TinjauAds
Tinjau

Antraks Mengancam. Waspada!

Dibaca dalam waktu4 Menit, 42 Detik

Antraks tengah menjadi kasus kesehatan yang terjadi di beberapa daerah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan adanya kasus tiga warga di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang meninggal dunia akibat penyakit antraks yang ditularkan melalui hewan ternak.

Jakarta, tinjau.id Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatkan, kasus meninggalnya tiga warga tersebut saat ini tengah diinvestigasi secara mendalam oleh pihaknya.

Dugaan sementara kejadian itu disebabkan konsumsi daging sapi yang berlangsung saat perayaan Iduladha lalu. Sebab, Kabupaten Gunung Kidul termasuk dalam daerah endemi antraks.

“Kalau kasus meninggal ada tiga orang di Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Kemenkes masih melakukan penyelidikan epidemiologi kasus tersebut,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi melalui keterangan persnya di Jakarta, Selasa (4/7/2023).

Ia menambahkan, proses penyelidikan terhadap kasus antraks ini tak hanya dilakukan di Kecamatan Semanu. Melainkan juga Kecamatan Karangmojo untuk mengukur sebaran, hingga penyebab pasti penularan virus.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]

Hasil sementara, kata dia hingga saat ini terkumpul 93 pasien positif antraks di wilayah tersebut berdasarkan hasil tes serologi. Sedangkan, hasil pemeriksaan terhadap seluruh kasus meninggal melalui genom sekuensing menunjukkan hasil positif antraks.

“Dalam pemeriksaan, menunjukkan hasil positif antraks di dalam tubuhnya. Kasus antraks di Gunung Kidul merupakan kasus perdana pada tahun 2023 setelah di tahun sebelumnya dilaporkan nihil. Sejauh ini baru kasus di Gunung Kidul yang terjadi pada tahun ini, dengan total 93 positif serologi dan kami masih melakukan penyelidikan epidemiologi,” ujarnya.

Nadia menambahkan sebagian pasien masih ada yang dirawat dan sebagian lainnya, sudah dinyatakan sembuh. Adapun alasan sapi yang dikonsumsi bisa terserang penyakit, salah satunya karena tertular saat memakan rumput yang mengandung virus antraks.

“Ada juga kemungkinan virus antraks yang selama ini mengendap di bawah tanah terangkat karena aktivitas penggarap, sebab antraks bisa bertahan hidup lama di permukaan tanah,” ucap Nadia.

Dirinya pun mengimbau masyarakat agar semakin selektif untuk memilih kualitas daging sapi, khususnya yang berasal dari peternakan di perkebunan endemi antraks.

“Aktivitas beternak dilengkapi dengan alat pelindung diri seperti sepatu boot, sarung tangan, hingga pakaian yang menutup seluruh bagian tubuh,” imbuhnya.

Mengenal Antraks

Antraks adalah penyakit bakterial bersifat menular akut pada manusia dan hewan yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis.  Antraks bermakna “batubara” dalam bahasa Yunani, dan istilah ini digunakan karena kulit para korban akan berubah hitam. Antraks paling sering menyerang herbivora-herbivora liar dan yang telah dijinakkan.Penyakit Antraks bersifat zoonosis yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya, namun tidak dapat ditularkan antara sesama manusia.

Bacillusanthracis sebagai penyebab penyakit Antraks,bersifat gram positif, berbentuk batang, tidak bergerak dan membentuk spora. Bentuk vegetatifnya dapat tumbuh subur di dalam tubuh dan segera menjadi spora apabila berada di luar tubuh ketika kontak dengan udara luar. Spora ini dengan cepat akan terus menyebar melalui air hujan.

Ternak dapat terinfeksi penyakit Antraksapabila memakan pakan atau meminum air yang terkontaminasi spora tersebut atau jika spora mengenai bagian tubuh yang luka. Ternak penderita dapat menulari ternak yang lain melalui cairan (eksudat) yang keluar dari tubuhnya. Cairan ini kemudian mencemari tanah sekelilingnya dan dapat menjadi sumber untuk munculnya kembali wabah di masa berikutnya.

Spora bakteri B. Anthracis dilaporkan mampu bertahan sampai puluhan tahun di tanah dan hanya mati oleh pemanasan pada temperatur 100oC selama 20 menit atau pemanasan kering 140oC selama 30 menit.

Penyakit Antraks pada kambing paling banyak bersifat per akut atau akut. Pada kejadian per akut, kambing yang semula sehat mendadak jatuh, sesak nafas, gemetar, kejang lalu mati dalam waktu beberapa menit/jam akibat pendarahan di otak. Pada kejadian akut, ditandai dengan demam yang tinggi (41,5oC), gelisah, depresi, sukar bernafas, detak jantung cepat tetapi lemah, selaput lendir mulut serta mata menjadi merah tua dan akhirnya mati. Kadang–kadang juga terjadi diare berdarah dan air seninya berwarna merah atau berdarah. Pada bangkai hewan yang terkena anthrax sering terlihat adanya darah yang keluar dari lubang-lubang kumlah seperti mulut, telinga hidung, dan anus. Darah tidak membeku dan biasanya limpa membesar berwarna merah kehitaman.

Bangkai ternak yang dicurigai menderitaAntraks tidak diajurkan untuk dibuka (bedah bangkai). Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan dengan mengambil darah dari telinga dan dibuat preparat ulas.

Hewan/spesimen Antraks yang telah busuk maupun yang telah dikeringkan bertahun-tahun dilaporkan masih mampu memberikan hasil yang positif pada uji Ascoli.

Teknologi pengendalian penyakit Antraks dapat dilakukan dengan memberikan vaksinasi pada ternak yang belum terinfeksi. BALITVET telah berhasil membuat vaksin tersebut dan pernah memproduksinya tetapi saat ini, teknologi tersebut telah dialihkan ke PUSVETMA Surabaya. PT. Vaksindo juga telah memproduksi vaksin sejenis. Ternak yang terjangkit Antraks dapat diobati dengan preparat antibiotika tetrasiklin atau penisillin dosis tinggi selama 5 hari berturut-turut, tetapi biasanya pengobatan pada keadaan hewan sekarat kurang efektif.

Dilaporkan bahwa antibiotika enrofloxacin, neomycin, navobicin, klorampenikol dan kanamycin juga mampu membunuh bakteri Antraks. Pengobatan Antraks viseral dapat dilakukan dengan penisilin G 18-24 juta IU per hari secara intra vena ditambah dengan 1 gram tetrasikin per hari. Pengobatan Antraks nafas hampir sama dengan yang viseral tetapi ditambah streptomicin 1-2 gram/hari sedangkan pengobatan Antraks kulit dapat dilakukan dengan suntikan prokain berdosis 2 x 1,2 juta IU secara intra muskular selama 5-7 hari atau dengan benzyl penilisin berdosis 250.000 IU setiap 6 jam.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah penanganan ternak pasca mati. Bagi ternak yang sudah mati harus dibakar atau diberi desinfektan kemudian dikubur. Ternak yang mati dicegah agar tidak dimakan oleh hewan pemakan bangkai guna mencegah penyebaran yang lebih luas.

Bagi masyarakat peternak jika menjumpai kejadian penyakit pada ternak dengan gejala menciri penyakit Antraks, atau menemukan bangkai atau ternak mati yang memiliki gejala penyakit Antraks agar dapat melaporkan ke Puskeswan atau petugas teknis dibidang Peternakan dan Kesehatan hewan terdekat.

Back to top button