TinjauAds
Tinjau

Waspadai Kembalinya Wabah Flu Burung

Dibaca dalam waktu2 Menit, 21 Detik

Waspadai kembali merebaknya penyakit flu burung yang pernah terjadi beberapa tahun lalu. Penyakit ini sudah merambah salah satu negara ASEAN, Kamboja.

Jakarta, tinjau.id – Sesudah terjadi flu burung yang menjangkiti binatang mamalia di berbagai negara Eropa, kini mulai ada kasus pada manusia. Wabah penyakit ini juga sudah sampai di salah satu negara ASEAN, yakni Kamboja.

Awalnya seorang anak meninggal karena flu burung, lalu kemudian ayahnya juga positif terkena penyakit ini.

Menurut mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, kejadian itu mengingatkan kasus flu burung di Indonesia.

Awalnya , juga bermula pada seorang anak yang terkena flu burung, yang mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit di Jakarta.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

“Kemudian ayahnya juga tertular dan bahkan akhirnya meninggal dunia,” tutur Tjandra Yoga dalam keterangannya yang diterima Tinjau.id, Rabu (1/3/23).

Tjandra Yogya menyebutkan, wabah itu kemudian merebak cukup luas karena sudah terjadi penularan antarmanusia berkesinambungan (sustained human to human transmission).

Untuk kasus di Kamboja ini, ada 22 ekor ayam dan tiga bebek yang mati di lingkungan rumah keluarga itu.

Di desanya juga ada sejumlah burung liar yang mati, serta masih ada 11 orang lagi yang sedang dalam pemeriksaan, kemungkinan tertular.

Kematian unggas juga terjadi di negara kita pada waktu kasus flu burung pada manusia meningkat beberapa tahun lalu.

“Bahkan angka kematian cukup tinggi pula,” tutur Tjandra Yoga.

[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]

Untuk mengantisipasi wabah ini, ada baik kalau Kementerian Kesehatan mengkoordinasikan seluruh Kementerian Kesehatan negara ASEAN untuk kewaspadaan. Karena sekarang Indonesia memegang tampuk keketuaan ASEAN.

Tjandra Yoga mengemukakan, ada tiga hal yang harus mendapatkan perhatian.

Pertama, mendeteksi apakah ada kasus di negara ASEAN lain di luar Kamboja (termasuk Indonesia).

Kedua, kalau memang ada maka perlu upaya maksimal untuk mengendalikan di sumbernya (contain at the source) supaya kasus tidak keluar ke negara lain.

Pemerintah Harus Lakukan Lima Hal Ini

Ketiga, negara yang belum ada kasus perlu membentengi diri agar jangan kemasukan wabah ini.

Tjandra Yoga juga mengimbau, pemerintah perlu melakukan lima hal ini.
Pertama surveilan ketat pada unggas dan manusia untuk mendeteksi awal kalau-kalau sudah ada kasus.

Untuk unggas mendeteksinya bisa di tiga tempat, yakni peternakan, pasar ayam, dan lingkungan rumah.

Sedangkan untuk manusia maka dapat mendeteksi di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain. Apalagi kalau ada klaster beberapa orang dengan gejala yang sama.

Kedua, kalau ada kecurigaan kasus pada manusia dan juga hewan, maka tim yang turun ke lapangan haruslah gabungan antara kesehatan dan juga kesehatan hewan.

Ketiga, mengecek ulang kesiapan dan ketersediaan sarana diagnosis, kalau-kalau nanti diperlukan secara luas.

Keempat, mengecek ketersediaan obat flu burung dan bagaimana cara mendapatkannya, kalau-kalau suatu saat membutuhkan obat tersebut.

Kelima, bekerja sama dengan WHO memantau perkembangan kasus di berbagai negara.

“Memantau perkembangan genomik kasus pada manusia dan unggas, serta kerja sama internasional untuk ketersediaan logistik,” pungkas Tjandra Yoga.

Back to top button