TinjauAds
Tinjau

Mengenang Novelis NH Dini

Dibaca dalam waktu2 Menit, 4 Detik

Siapa tak kenal NH Dini? Salah satu sastrawan kenamaan Tanah Air.  Penulis novel “Pada Sebuah Kapal ini” seandainya masih hidup, 29 Februari 2023 ini merayakan ulang tahun ke-87.

Jakarta, tinjau.id – Kecelakaan mobil pada 4 Desember 2018 di tol Tembalang, Semarang merenggut nyawa NH Dini pada usia 82 tahun.

Nurhayati Sri Hartini Siti Nukatin, begitu nama lengkapnya. Lahir di Sekayu, sekarang, Jawa Tengah pada 29 Februari 1936. Terlahir dari pasangan RM Saljowidjojo dan Kusaminah sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. 

NH Dini pernah berkarier sebagai pramugari di Garuda Indonesia Airways. Ia menikah dengan diplomat Prancis, Yves Coffin.

Dari pernikahannya itu, ia mendapat dua anak, Marie Claire Lintang dan Pierre Louis Padang. 

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Lebih dari 20 tahun NH Dini tinggal di berbagai negara, seperti Jepang, Kamboja, Filipina, Amerika Serikat, Belanda dan Prancis.

Penerima Southeast Asia Writers Award di Bangkok (2003), pada tahun yang sama, mendapat undangan ke Nagoya, Jepang. Dia  memberikan kuliah di Nanzan University. 

Sebelumnya, NH Dini juga pernah berkeliling Australia untuk memberikan kuliah umum di berbagai universitas atas sponsor Australia-Indonesia Institute. 

[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]

NH Dini yang di masa tuanya memilih tinggal di wisma lansia  ini pernah menuturkan ketertarikannya di dunia kepenulisan  sejak kelas tiga SD. Ia menulis sebagai ungkapan pelampiasan hati. 

Passion menulis fiksi mulai cemerlang saat ia di bangku sekolah menengah. Dia memulai debutnya dengan aktif mengisi majalah dinding sekolah dengan puisi dan cerita pendek. 

Tak hanya menulis saja. Di usia 15 tahun, penulis novel “Namaku Hiroko” ini membacakan karyanya berupa sajak dan prosa berirama di RRI Semarang. 

Banyak orang mengenal NH Dini banyak sebagai pengarang sastra prosa Indonesia terkemuka.

Salah seorang tokoh  A Teeuw  menyatakan bahwa novel-novel NH Dini sangat mengesankan, baik jumlah maupun kualitasnya. Selain itu, dia  juga dikenal sebagai pengarang yang secara intens membicarakan masalah perempuan.

Menyuarakan Kaum Perempuan

Karya-karyanya selalu menarik. Ia bicara banyak hal.

Merangkum dari berbagai sumber, banyak yang menyebutnya sebagai pengarang sastra feminis yang terus menyuarakan kemarahan kepada kaum laki-laki. 

Dini pernah mengatakan bahwa ia akan marah bila mendapati ketidakadilan. Khususnya ketidakadilan gender yang sering kali merugikan kaum perempuan. 

Selain bicara feminisme, tulisan-tulisan Dini juga bercerita tentang kehidupan pribadinya semasa tinggal di luar negeri.

Karya-karya Dini semacam punya nyawa dan berbicara masa depan.

Seperti di karya terakhirnya, novel bertajuk “Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya, ia juga menyinggung tentang kematian.

Tulisan itu merupakan  karyanya ke-15 sekaligus terakhir yang ia persembahkan untuk pecinta setianya. 

 

Back to top button