TinjauAds
Tinjau

Lato-Lato Kembali Tren

Dibaca dalam waktu2 Menit, 41 Detik

Lato-lato Sempat Dilarang

Permainan ini sempat menimbulkan kontroversi sekitar tahun 60 hingga 70-an. Pertama, karena suaranya dianggap mengganggu. Di samping itu, clackers juga menimbulkan kekhawatiran bagi orangtua karena beberapa anak dilaporkan terluka akibat bermain clakers.

Luka yang ditimbulkan tidak sekadar benjol karena terkena bola. Mainan clakers dianggap berbahaya karena dapat pecah menjadi serpihan tajam. Hal ini terjadi ketika anak semangat menggoyangkan tali sehingga bola-bola bertubrukan terlalu keras.

Risiko ini ada karena clakers zaman tersebut terbuat dari kaca temper. Bahan dasar yang demikian berpotensi pecah dan membentuk serpihan yang terlempar saat dimainkan.

Pada 1966, Food and Drug Administration bahkan mengeluarkan peringatan terkait bahaya clackers. Lembaga tersebut juga melakukan pengujian laboratorium guna mengetahui kecepatan gerakan dan potensi pecahan dari clackers.

Hasilnya, permainan ini pun dilarang karena dianggap mengandung bahan kimia maupun radioaktivitas serta mudah terbakar. Keputusan pelarangan yang diikuti penarikan produk dari pasaran ini didukung oleh banyak lembaga, termasuk Society for the Prevention of Blindness.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Dilarang Membawa Lato-Lato ke Sekolah

Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, melarang murid membawa lato-lato ke sekolah. Lato-lato dianggap mengganggu fokus belajar.

Larangan ini disampaikan melalui surat edaran bernomor 420/13/IV.01/2023. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Barat Edwin Kastolani Burta membenarkan adanya surat edaran itu dan menyebut larangan ini bertujuan untuk membuat para siswa fokus belajar.

“Jadi tujuan kami agar siswa ini dapat fokus mengikuti kegiatan belajar mengajar. Karena yang saya pantau dalam kunjungan beberapa hari lalu, para siswa ini asyik bermain lato-lato di lingkungan sekolah dan kami menilai ini mengganggu,” kata Edwin saat dihubungi, Rabu (4/1/2023).

Selain mengganggu fokus belajar, Edwin juga mengaku khawatir murid menggunakan lato-lato sebagai senjata untuk berkelahi.

“Pada dasarnya kami tidak melarang untuk anak-anak bermain Lato-lato, tapi yang kami larang lato-lato dibawa ke lingkungan sekolah pada saat kegiatan sekolah. Kami juga menghindari jika terjadi keributan sesama siswa dan lato-lato dijadikan alat, maka kami larang dimainkan di lingkungan sekolah,” terangnya.

Penulis: Claudia Stella Hanu

Editor: Balsamus Pieter Dwiwasa

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button