TinjauAds
Tinjau

Pemilu 2024 Dan Komunikasi Politik Beradab

Dibaca dalam waktu1 Menit, 17 Detik

Pemilu 2024 dan komunikasi politik yang beradab sangat membutuhkan kedewasaan berdemokrasi masyarakat Indonesia. Teladan elit politik menjadi kunci untuk menjalankan komunikasi politik yang etis.

Tangerang Selatan – Prihatin atas situasi politik menjelang Pemilu 2024, Program Pasca Sarjana Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) merekomendasikan agar semua kalangan melakukan komunikasi politik secara beradab.

Elit politik menjadi harapan untuk memberikan keteladanan sedangkan masyarakat harus menjaga etika ketika berkomunikasi.

‘’Pada saat ini etika dalam melakukan komunikasi politik sangat esensial dan seharusnya tidak hanya mengejar dan mempertahankan kekuasaan, tapi juga menjaga keadaban dan keutuhan kebangsaan. Politik itu bukanlah hal yang buruk. Ada masalah mendasar yang perlu terjaga, yakni mendasarkan pada nilai moral, norma, dan agama. Hal itulah yang perlu dipahamkan ke publik,’’ kata dosen Pasca Sarjana FISP UMJ dan pengamat politik LIPI-BRIN, Siti Zuhro, di Jakarta, Jumat (6/01/23).

Menurut Siti Zuhro, ketiadaan etika pada praktik berpolitik saat ini tampak nyata misalnya dengan ekspresi komunikasi di media sosial.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Sebagian sosok elit hingga masyarakat biasa kini terjebak dalam ketidakadaban yang berujung perpecahan. Suasana semakin terasa sejak 2022, padahal tahun politik baru pada 2024.

Siti mengemukakan pentingya keadaban berpolitik dalam Seminar daring bertema ‘Menyoal Etika Komunikasi Politik Menjelang Pemilu Serentak 2024 Era Digital’ yang berlangsung secara daring dari Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Di saat yang sama, Pakar Komunikasi Politik, Bachtiar Aly mengatakan bahwa etika berkomunikasi sangat penting terutama untuk para elit politik. “Budaya sopan santun,” kata Bachtiar.

Menurutnya, cara berkomunikasi sarkastik dan blak-blakan dengan tidak memerhatikan budaya sopan santun memberikan efek yang tidak baik pada audiens.

Penulis: Fredericus Hardiyanto

Editor: Michael Ckow

Back to top button