TinjauAds
Tinjau

Ronggeng Dukuh Paruk dan Kepedulian Kontemporer

Dibaca dalam waktu3 Menit, 28 Detik

Ronggeng Dukuh Paruk ditulis Ahmad Tohari memang hanyalah fiksi, itu pun berlatar empat puluh tahun lalu. Namun, jika direnungkan, fiksi ini masih relevan bagi kehidupan kontemporer. Seperti apa?

Jakarta, tinjau.id Fiksi tulisan Ahmad Tohari, yang empat puluh satu tahun silam terbit dalam edisi trilogi, kembali diterbitkan dalam satu novel berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Pada edisi trilogi, Tohari pada tahun 1982 memberi judul masing-masing: Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala.

Ronggeng Dukuh Paruk ini mengisi satu lubang dalam diskursus Indonesia mengenai kehidupan religius; hubungan manusia dengan Tuhan dan aspek praktisnya soal hubungan manusia dengan manusia lain. Melalui fiksi ini Tohari ingin mempertajam makna ‘mencintai Tuhan’ dapat diejawantahkan dalam sikap prihatin manusia bagi kehidupan sosial yang miskin di sekitarnya.

Tohari menciptakan fiksi, namun nilai moral di dalamnya begitu relevan; Indonesia yang demokrasinya berusia hampir satu abad masih berkutat soal persoalan kemiskinan. Padahal, kehidupan religius serta habit persaudaraan dalam diri manusia Indonesia sangat kuat.

Tohari memberi perspektif bagi refleksi kemanusiaan: jika iman berisi kasih kepada sesama, dan persaudaraan menjadi jiwa bagi gotong royong yang dihidupi Indonesia, lalu mengapa kemiskinan tidak teratasi dengan sendirinya?

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]

Gaya Tohari dalam menulis novel ini menghadirkan alur gabungan yang maju mundur.

Tohari mulai dengan perkenalan yang bercerita tentang hidup Rasus dan Srintil saat masih anak-anak dan menjadi yatim piatu karena orang tua mereka keracunan massal di Dukuh Paruk. Kemudian berlanjut mengenai kematian Emak Rasus yang dihiasi dengan kehidupan Ki Secamenggala bersamaan dengan itu muncul sosok Nenek Rasus, Kartareja.

Pada bagian perkenalan Tohari menghadirkan situasi adanya sayembara Bukak Klambu, di sana muncul tokoh Dower dan Sulam. Kemunculan tokoh utama juga diperkenalkan pada bagian paling awal di mana Tohari menghadirkan Sersan Slamet dan Kopral Pujo.

Ronggeng Dukuh Paruk menghadirkan malapetaka keracunan tempe bongkrek sebagai konflik utama.

Keracunan massal ini membunuh sebagian masyarakat Dukuh Paruk, termasuk kematian Ronggeng yang terakhir di Dukuh Paruk serta penabuh gendangnya. Srintil kemudian dimuculkan Tohari sebagai Ronggeng baru yang hidupnya kemudian mulai berubah.

Srintil kecil yang akrab dengan Rasus, Warta, dan Darsun kemudian berubah sibuk dan tidak punya waktu bermain. Konflik antara Srintil dan Rasus pun terjadi, hubungan yang renggang, padahal Rasus menyukai Srintil.

Konflik antara Rasus dan Srintil meningkat pada bagian yang oleh Tohari semacam penegasan yang kuat mengenai konflik yang ‘sekedar hubungan renggang.’ Srintil harus menyelesaikan syarat terakhir menjadi seorang Ronggeng.

Untuk menjadi seorang Ronggeng, Srintil harus mengikuti sayembara Bukak Klambu. Karena sayembara ini hubungan antara Rasus dan Srintil semakin goyah.

Konflik yang awalnya hanya kerenggangan hubungan berubah menjadi kebencian. Rasus menunjukkan kebenciannya tidak hanya terhadap Srintil tetapi juga kepada semua kebudayaan yang ada di Dukuh Paruk.

Pada akhirnya, Srintil pun menjadi Ronggeng Dukuh Paruk.

Seorang Ronggeng ada untuk banyak orang; menjadi milik banyak orang. Tidak dapat seorang laki-laki berharap untuk memiliki seorang Ronggeng. Begitu pula dengan Srintil. Rasus harus merelakan Srintil.

Rasus meninggalkan Dukuh Paruk tetapi tidak semata karena sikap mengalahnya karena tidak mendapatkan Srintil, tetapi karena kebenciannya pada Dukuh Paruk, prasangkanya terhadap tindakan semena-mena Dukuh Paruk yang dianggap menciptakan penderitaan. Bagi Rasus, Dukuh Paruk bernoda.

Rasus kemudian diceritakan membuat pilihan-pilihan yang nantinya mengubah segalanya, baik tentang Srintil, asal usul ibunya dan juga tujuan hidupnya.

Terlepas dari prasangka Rasus atas kehidupan di Dukuh Paruk, ada geliat yang bangkit ketika Dukuh Paruk akhirnya memiliki Ronggeng dalam diri Srintil. Kemiskinan dalam dusun kecil menjadi kembali bersahaja ketika ada Ronggeng.

Tetapi memiliki seorang Ronggeng ternyata tidak cukup. Malapetaka tahun 1965 menghancurkan kebersahajaan Dukuh Paruk. Kebodohan soal politik membawa warga Dukuh Paruk pada vonis sebagai pengkhianat. Dukuh Paruk dibakar habis, tapi tidak dengan Srintil yang akhirnya harus meringkus di dalam tahanan.

Di sana, Srintil banyak merefleksikan diri mengenai harkat manusia. Usai bebas, Srintil mencoba memperbaiki semua, termasuk hubungannya dengan Rasus. Tetapi semua tidak berhasil.

Dapat dirangkum: fiksi Ahmad Tohari ini adalah sumbangan penting bagi sastra Indonesia yang merefleksikan kehidupan masyarakatnya.

Meski terbit sekitar 1980-an, isu kemiskinan dalam hidup sosial Indonesia masih penjadi problematika kontemporer kini. Ketika manusia modern menegaskan dirinya beriman dan tekun tetapi masih banyak yang abai pada upaya meningkatkan kehidupan yang lebih baik bagi sesamanya yang tidak memiliki akses untuk maju. (Penulis: Michael/Editor: Sean)

Back to top button