsip utama, dan unsur tertentu dari fisika… Sedangkan yang kedua menyangkut imajinasi, memori, intelek, pertimbangan, selera, kehendak… Yang ketiga, saya telah tunjukkan kepadamu…”

Metode yang Hobbes gunakan dalam pemikiran filosofisnya di Leviathan adalah metode “komposisi” (composition) dan “resolusi” (resolution). Metode ini dia pelajari dari “Mazhab Padua,” yang berkembang di lingkup Universitas Padua dalam bidang kedokteran dan anatomi. Mengutip pendapat Watkins tahun 1965, metode yang Hobbes maksud sebagai berikut. “Cara untuk memahami sesuatu adalah dengan “mengurai sesuatu itu hingga ke unsur-unsur terkecilnya, dalam tindakan maupun pikiran, dan mencermati hakikat unsur-unsur tersebut, untuk kemudian menyusunnya kembali menjadi keutuhan.”

Ringkasnya, terdapat 3 langkah utama dalam metode Padua: mengurai (resolve), idealisasi (idealise), kemudian menata ulang (recompose).

Back to top button