Tumbal Hamba Uang (6)

TINJAU – Ke sekian kali tidur Bang Khery tak nyenyak.
Lagi-lagi masalahnya karena sosok itu kembali terlihat.
Tidak saja di satu tempat, tapi di mana-mana…
“Kamu memang tidak tahu diuntung! Berulang kali kesempatan bagus begitu, bukannya dimanfaatkan sebaik-baiknya, malah dibiarkan pergi begitu saja…” sosok itu melayang-layang di sekitar tempat tidur Bang Khery.
Mukanya galak laksana menahan kemarahan.
Matanya berapi-api, seolah hendak menjilat seluruh benda yang ada. Sesekali ia seperti hendak menelan Bang Khery dengan jari-jemarinya yang panjang. Bang Khery berusaha untuk menghindar.
“Aku… Aku… Aku sudah berusaha, Tuan. Aku sudah berusaha!” bela Bang Khery.
“Berusaha apa?!” Suara sosok itu kian nyaring dan terdengar jelas di telinga Bang Khery.
“Aku sudah bilang ke Myenthi dan dia juga sudah menjalaninya. Tapi, ternyata yang datang tidak bisa dipaksa untuk membayar,” Bang Khery menjelaskan. “Aku juga coba cara lain begitu ada kesempatan supaya bisa mendapat tambahan penghasilan. Tapi, ternyata semua nggak semudah yang kita rencanakan.”
“Alasan!!” sosok itu menarik diri, lalu berwujud seperti manusia biasa yang duduk di pinggiran tempat tidur. “Kamu harusnya punya kuasa penuh untuk urusan-urusan itu. Kamu itu bendahara…”
Bang Khery diam. Dia tidak bisa membantah lagi.
“Kapan hari, malah kamu memberikan dua perak buat perempuan itu. Perempuan yang sebenarnya bisa kamu nikmati gratis. Tanpa harus membayar. Tapi kamu tolak. Apa itu namanya bukan sebuah kebodohan?”
Sosok itu memperhatikan Bang Khery dengan cermat. Rasanya dia tahu apa yang sedang dirasakan bendahara Tizha itu. Beberapa kali kepalanya bergerak-gerak seperti hendak memastikan Bang Khery sedang apa.
“Baiklah, Khery… Aku beri kesempatan satu kali lagi…” suara sosok itu tidak nyaring lagi seperti pertama. “Besok kamu akan bertemu seorang jenderal. Ikuti semua perintahnya. Lakukan apa maunya. Tidak perlu membantah. Dari jenderal itu, kamu akan dapat uang banyak…”
Bang Khery terbelalak begitu mendengar kata uang banyak.
“Kamu pasti tertarik, bukan??” senyum menggoda sosok itu sebentar menutup keseraman mukanya begitu melihat reaksi Bang Khery tadi. “Sekarang kamu tidur. Jangan lupa besok kamu akan bertemu seorang jenderal dan harus menuruti perintahnya. Turuti perintahnya. Turuti perintahnya…!!”
Suara sosok itu bergema dan berulang terdengar, lalu pelan menghilang seiring malam.
***
Pagi-pagi ada suara gaduh di luar.
Tizha sejak subuh mengunjungi pasien yang sedang sakit, sehingga kegaduhan ini tidak ia ketahui. Bang Khery yang mewakili terpaksa harus keluar untuk mengetahui ada apa sehingga kegaduhan ini terjadi. Suaranya cukup mengganggu juga.
Begitu Bang Khery keluar, ternyata ada utusan yang meminta Bang Khery menghadap jenderal. Keributan yang sempat terjadi tadi disebabkan oleh utusan yang menggedor-gedor pintu penginapan Tizha dan timnya, sehingga membuat yang lain terganggu. Untungnya memang Tizha sudah pergi.
Ternyata memang benar seperti yang dikatakan sosok itu semalam, Bang Khery dipanggil oleh seorang jenderal di daerah itu. Lewat utusannya tadi, Bang Khery dipanggil sebagai bendahara Tizha.
Bang Khery jadi cemas, takut pernah melakukan kesalahan tertentu.
Ia sempat berkelit untuk menunggu Tizha pulang, tetapi utusan itu makin mengancam dengan segala macam alasan. Bang Khery mengalah. Dia akhirnya pergi mengikuti utusan itu. Sam yang semula hendak menemani Bang Khery terpaksa ditolak karena Bang Khery tidak ingin hal lain terjadi pada temannya itu.
Begitu sampai di tempat jenderal berada, Bang Khery dipersilakan langsung untuk menemui pejabat tinggi tersebut.
Bang Khery berusaha untuk tenang meski sempat dag-dig-dug juga.
“Kamu bendahara Tizha, bukan?” tanya jenderal itu, memulai pembicaraan. Suaranya berat sehingga menimbulkan kesan karisma sendiri.
“Iya, Tuan…” jawab Bang Khery sopan.
“Kamu tahu tuanmu itu membuat resah banyak orang termasuk pimpinan kita?” tanya jenderal itu lagi dengan nada lebih serius.
Bang Khery kaget mendengar berita itu.
“Maksud Tuan?”
“Dia membuat banyak tabib, dukun, dan tukang obat nggak laku karena pengobatan Tizha boleh bayar, boleh tidak. Para tabib protes dan merasa pekerjaan mereka diserobot, bahkan mereka dituduh berdusta, sebab memberi obat banyak dan mahal. Pimpinan kita bingung dan juga marah karena pajak jadi kian berkurang sejak kehadiran kelompok Tizha ini.” Jenderal itu menjelaskan panjang lebar, membuat Bang Khery tertunduk. “Kamu tahu sendiri, kota Syolem ini terkenal karena pengobatan dan tabibnya. Kita hidup dari situ. Lalu berubah sejak ada Tizha.”
“La-la-lalu… Apa yang harus saya lakukan, Jenderal?” tanya Bang Khery, takut-takut. Suaranya terbata-bata karena sedikit gemetaran.
“Gampang.” Jenderal berwajah tegas itu menunjuk Bang Khery. “Kami sudah mengumpulkan semua kesalahan dan dosa Tizha atas kota ini. Tapi, dia tidak bisa dengan mudah kami tangkap karena banyak pengikut, atau yang sudah dibantunya selama ini membela serta melindungi. Kami butuh bantuanmu.”
“Ba-ba-bantuan ap-ap-apa, Tuan?” Bang Khery masih menahan takutnya. Di kepalanya mulai berseliweran dugaan yang membuatnya nyaris tidak bisa berkutik lagi.
Jenderal itu mendekati duduk Bang Khery. “Kita mau menangkapnya dua hari lagi. Kamu cuma menjadi perantara kapan waktunya kami harus tangkap dia.”
“Dua hari lagi, Tuan?” tanya Bang Khery, meyakinkan diri.
Kepala jenderal mengangguk-angguk. “Kita tidak mungkin menunda-nunda lagi. Kalau kamu tidak mau bekerja sama, berarti kamu yang harus bertanggung jawab.”
“Eh-oh-eh… Jangan, Tuan… Jangan…” Bang Khery menolak.
“Maka, kamu harus menuruti perintahku tadi. Akan ada upah juga buatmu kalau semua beres dan terkendali.”
Jenderal itu mengeluarkan kantung uang dan sengaja menggoyang-goyangkan kantung berisi penuh uang. Dari suaranya, Bang Khery bisa menebak kalau itu terdiri dari beberapa uang emas dan perak.
Banyak sekali nampaknya.
“Turuti… Turuti… Turuti…!!” suara sosok itu mendadak terngiang di telinga Bang Khery. Ketika mata Bang Khery memandang ke arah sang jenderal, sekelebat wajah sang jenderal seperti berubah dengan menjadi sosok yang selama ini mengikutinya.
Ia sedang menyeringai seperti mengancam sekaligus menebarkan rayuan mautnya barusan.
Maka, segera saja Bang Khery menangguk-angguk pertanda setuju.
Wajah sang jenderal berubah kembali menjadi wajah aslinya. Ia tersenyum lebar lalu menepuk-nepuk bahu Bang Khery pertanda senang.
Rayuannya berhasil.
***
Hari-hari menjelang hari itu membuat hidup Bang Khery makin tidak tenang. Dia terlihat gusar, lebih dari biasa. Bahkan beberapa kali ia melakukan hal di luar biasanya.
Seperti ketika ia meminta Sam dan Dera belanja bahan masakan untuk makan malam dua hari lagi. Biasanya Sam dan Dera hanya diberi uang pas yang benar-benar pas. Tapi, hari itu Bang Khery memberi uang yang sangat berlebih untuk belanja.
Ketika Sam memastikan jumlah uang yang diberikan itu salah atau tidak, Bang Khery mengatakan tidak dan meminta mereka membeli bahan makanan yang terbaik. Tentu saja membuat kesukaan tersendiri bagi mereka.
Bisa dihitung jari, kapan saja Bang Khery memberi bonus begini.
Di antara hari-hari meresahkan itu, tamu-tamu yang datang berobat bukannya berkurang, malah semakin banyak. Sering kali terlihat anak buah Tizha kewalahan melayani mereka. Meski ada yang hanya kontrol atau minta obat ulang, tetap saja rumah itu serasa tidak ada sepinya.
Di antara mereka ada salah satu perempuan yang sangat dikenal baik oleh Tizha dan kawan-kawan. Dia Mirina, perempuan yang pernah meminta Tizha datang ke rumahnya untuk menyembuhkan saudara laki-lakinya.
Kalau dulu dia begitu mengiba dan berusaha mendapatkan nomor antrean pertama, kali ini dia dengan sabar menunggu antreannya yang juga berada di angka besar.
Seorang anak buah Tizha yang melihatnya sempat hendak mendahulukan Mirina. Tetapi, dia menolak dan memilih untuk tetap menunggu giliran saja.
Begitu gilirannya tiba, dia langsung segera menemui Tizha.
Saat berhadapan dengan seseorang yang sudah membuat saudara lelakinya sembuh itu, Mirina bersimpuh. Tizha sempat kaget dan memintanya untuk segera berdiri.
“Tuan, saat Tuan datang ke rumah kami, kami tidak sempat memberikan Tuan apa-apa. Sekarang, izinkan hamba mencuci kaki Tuan dengan minyak wangi terbaik hasil olahan Lawson yang sudah sembuh dan sengaja membuatkan minyak ini buat Tuan.”
“Wah… Mengapa kalian begitu repot melakukan ini buatku?” Tizha belum sempat mendapat jawaban ketika kakinya sudah terasa diguyur minyak wangi terbaik yang memancarkan aroma bau semerbak hingga ke sudut ruangan.
Wangi sekali.
Seisi ruangan dan orang-orang yang ada begitu terbuai dengan wanginya.
Mereka langsung tahu bahwa itu minyak wangi terbaik.
Mirina tidak peduli atas reaksi orang lain pada apa yang sedang ia lakukan itu. Ia tetap mencuci kaki Tizha pelan-pelan dan penuh hikmat khidmat. Tizha tidak bisa menolak lagi. Ia biarkan Mirina menyelesaikan niatnya tersebut.
Kalau dari bau wanginya, menurut kasak-kusuk dari mereka yang menikmati bau harum itu, minyak wangi yang sedang dioleskan Mirina ke kaki Tizha adalah minyak narwastu. Itu jenis minyak wangi mahal dan berkualitas.
Pantas saja wanginya semerbak begini.
“Kamu tidak ingin memberikan pendapat yang ada di kepalamu, Khery?” bisikan itu kembali terdengar di telinga Bang Khery yang sama-sama sedang memperhatikan apa yang dilakukan Mirina kepada Tizha sembari menikmati aroma wangi yang memang memikat ini.
“Ah, cuma pikiran di kepalaku saja, kok,” jawab Bang Khery, lebih berbisik. Jangan sampai didengar orang lain.
“Bodoh,” sentak si pembisik tanpa bentuk itu. “Ini kesempatan, Khery… Kesempatan buat menambah pundi-pundimu lagi.”
Bang Khery menopangkan jari ke dagu, seperti sedang berpikir.
Benar juga kata si bayangan itu, benak Bang Khery.
Minyak narwastu ini memang mahal. Kalau dijual pasti akan menghasilkan uang banyak.
Mirina yang sudah selesai mengelap kaki Tizha, mencuci tangannya terdahulu, lalu mencium kaki Tizha. Kejadian penuh haru ini seperti hendak menunjukkan rasa terima kasih Mirina mewakili Lawson dan Merna, kakak-kakaknya.
Tizha pun sangat mengetahui hal tersebut.
Ia meminta dan membantu Mirina untuk bangkit dari bersimpuhnya. Tanpa sungkan, ia peluk penuh kasih perempuan muda itu.
“Terima kasih, Mirina… Sampaikan juga kepada kakak-kakakmu, kalian telah memberikan yang terbaik,” ujar Tizha sambil memeluk gadis itu.
“Kami yang berterima kasih sangat, Tizha… Lawson sudah sehat dan bisa bekerja kembali. Minyak ini adalah hasil kerjanya.”
Kepala Tizha angguk-angguk.
Tak lama, Mirina pun mohon pamit dan sengaja meninggalkan satu botol besar minyak sisa dari apa yang ia kerjakan buat Tizha tadi.
Segera Bang Khery mengambil minyak itu dan mendekati Tizha.
“Apa tidak sebaiknya kita jual saja minyak narwastu ini kepada pasien yang mau? Lihat saja, Tizha… Sudah banyak orang yang terpesona dengan aroma dari minyak ini.”
Tizha memandang Bang Khery.
Ia nampak tidak suka dengan usul barusan.
“Tidak, Khery… Aku malah berpikir untuk membungkus minyak narwastu itu ke wadah-wadah yang lebih kecil, sehingga dapat dibagikan gratis kepada semua yang ada di sini.”
“Wah…” Bang Khery terkejut dengan usul tuannya barusan. “Ini minyak mahal, Tizha… Bisa menghasilkan banyak uang buat kita.”
“Tidak, Khery…” Tizha menggoyang-goyangkan jari manistelunjuknya ke depan wajah Bang Khery. “Kita diberi oleh kakak beradik itu. Gratis. Maka layaklah kalau kita membagikan gratis pula kepada siapa pun yang mau.”
Bang Khery tidak bisa membantah.
Sembari meninggalkan Bang Khery, Tizha meminta kepada yang lain agar menyiapkan wadah-wadah kecil yang dimaksud supaya minyak itu bisa dibagikan kepada semua secara adil.
Tinggal Bang Khery yang menggigit bibir.
Usulnya ditolak mentah-mentah.
Bersambung…
Penulis: Anjar Anastasia
Beraja Senja adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.




