TinjauAds
Tinjau

Pamflet Hoax Penculikan Anak Beredar di Samarinda

Dibaca dalam waktu1 Menit, 19 Detik

Pamflet hoax berita penculikan anak banyak beredar di sejumlah daerah di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. TNI-Polri pun turun tangan mencopot ratusan pamflet yang meresahkan masyarakat tersebut.

Samarinda – Karena mulai meresahkan, babinsa bersama bhabinkamtibmas dan petugas kelurahan di wilayah Kota Samarinda pun bergerak untuk mencopot ratusan pamflet yang berisi berita hoax penculikan anak di wilayahnya pada Jumat (3/2/23) pagi ini.

Hal tersebut mereka lakukan, lantaran hingga kini polisi belum menemukan adanya kasus penculikan anak di wilayah Kota Samarinda.

Salah satu lokasi yang menjadi sasaran petugas adalah di sekitar kawasan Jalan Otto Iskandar, Kecamatan Samarinda Ilir, Kota Samarinda.

Sejumlah personil TNI-Polri pun berjalan kaki menyusuri kampung lantaran ratusan pamflet berisi berita hoax penculikan anak tersebut telah luas tersebar.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Anggota Babinsa Kelurahan Sidodadi, Sertu Joko Praseno mengatakan pamflet berisi berita penculikan anak palsu tersebut harus segera dibersihkan karena mulai meresahkan masyarakat.

“Jadi hari ini, kami bersama bhabinkamtibmas dan petugas kelurahan setempat, berkeliling untuk mencopot pamflet yang telah tertempel di berbagai tempat. Hal ini kami lakukan lantaran kabar penculikan anak yang belum bisa kami pastikan kebenarannya,” kata Joko.

Menurut Joko, meski niat pelaku penyebar pamflet tersebut cukup baik, agar masyarakat waspada, namun membuat masyarakat resah.

“Jadi sebenarnya, mungkin niat pelaku itu baik. Ingin memperingatkan masyarakat tentang bahaya penculikan anak. Tetapi kan sampai dengan saat ini kan kasus itu belum ada di Kota Samarinda. Yang ada, selebaran itu justru meresahkan masyarakat,” imbuh Joko.

Terkait hal itu, petugas TNI-Polri pun kini tengah memburu otak pelaku penyebaran ratusan pamflet palsu. Pasalnya, pelaku juga melibatkan para murid sekolah untuk ikut menyebarkan pamflet tersebut di lingkungan sekolah.

Editor: Stebby Julionatan

Back to top button