
TINJAU – Saya memiliki seorang sahabat yang sangat dekat dengan saya. Salah satu kebiasaannya adalah mengonsumsi makanan pedas. Yang menarik, setiap kali ia merasa kesal atau emosi, ia selalu mencari makanan pedas sebagai pelampiasannya. Sebagai sahabat yang baik dan juga seseorang yang tidak suka pedas, saya sering menegurnya, “Hati-hati, jangan terlalu pedas, nanti perutmu sakit.”
Suatu hari, sahabat saya mengalami sakit perut yang cukup serius. Setelah diperiksa dokter dan diberi obat, ia berjanji akan mengurangi kebiasaan makan pedasnya. Namun, setiap kali emosinya kembali memuncak, ia tetap mengulangi kebiasaannya itu, seolah tidak bisa menghindar dari pola yang sama.
Apa yang dialami oleh sahabat saya ini sebenarnya sering kita alami juga dalam kehidupan rohani. Kita sering merasa sudah sembuh, sudah bertobat, tetapi dengan mudah kita tergoda dan kembali melakukan kesalahan yang sama.
Dalam perjalanan rohani, dosa bukan sekadar noda yang bisa dihapus begitu saja. Dosa adalah luka yang membutuhkan penyembuhan. Jika tidak ditangani, luka itu akan tetap terbuka dan membuat kita jatuh lagi. Sama seperti luka fisik yang memerlukan perawatan, dosa juga membutuhkan obat yang berupa doa dan pertobatan.
Langkah pertama untuk menyembuhkan luka dosa adalah dengan mengakui kesalahan kita, menjalani proses pertobatan, dan yang terpenting, menyesalinya. Namun, sering kali kita sulit mencapai tahap penyesalan ini. Kita merasa bahwa dengan melaksanakan laku tobat, semuanya sudah selesai. Padahal, kita sering lupa bahwa setelah itu, kita juga harus benar-benar menyesali dosa yang telah kita lakukan.
Sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan adalah: apakah kita sungguh-sungguh menyadari dan merasakan kesembuhan yang diberikan Allah melalui sakramen rekonsiliasi atau pengakuan dosa?
Ketika kita benar-benar menyadari dan merasakan kesembuhan tersebut, tentu kita akan berubah menjadi lebih baik dan mampu mencapai tahap akhir, yaitu penyesalan sejati. Penyesalan ini ditunjukkan dengan tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.
Tanpa penyesalan yang tulus, kehidupan rohani kita hanya akan menjadi sekadar rutinitas belaka. Jika kita tidak merasa bahwa Allah bekerja dalam hidup kita, maka kepekaan kita terhadap kehadiran dan kasih-Nya akan semakin tumpul.
Semoga tulisan ini dapat membantu siapa pun yang membacanya untuk melaksanakan pertobatan secara mendalam, hingga mencapai tahap akhir, yaitu penyesalan. Ketika kita sampai pada tahap ini, kita akan merasakan karya Allah yang luar biasa dalam hidup kita. Kita akan menyadari bahwa Allah selalu hadir, menemani, dan mencintai kita tanpa pernah meninggalkan kita sendirian.
Penulis: Ignatius Oktavianus Richard Pr
Mo Ignas adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengkespresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.









