TinjauAds
Beraja Senja

Tumbal Hamba Uang (7)

Dibaca dalam waktu5 Menit, 9 Detik

TINJAU – Waktu sehari berlalu cepat juga.

Hari di mana Bang Khery sudah berjanji kepada jenderal pun tiba juga.

Tinjauan Terkait

Tizha dan anak buahnya memang punya rutinitas makan malam bersama pada hari sebelum akhir pekan yang padat. Makan malam ini pun mengundang para pasien Tizha yang beberapa sengaja tinggal sementara bersama mereka karena harus ditangani lebih lanjut atau menumpang dulu sebelum mereka pulang esok harinya.

Kali ini makanan yang disajikan sangat mengundang selera. Baru disajikan saja di meja yang panjang, mata semua orang di sekeliling meja sudah melotot sambil menelan air liurnya. Makanan yang dimasak dan disajikan oleh Thoymay, Mho, dan Boes memang sungguh bisa menggugah selera.

Seperti yang sudah dipesankan Bang Khery selaku bendahara, masakan yang disajikan kali ini memang lebih banyak dari biasanya. Masing-masing dari sekian banyak orang yang ada di ruangan itu dijamin akan mendapat makanan. Bahkan mungkin berlebih.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Setelah berdoa bersama, tibalah saatnya mereka akan mengambil deretan panjang makanan itu sesuai keinginan.

Tapi, sebelum terjadi, tiba-tiba Tizha berdiri dan meminta semua duduk.

Ia meminta pula semuanya membuka piring masing-masing. Lalu, ia letakkan makanan utama di atas piring mereka.

Satu-satu.

Senyum panjang menghiasi bibirnya. Wajah itu nampak lebih segar dari biasa. Padahal semua tahu, Tizha masih menyimpan kelelahan atas pekerjaannya beberapa hari ini. Sesekali terdengar juga candanya kepada mereka. Suasana meja makan pun terasa akrab.

“Tizha, apakah kita bisa sering begini?” tanya Plepi sambil terus melahap makanannya.

“Bisa saja,” Tizha pun tak kalah lahap. Harus diakui, makanan tiga anak buahnya ini memang istimewa sekali. “Kalian bisa melakukan ini kapan saja. Boleh sesering mungkin. Baik saat bersamaku atau tidak.”

Plepi segera menghentikan suapannya. “Maksudmu, Tizha?”

“Ya kan suatu saat kalian juga harus belajar mandiri. Tidak selamanya harus bersamaku, kan?” Tizha tersenyum lagi seperti memang sedang tidak ada apa-apa meski ia sebenarnya tahu akan terjadi sesuatu.

Semalam Tizha bermimpi bertemu ibunya yang ada di kampung nun jauh di sana. Dalam mimpinya, ibundanya itu berpesan agar ia berhati-hati tanpa menyebutkan kenapa. Tetapi, sebagai orang yang biasa mencoba mengerti tanda-tanda alam serta memiliki kepekaan lebih, Tizha tahu akan ada orang kepercayaannya yang bakal membawanya pada sebuah kesengsaraan, yang sebenarnya sudah menjadi bagian dalam takdir hidupnya.

Di akhir mimpi itu pula, sang bunda memintanya untuk tidak meninggalkan doa dan berpasrah pada Sang Maha.

Di ujung meja, telinga Bang Khery mendengar percakapan Plepi dan Tizha tadi. Dia pun tidak meneruskan makannya.

Angannya kembali pergi ketika pertama kali mereka bertemu. Tizha adalah satu-satunya orang yang percaya padanya, bahkan setelah ketahuan juga cerita lama Bang Khery yang pernah kedapatan mengambil hasil sumbangan untuk orang sakit di kampungnya di daerah Geriyot, saat ia sempat kembali ke kampung halamannya setelah tidak bekerja lagi di pasar. Tizha tidak peduli.

Tizha tidak melihat masa lalunya. Ia bahkan memberi kepercayaan kepada Bang Khery sebagai bendahara di kelompoknya. Tizha beralasan ingin memberi kesempatan Bang Khery untuk berubah menjadi lebih baik. Kepercayaan ini tidak Bang Khery sia-siakan. Ia menjadi bendahara yang baik meski dalam beberapa waktu terakhir ini, ia mulai tergoda lagi dengan sering menyisihkan uang kelompok untuk kepentingan diri sendiri.

Tapi, kenapa mendadak Bang Khery jadi sedih ya, setelah percakapan Tizha dan Plepi tadi? Apakah karena hatinya tersentuh atas apa pun yang pernah ia alami bersama Tizha dan kelompoknya terutama kebaikan hati Tizha itu?

“Ayo, cepat habiskan makanmu… Tugas besarmu sebentar lagi menanti.” Suara yang sudah sangat ia hafal itu kembali terngiang. Laksana dihipnotis, Bang Khery pun segera menghabiskan makannya dengan cepat.

Rencananya setelah makan malam ini, Tizha hendak meditasi dulu di sebuah tempat, dekat rumah tinggal mereka. Ini kebiasaannya yang lain setelah makan malam bersama. Menurutnya, itu sebagai perwujudan syukur atas apa yang sudah terjadi dan dia alami selama ini bersama semua anak buah, pasien, masyarakat, dan siapa saja yang mengenalnya.

Bang Khery pun sudah berjanji kepada anak buah jenderal untuk bertemu di sana dan mereka akan menangkap Tizha tanpa harus diketahui dan berhadapan dengan pendukung Tizha, yang jika tahu pasti akan menghalang-halangi.

Di tempat sepi itu nampak Tizha khusyuk sekali bersemadi. Tempat yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk ini adalah tempat favoritnya buat menenangkan diri sekaligus mendapat energi baru.

Udara dingin yang melingkupi sekitarnya tidak Tizha rasakan meskipun ada perasaan takut yang lain dari biasanya. Mungkin ketakutan pada sesuatu yang semakin ia rasakan semakin kuat. Seperti kala bangun dari mimpi beberapa waktu lalu, saat ibundanya berkunjung di mimpi dan mengingatkannya agar berhati-hati.

Yako, Sena, dan Plepi yang tadi mengantarkannya ke tempat ini ternyata sudah tidur di pojokan sana. Membiarkan tuannya sendirian saja di pojokan lain, tempatnya bermeditasi.

Tizha tidak berniat membangunkan ketiga orang itu. Ia malah berusaha lebih menenangkan diri saja.

Kegundahan hatinya sengaja ia hempaskan jauh-jauh meski ia tahu, waktunya sebentar lagi.

Bunyi detak jam seolah begitu keras terdengar di telinganya. Padahal jelas tidak ada jam di tempat seluas itu.

Dan, sesaat ketika ia merasakan ada seseorang menyampirkan jaket ke pundaknya, Tizha menghela napas panjang. Ia tahu harus lebih bersiap.

Pelan di telinganya terdengar bisikan, “Tizha… Malam ini dingin. Pakailah jaket ini…”

Dan, itu adalah sebuah kode atas tugas besar yang sedang dikerjakan oleh salah satu anak buah kepercayaannya.

Lalu semua terjadi demikian cepat.

Serombongan pasukan yang dipimpin oleh seseorang yang pernah Tizha sembuhkan membawanya dengan paksa. Sempat terjadi ribut mulut antara Plepi yang terbangun dengan salah satu pasukan. Tizha melerainya sembari menepuk pipi Plepi, menenangkan.

Tizha pun dibawa oleh pasukan itu menembus malam.

Sebelum keluar areal tempat itu, Tizha berserobok dengan Bang Khery. Mereka berdua sejenak saling tatap. Sampai akhirnya Tizha tersenyum, menganggukkan kepala, lalu kembali digiring oleh para pasukan.

Berbarengan dengan itu, kepala pasukan melemparkan kantong berisi uang persis di hadapan Bang Khery. Kantong yang sama saat jendral pernah menunjukkannya kala itu.

Segera Bang Khery mengambil kantong itu. Ada kegembiraan ia menerima uang berjumlah begitu banyak. Dipeluk-peluknya kantong itu, lalu dimasukkan ke dalam jaket besarnya.

Tepat di belakang Bang Khery berdiri, di atasnya, ada suara tawa nyaring dan puas menggema, memecah malam.

“Kamu berhasil, Khery… Kamu berhasil… Hahahahhaha…”

Tawa itu pun lenyap bersama angin malam yang kian dingin berhembus.

Bersambung


Penulis: Anjar Anastasia

Beraja Senja adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button