TinjauAds
Tinjau

Shinta Ratri Pendiri Ponpes Waria Berpulang

Dibaca dalam waktu1 Menit, 53 Detik

Shinta Ratri, pengasuh pondok pesantren waria Al Fatah, Yogyakarta, berpulang hari ini. Jenazah Shinta dihantarkan oleh ratusan pelayat dari berbagai kalangan ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Semoan, Kotagede.

Yogyakarta – Tangis kesedihan mewarnai pemakaman Shinta Ratri yang meninggal karena sakit di Yogyakarta, pagi (1/2/23) tadi. Semasa hidup, Shinta dikenal sebagai pejuang hak bagi para waria. Sosoknya yang cerdas dan kritis, berhasil menginspirasi kawan-kawan trans menuju perubahan hidup yang lebih baik.

Shinta Ratri lahir 15 Oktober 1962. Hingga akhir hayat, Shinta dekat dan mengayomi teman-teman waria. Pasca berpulangnya Maryani, pendiri ponpes Al Fatah, Shinta melanjutkan ide perjuangan seniornya tersebut bagi hak beribadah kelompok waria.

Dalam sebuah wawancara, mantan Ketua Ikatan Waria Yogyakarta tersebut menjelaskan rasanya diskriminasi bagi para waria saat hendak beribadah. Salah satunya, mendapat penolakan dari warga sehingga membuat tidak nyaman.

Keberadaan ponpes yang berada di tengah-tengah permukiman warga juga bagian dari upaya menghapus stigma negatif masyarakat terhadap waria. Terbukti, para waria yang belajar agama di ponpesnya, bisa berbaur dengan baik dengan masyarakat sekitar.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Dalam menghidupkan ponpesnya, Shinta Ratri tak pernah surut melangkah meski menghadapi banyak penolakan. Menurutnya, pesantren adalah sekolah pertama untuk kaum transgender di mana pun.

Selain belajar agama, di tempat itu, para santri waria juga mendapatkan pendidikanyang dapat meningkatkan perlakuan masyarakat terhadap waria.

Semasa hidupnya, Shinta Ratri mengenyam pendidikan di Fakultas Biologi UGM. Shinta juga dikenal sebagai mahasiswi yang cerdas dan kritis. Selepas kuliah, ia memilih berbisnis dengan menekuni usaha kerajinan perak.

Penghargaan Pejuang HAM dan Kemanusiaan

Perjuangan Shinta Ratri untuk transgender membuat dirinya diganjar penghargaan sebagai pejuang hak asasi manusia (HAM) dari Front Line Defenders di 2019.

Lembaga yang bermarkas di Irlandia itu menilai Shinta adalah sosok inspiratif di Asia Pasific dalam memperjuangkan hak waria melalui pendidikan di pondok pesantren.

Uki Darban, salah satu sahabat baik Shinta Ratri menyebut bahwa sosok pejuang HAM itu dikenal sangat baik hati dan keibuan.

“Sejak muda memang terlibat aktif dalam pendidikan advokasi dan mendampingi para waria. Kepergian Shinta Ratri menjadi kehilangan besar bagi siapa pun. Tak hanya para waria, tapi siapa pun yang mengenal kebaikannya,” kata Uki.

Jenazah Shinta Ratri dimakamkan di Makam Semoyan Kotagede, sekira pukul 15.00 WIB, sore tadi. Shinta diantarkan ratusan pelayat dari berbagai kalangan dan berbagai daerah. Sugeng tindak, pejuang HAM!

Penulis: Yeti Kartikasari
Editor: Stebby Julionatan

Back to top button