TinjauAds
Beraja Senja

Kang Je Mewujudkan yang Kubutuhkan dan Kumampu

Dibaca dalam waktu6 Menit, 1 Detik

TINJAU – Nyaris aku tak bisa berkata apa-apa lagi selain diam dan memperhatikan orang separuh baya  di depanku ini.

“Jadi, Desember sudah bisa kosongkan kamar ya.”

Tinjauan Terkait

Kepala cuma bisa mengangguk.

Tadinya mau sekadar menawar, tapi kok mulut nggak bisa bergerak meski hanya sekadar bilang kalimat sederhana.

Maka hari-hariku mulai diwarnai dengan banyak hal yang berhubungan dengan kepindahan kontrakan ini. Kamar tak luas ini mendadak seperti kapal pecah karena semua barangnya sedang kukeluarkan untuk kupilah dan kumasukkan dalam kerdus-kerdus yang sudah disediakan.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

“Pelan-pelan saja. Masih ada waktu tho?” Suara itu mendadak ada di sampingku. Tak lama tangannya membantu mengambil beberapa barang lalu menyerahkan padaku.

“Aku kok kuatir dengan semua kejadian yang menimpaku ini ya. Seperti beruntun gitu,” aku mengungkapkan rasa hatiku.

“Emang apa saja?” Kang Je bertanya.

Meski kuyakin dia sudah tahu, tapi kujelaskan saja renteten kejadian yang memang seperti beruntun akhir-akhir ini terjadi padaku. Padahal ada beberapa yang belum tamat cerita, muncul yang baru lagi. Begitu terus.

Hingga kejadian harus pindahan ini…

“Efata. Semua pintu kebaikan akan terbuka bagimu,” komentar Kang Je sesaat aku selesai curhat.

“Amin, Kang…”

“Kamu bisa menjalani proses hidupmu kali ini dengan baik kok.” Nada ucap Kang Je optimis sekali.

“Aku tahu…” Kusudahi sebentar beberesku. Lelahku sudah hampir sejak pagi tadi. “Aku tahu, aku bisa melalui ini. Kan sudah beberapa kejadian berat dalam hidup, bisa selamat dan selesai kulalui… Cuman, proses menuju ke sana itu loh, kok kayak ribet banget. Aku merasa lama dan sendirian…”

Tangan kekar Kang Je melingkar di belakang leherku.

Satu hal ini memang bagian yang sangat aku suka. Ia sangat tahu itu.

“Aku percaya kok kamu bisa. Kalau merasa sendiri, kan Aku ada di sini…”

“Iya, Kang… Kalau itu aku sangat tahu. Tapi, kan yang menjalani aku. Jadi proses ini yang kumaksud dengan sendiri. Mau tidak mau harus kujalani. Kesekian kali.” Aku menunduk.

Kurasakan rengkuhan Kang Je semakin kuat. “Jalani dulu ya, anakKu… Iklaskan buat semua yang terjadi.”

Ada bulir bening menetes tanpa kuminta.

Seiring itu, kuanggukan kepala untuk saran yang diberikan Kang Je barusan.

^^^^^

“Maaf, Tuhan… Aku tuh pengennya dapat tempat tinggal yang dekat, ada halaman, bukan pintu ketemu pintu, murah, aman, nggak jauh dari tempat aktivitas dan pasar juga boleh tamu masuk meski harus di ruang tamu.”

Hatiku seperti sedang nyerocos sesaat rosario selesai kupanjatkan di kapel ini.

“Kamu itu sebenernya mau dan butuhnya apa tho?” suara itu kembali terdengar di sebelahku. Sama selesai berdoa Rosario rupanya. “Dari kapan hari semua jenis doa, permohonannya beda-beda. Nggak kasihan apa pada BapaKu tiap mendengar doamu beda melulu.”

Aku mengernyitkan kening.

Orang yang aneh. Kok bisa tahu kalau Bapa bingung dengan doaku? Lha wong katanya, sebelum kita mengucap doa, Allah Bapa sudah tahu duluan doa kita apa?

“Kamu itu, sebenarnya mau pindahan, tapi kok maunya banyak? Emang sudah pernah lihat-lihat segala kemungkinan?”

“Belum sih… Masih sibuk. Berencana memang minggu depan setelah novena selesai, aku mau mencari.”

“Wah, pakai novena segala? Hebat!” Kang Je menunjukkan ibu jarinya padaku.

“Kan katanya di semua perbuatan, selalu sertakan dalam doa…”

“Bener juga…” Kepala Kang Je angguk-angguk. “So… Kamu sebenarnya inginnya yang gimana?”

Tanpa diminta 2x, mulutku kembali nyerocos tentang semua apa keinginan yang sudah tertancap di kepala.

Kang Je mendengarkanku dengan seksama.

Tak lama, ia menarik nafas panjang.

“Banyak amat ya…,” komentarNya. Wajahnya jadi mendadak lucu. Mungkin antara kaget dan merasa aneh. Sebentar Dia terdiam “Inget nggak, pas pertama kamu pindah ke sini, kamu meragu sebab takut tidak bisa menjalankan kewajibannya dengan baik?”

Aku mengangguk.

Harga kontrakan di sini, waktu itu sedikit lebih dari budgetku. Membuatku meragu.

“Tapi, kamu ingat apa yang tiba-tiba membuatmu yakin mau tinggal di sini saja?”

Ganti aku yang diam sebentar. Membiarkan ingatanku kembali muncul. “Mmm… Karena aku yakin akan dicukupkan untuk melaksanakan kewajibanku.”

“Nah, BapaKu berkenan memberi yang cukup itu kan?”

Senyum berkembang tipis di bibirku. Bener juga…

“Lalu, ketika sedang galau tak berujung, ada seseorang yang datang kepadamu, masih ingat apa yang berbisik begitu kalian bener bertemu satu sama lain?”

Matakuk berbinar. Tentu masih ingat peristiwa indah itu. “Jangan tolak dia. Dia akan memberi bahagia.”

Kang Je tersenyum lebar. Ia jentikkan jari manisNya.

“Jadi mintalah yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuanmu.”

Kali ini bukan saja terdiam

Tapi, aku benar-benar terpana karena ucapan Kang Je barusan.

“BapaKu di surga memang sangat tahu masing-masing kebutuhan anak-anaknya. Tetapi, Dia juga tidak ingin kita bertele-tele dalam doa (Matius 6:7-8). Maka, biarkan Ia memberikan yang kamu butuhkan. Sesuai kemampuanmu.”

Kang Je berdiri, menyibakkan jubahnya lalu menepuk bahuku lembut. “Jangan lupa mencari yang harus kamu cari ya. Akhir bulan ini akan ada kabar baik buatmu.”

Aku tersenyum. Membiarkan sisa kehangatan yang selalu terpancar dari kehadiranNya it uterus memenuhi sekujur tubuhku.

Dari telapak kaki hingga ujung kepala…

^^^^^

Mataku tak habis menyapu pemandangan di hadapanku.

Lingkungan ini nyaman sekali, dikelilingi banyak tanaman yang dipelihara dengan baik. Sekitar juga rapi tertata. Seperti rumah masa kecilku.

Sirkulasi udara dari dan ke dalam kamar jadi sangat terjaga.

Ah.

Aku merasa sedang berada di tempat yang kumau.

Ada perasaan senang menginjakkan kaki di tempat ini.

Sesaat yang menunggu kontrakan menyebut nilai yang harus dibayarkan untuk semua falitas ini, kepalaku berkenyut.

“Nggak usah kelamaan mikir,” selintas ada bisikan melintas.

Mataku hendak menoleh ke samping, memastikan siapa yang barusan berbisik. Tapi, malah ekor mataku menangkap bayangan itu sudah sedang duduk di ruang makan sambil mengangkat gelas kopi.

Dia tersenyum lebar sambil mengedipkan mata.

Wah ada yang beri kode…

Tanpa meragu, mulutku langsung memesan kepada penunggu kontrakan, sekira benar nanti ada yang kosong, agar segera mengontakku.

Dan, entah kenapa, sepulang dari sana, hatiku terasa riang gembira.

Suka cita.

Seperti mendapat sebuah kebahagiaan baru.

Cuma….

Seminggu ditunggu, belum ada kabar dari tempat yang kemarin kutaksir.

Aku mulai cemas. Takut tidak keburu atau bahkan sudah didahului orang lain.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”. (Filipi 4:6) Di malam sehabis doa, tiba-tiba saja seperti ada yang mengingatkanku pada ayat itu.

Aku mengambil nafas sejenak.

Kecemasan ini lebih pada, apakah aku harus bersusah payah lagi mencari?

Apa yang sebenarnya hendak dikatakan olehNya atas semua yang terjadi ini?

Salah nggak kalau aku beneran cemas untuk segala kemungkinan yang akan terjadi?

Hhh…

Kenapa sih dalam berproses, kadang harus menemukan rasa tak nyaman begini?

Bahkan dalam doa, masih ada saja kecemasan itu hadir.

“Heh!! Doa apa tidur? Lama amat? Ada WA tuh…” Suara Kang Je mengagetkanku yang sebenarnya sudah tidak kusyu lagi berdoa.

Segera kusudahi doa dan segera membuka HP.

“Selamat pagi. Yang kemarin DP ternyata tidak jadi ngontrak. Jadi sekarang posisinya kontrakannya bisa diisi ya.”

Aku langsung mendelik.

Setengah tidak percaya.

Wah….

Baru saja dipikirin dan didoakan, sudah ada jawaban gini.

“Kan sudah kubilang, Bapamu itu tahu yang kamu butuhkan dan tahu juga kemampuanmu…,” lagi-lagi suara itu menyadarkanku. “Dah, kelamaan mikir lagi. Segera DP. Sekarang.”

Yes, Sir…

Segera kulaksanakan segala kemudahan dan kelancaran ini.

Sesuai rencanaNya…

Pagi menjadi lebih cerita dan menyenangkan sebagai pemulai hari.

Semoga seterusnya bisa merasakan demikian.

(sebagai pengingat 8 Desember 2009-2024).

Penulis: Anjar Anastasia

Beraja Senja adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button