TinjauAds
Tinjau

Charles Griswold: Tentang Pengampunan

Dibaca dalam waktu1 Menit, 56 Detik

Charles Griswold: Tentang Pengampunan. Momen pergantian tahun merupakan saat yang tepat untuk merefleksikan kembali pengalaman kita dengan teman dan keluarga yang sudah kita lalui.

Jakarta – Di awal tahun 2023 ini, banyak dari kita yang telah membuat resolusi dan target yang ingin dicapai. Banyak pula yang membiarkan hidup mengalir seperti air, dan menikmati segala dinamika hidup. Keduanya kaya makna dan memiliki tantangan tersendiri.

Momen pergantian tahun merupakan saat yang tepat untuk merefleksikan kembali pengalaman kita dengan teman dan keluarga yang sudah kita lalui. Tentunya banyak suka dan duka yang menghiasi perjalanan hidup kita selama setahun terakhir. Kita bersyukur atas segala berkat dan kebahagiaan yang kita terima, juga atas kehadiran orang-orang yang datang dan memberi warna dalam hidup kita. Dan di samping itu, kita juga belajar dari kesalahan yang mungkin kita lakukan pada orang lain dan orang lain lakukan kepada diri kita dalam interaksi yang terjalin.

Maka, untuk meringankan langkah kita di tahun baru 2023 ini, ada baiknya kita mengupayakan pengampunan.

Pentingnya Pengampunan

Charles Griswold, seorang profesor Filsafat di Universitas Boston, menguraikan kompleksitas dari pengampunan.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Tentu saja untuk memaafkan, kita perlu meninggalkan pikiran dendam dan keinginan balas dendam. Griswold berpendapat bahwa pengampunan yang ideal adalah ketika pelaku mengakui kesalahannya dan mengambil langkah untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Dalam mengambil langkah-langkah seperti itu, orang yang melakukan kesalahan pada umumnya mencari pengampunan. Jadi ada hubungan dua arah antara pihak yang mengampuni dan yang diampuni.

Bentuk pengampunan yang tidak sempurna, menurut Griswold, adalah pengampunan yang sepihak, di mana seseorang memaafkan, terlepas dari langkah apa pun yang diambil oleh pelaku.

Griswold percaya bahwa pengampunan sejati adalah tindakan bilateral yang mempertahankan “hubungan moral antara diri sendiri dan orang lain.” Dia mencatat bahwa pengampunan bukan hanya kelegaan dari amarah, melainkan juga tindakan mengungkapkan cita-cita moral, seperti kebenaran, saling menghormati, dan rekonsiliasi.

Kita diingatkan untuk bersedia rendah hati dalam menyadari kesalahan dan mau memperbaiki kesalahan yang telah kita lakukan. Hal ini akan menjadi jauh lebih baik jika kita juga berkomitmen untuk belajar dan tidak megulangi kesalahan yang sama. Lebih dari itu, kita juga perlu memberi pengampunan kepada orang yang telah menyakiti atau mengecewakan kita. Sebab dengan demikian, kita mampu melepaskan emosi negatif yang tertahan dalam hati dan pikiran kita, dan boleh merasakan kedamaian batin kembali.

Mari menjalani tahun 2023 ini dengan hati yang lapang dan penuh sukacita!

Penulis : Claudia Stella Hanu

Editor   : Balsamus Pieter Dwiwasa

Back to top button