Tumbal Hamba Uang (5)

TINJAU – Kehadiran Tizha dan timnya dalam pengobatan alternatif di kota Syolem menjadi pembicaraan di mana-mana. Bukan karena kemanjuran pengobatannya saja, tetapi juga urusan pajak dan tempat lain sejenis yang mulai kehilangan pasien langganan. Banyak orang mulai cemas dengan kondisi ini.
Pembicaraan itu pun sampai ke penguasa setempat.
Mereka rupanya diam-diam juga mengikuti apa yang terjadi. Belum lagi pengaduan dari masyarakat sekitar. Selain karena menerima tampungan keluh kesah warganya, rupanya otoritas setempat juga merasakan banyak kerugian, sebab pajak berkurang. Setelah diselidiki lebih jauh, itu berhubungan dengan kehadiran pengobatan Tizha.
Maka, rencana pun mulai dibuat untuk mencoba menjebak Tizha agar melakukan kesalahan, sehingga bisa ada alasan buat mengusirnya dari Syolem.
“Wah, rada susah, Tuan, kalau membuat Tizha bersalah. Dia itu sakti,” ujar seorang pejabat yang berhubungan dengan pendataan.
“Apakah dia tidak masalah dengan data kependudukannya?” tanya Yofas, pejabat tinggi setempat.
“Tidak, Tuanku,” jawab pejabat pendataan.
“Hmmm… Repot juga,” Yofas berpikir sejenak. “Oh, ya… Bukankah ada di antara karyawannya yang pernah menjadi penagih pajak kita?”
Pejabat kependudukan itu ganti berpikir.
Di kepalanya seperti terbayang orang yang dimaksud. Tetapi, siapa, ya?
Ia pun permisi hendak bertanya kepada temannya yang bekerja di perpajakan. Tak lama, ia kembali dengan senyum lebar.
“Apakah yang Tuan maksud bernama Bang Khery?”
Senyum cerah memenuhi wajah Yofas. Dia seperti orang yang mendapat ilham. “Betul… Dia yang aku maksud. Meski jadi penagih pajak hanya sebentar, lalu menghilang, apakah kamu tahu tentang kondisinya setelah mengikuti Tizha?”
“Maksud Tuan?”
“Yah… Apakah dia bertambah kaya, makmur, kuat, atau apa lah, yang terlihat mata?”
“Oooo… Kalau itu rasanya sih tidak, Tuan… Tizha kan memang mengajarkan kepada semua karyawan dan pasiennya untuk hidup sederhana dan jujur. Mereka juga hidup sehat, Tuan… Jadi, sukar sekali melihat kemajuan mereka dari yang terlihat mata,” jawab pejabat kependudukan panjang lebar.
“Hmmm…” Ke sekian kali Yofas berpikir. Kali ini ia sungguh berpikir keras untuk memecahkan masalahnya ini. Dia ingin sekali ada penyelesaian dari masalah yang sedang ia rundingkan dengan bawahannya ini.
“Rada sulit juga kalau hendak mempengaruhi Bang Khery dengan duit atau benda, ya?”
“Iya, Tuan… Mereka terbuka satu sama lain. Tidak ada yang disembunyikan. Pasti ketahuan meski sepintar-pintarnya disembunyikan.”
Ketika kembali sedang berpikir untuk mendapatkan ide, mendadak seorang penari melenggang pergi di hadapan mereka. Rupanya penari itu baru saja menghibur seorang tamu yang tadi datang berkunjung ke sana.
Spontan Yofas mendapat ide. Ia meminta penari itu datang untuk ditanyai sesuatu. Setelah mereka terlibat obrolan sejenak, ia pun beralih mengobrol sesuatu juga kepada pejabat pendataan tadi. Keduanya terlibat obrolan yang nampak seru. Lalu, tak lama seperti ada kesepakatan di antara mereka.
Wajah Yofas yang semula terlihat mengerut karena berpikir, kini lebih terang dan cerah. Ia senang sekali akhirnya bakal bisa menjalankan idenya barusan.
***
Sebagaimana biasa, Tizha mengajak karyawan dan sebagian pasien yang sedang ada di sekitar kediaman mereka untuk bermeditasi di pagi yang cerah paling tidak seminggu sekali. Kali ini, ia mengajak mereka semua untuk menikmati suasana alam beserta bunyi binatang atau serangga yang terdengar.
Meditasi di tengah alam nan menyegarkan begini membuatnya dan yang lain merasa damai dan tenang sekaligus memberi kesegaran tersendiri sebelum melakukan aktivitas. Apalagi dipandu Tizha yang dengan telatennya selangkah demi selangkah memberi instruksi tidak ribet yang membuat semua yang ikut mengerti.
Selepas meditasi, masih dalam kelompok yang sama, Tizha sengaja duduk sedikit lebih tinggi di antara mereka. Maksudnya agar ia bisa terlihat oleh mereka yang duduk tidak di dekatnya.
“Sebagai manusia yang tak luput dari salah dan dosa, kita sebenarnya tetap diberi kesempatan untuk membenahi hidup kita dari kesalahan dan dosa itu,” ujar Tizha dengan suara lembutnya. “Cara paling mudah untuk memulai pembenahan diri itu adalah dengan pengendalian diri.” Suara Tizha yang khas dan bisa sesuai dengan tekanan kalimat yang dimaksud membuat semua yang mendengar tak hendak melewatkan satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya.
“Pengendalian diri itu berasal dari kata yang berarti ketenangan dan pengendalian atas dorongan-dorongan yang timbul dalam hati dan pikiran. Dorongan-dorongan yang timbul itu bisa berasal dari hawa nafsu, perkataan, pergaulan yang tidak sehat dengan lawan jenis, dan juga nafsu seksual.”
“Ooooo…” Beberapa dari yang mendengar memberi reaksi yang sama. Ada satu dua di antara mereka yang malah saling berdiskusi sendiri.
“Memang tidak mudah mengendalikan diri dari apa yang saya sebut tadi. Tetapi, jika Anda bisa pelan-pelan dengan niat melakukannya, niscaya hidup Anda akan menjadi lebih baik. Termasuk soal kesehatan Anda,” lanjut Tizha lagi. “Saya beri contoh konkret: kalau Anda makan daging kambing terlalu banyak dengan alasan enak dan ingin tambah terus, maka Anda bisa terkena darah tinggi.”
“O iya, ya…”
“Bener. Bener…”
Yang mendengarkan Tizha saling sahut-menyahut.
“Contoh lain lagi, jika Anda menyindir seseorang dan membuatnya tersinggung, bisa saja membuat seseorang itu kepikiran, lalu stres. Meski Anda tetap sehat, tidak ikut stres, dosanya tetap Anda tanggung, sebab membuat orang lain menjadi menderita dan sakit begitu.”
“Waaaahhh…”
Kali ini gemuruh komentar lebih terdengar. Beberapa orang mulai seperti merasa ditampar karena mungkin pernah merasakan atau bahkan melakukan.
Di antara mereka bahkan ada yang mulai menunjukkan penyesalan dan keinginan untuk segera tidak melakukan hal itu lagi. Tizha angguk-angguk dari tempatnya. Dia sangat mengerti, keributan kecil ini pasti karena pengaruh apa yang barusan dia omongkan.
Sengaja Tizha biarkan sejenak keramaian karena hal tersebut.
Dia ingin memberi ruang sedikit buat mereka berefleksi. Maka, dia pun diam saja sambil memandang lurus ke depan, memperhatikan orang-orang di hadapannya saling berinteraksi.
Di belakang Tizha tampak ada keributan lain.
Bukan karena apa yang dikatakan Tizha tadi. Namun, ternyata ada seorang perempuan yang sejak tadi mencari-cari Bang Khery. Padahal wejangan dari Tizha sedang berlangsung. Para karyawan Tizha tidak berani mendekati Bang Khery yang duduk di dekat Tizha.
Perempuan muda itu seperti tidak peduli. Dia sempat ingin menerobos, menemui Bang Khery. Untung saja bisa dicegah.
Begitu Tizha selesai memberi wejangan, Boes langsung mendekati Bang Khery dan mengatakan ada yang mencarinya.
Bang Khery pamit kepada Tizha, lalu menuju ke belakang.
Perempuan muda yang menunggu di belakang penginapan sengaja dibiarkan sendiri. Ia menghadap ke belakang pintu, sehingga tidak tahu kalau Bang Khery sudah datang.
Bang Khery yang merasa tidak mengenalnya tidak langsung menegurnya. Ia perhatikan dahulu siapa perempuan itu.
Setelah yakin tidak kenal, Bang Khery mendekati dan berdiri di sampingnya.
“Maaf, apakah Nona mencariku?” sapa Bang Khery.
Perempuan muda yang semula menghadap ke depan menoleh ke sebelahnya, ia menyibakkan selendang warna merah jambu muda dari kepalanya. Senyumnya berkembang, menampakkan keranuman bibir merahnya yang seksi. Sudut mata kucingnya itu menatap Bang Khery seperti hendak memastikan juga.
“Rupanya Abang ganteng juga, ya…” Perempuan itu mengelilingi sekitar Bang Khery berdiri.
Caranya memutari Bang Khery itu mengundang bulu-bulu halus gairah bagi yang melihatnya. Dadanya sengaja dibusungkan ke depan, menunjukkan gundukan dari payudara ranumnya. Rambut yang semula ia ikat ke belakang, sengaja dilepas ikatannya dan dibiarkan terurai.
Rambut itu menyebarkan bau harum yang sangat memikat. Bang Khery sampai terbuai dengan bau harumnya. Ia menikmati dulu bau harum tersebut.
Begitu sampai di belakang tubuh Bang Khery, perempuan itu sengaja menyentuh bagian atas punggung milik laki-laki yang cukup berisi itu. Jemarinya seperti sengaja mengulas bagian punggung itu, membuat bergidik Bang Khery. Geli.
Ketika akhirnya mereka saling bertatapan mata, tanpa banyak bicara, mata tajam perempuan itu ternyata sedikit menjadikan Bang Khery laksana terbuai. Ada senyum tipis berkembang di bibirnya.
Melihat tanggapan positif dari Bang Khery, perempuan itu duduk di meja yang ada di antara mereka, lalu sengaja menurunkan lengan baju yang memang longgar itu. Bagian dada atas milik perempuan menarik itu semakin terlihat.
Tampaknya dia memang sedang berusaha menggoda Bang Khery.
Sesekali lidahnya ia mainkan sendiri. Menggairahkan.
Hingga akhirnya ia beranikan diri maju ke depan untuk mendekati wajah Bang Khery dan memancing reaksinya.
Bang Khery hampir saja terbawa suasana. Dia sudah terbuai dengan segala pesona dan cara menggoda perempuan itu sejak tadi kepadanya. Wajah mereka pelan-pelan saling mendekat dan nyaris bersentuhan.
Tiba-tiba ada suara pintu dicoba buka.
Untuk membuka pintu ke ruangan ini memang tidak mudah, maka siapa pun yang masuk akan ketahuan dengan usahanya itu.
Keduanya kaget dan segera berkemas agar tidak terlihat sedang terjadi sesuatu.
Tepat saat pintu terbuka, Bang Khery dan perempuan muda tadi seperti sedang terlihat mengobrol biasa, sehingga orang yang masuk itu tidak melihat ada sesuatu yang mencurigakan.
Orang yang masuk tadi hanya membawa pesan dari Tizha bahwa kegiatan mereka di luar sana sudah selesai. Bang Khery diminta untuk bertemu Tizha sebelum orang banyak itu bubar semua.
“Oke. Aku akan ke sana. Terima kasih, ya,” jawab Bang Khery. Sejenak dia memandang perempuan yang kini ganti seperti orang ketakutan. Sedikit meringkuk di sudut ruangan. “Aku tidak tahu maksudmu tadi apa, Nona… Namamu saja aku tidak tahu. Beruntunglah memang tidak terjadi sesuatu di antara kita.”
“Eh… Eng… Eh-eh…”
“Sekarang pulanglah… Hari akan sore. Nanti kamu bisa kemalaman di jalan.”
“Ta-ta-tapi, Tuan… Tapi…” ujar perempuan muda itu, terbata-bata.
“Tapi apa? Aku sudah ditunggu Tizha.”
“Tugasku belum aku tuntaskan padamu, Tuan…”
“Tugas apa?”
“Tugas untuk melayanimu.”
Mata Beng Khery menatap perempuan itu tajam. Dia kini tahu maksud perempuan ini. Pasti dia disuruh seseorang untuk melakukan hal-hal barusan.
“Kamu pulang saja sekarang. Kalau ditanya apakah tugas sudah selesai, jawab saja tidak bisa bertemu denganku karena aku sibuk.”
“Tapi, tidak bisa begitu, Tuan…”
“Kenapa?”
“Aku… Aku… Aku… Aku tidak akan dapat upah atas pekerjaan kali ini. Itu berarti aku tidak akan bisa mencukupi kebutuhanku dan keluarga,” kata perempuan itu, menunduk lesu.
Bang Khery iba.
Nampaknya perempuan ini tidak berbohong dan bicara apa adanya.
Tangan Bang Khery merogoh kantong bajunya. Ada dua perak yang terdapat di sana. Setelah berpikir sejenak, ia serahkan uang itu kepada perempuan di hadapannya.
“Ambillah ini. Tapi, berjanjilah untuk menyatakan kepada yang mengutusmu seperti yang kubilang tadi agar kamu tidak diberi hukuman. Semoga uang ini bisa cukup untuk membeli keperluanmu beberapa hari ke depan.”
Perempuan itu ragu-ragu hendak mengambil uang yang disodorkan Bang Khery. Namun, Bang Khery memaksa agar ia menerima dengan memintanya menggenggam, lalu Bang Khery memberi anggukan sebagai tanda persetujuannya atas pemberian tersebut.
Akhirnya, perempuan muda tersebut menerima, lalu meminta izin pergi.
Bersamaan dengan ia pergi, Bang Khery pun kembali ke tempat Tizha dan teman-teman lainnya berada. Ia tidak menyadari bahwa bayangan hitam yang selama ini selalu mengikutinya cuma bisa geleng-geleng kepala sembari menunjukkan taring karena gemas tak bisa berbuat lebih.
Bayang hitam itu akan selalu terpental jika Bang Khery berada di dekat Tizha atau sedang berbuat baik. Ada semacam lapisan putih yang melapisi sekujur tubuh Bang Khery, sehingga tak bisa didekati.
Sudah begini, ya sudah…
Bayangan hitam itu cuma bisa membiarkan Bang Khery bergelut dengan kondisinya sekarang.
Sementara, setelah hari itu, ketika perempuan muda yang gagal menggoda Bang Khery melaporkan sesuai apa yang dipesankan Bang Khery padanya, Yofas hanya bisa menarik napas. Dia merasa putus asa, sebab seperti sulit sekali menangkap Tizha melalui anak buahnya itu.
Namun, para pejabat lain masih yakin, Tizha bisa ditangkap dengan perantara Bang Khery. Mereka percaya celah alasan bisa menangkap Tizha ada di salah satu pegawainya itu. Apa pun caranya.
Mereka harus lebih cerdik serta mencari celah saat kesempatan itu datang. Maka, mereka pun mencoba menaruh beberapa orang yang ditugasi memata-matai apa saja yang dikerjakan Tizha dan Bang Khery sehari-hari. Meski sulit-sulit mudah, misi ini dilaksanakan beberapa orang itu demi rencana besar mereka.
Yofas ada di antara yakin dan tidak yakin.
Hingga datanglah jenderal dari pemerintah pusat. Jenderal ini memang diutus pemerintah pusat setelah mendengar keresahan para pejabat Syolem atas kehadiran Tizha dan kawan-kawannya. Dia mengemban tugas khusus untuk mengatasi masalah tersebut.
Sama dengan pejabat lain, jenderal ini percaya, titik lemah Tizha ada di Bang Khery. Dia bisa ditangkap dengan menggunakan sarana bendahara satu itu.
“Biasanya, bendahara itu punya kepercayaan lebih dari tuannya, terutama soal keuangan. Naaaahhh… Biasanya lagi, manusia itu suka tidak tahan dengan tahta, wanita, dan harta. Kalau Bang Khery tidak bisa diotak-atik pada dua pilihan, aku rasa pilihan ketiga bisa menjadi celah kekurangannya, agar bisa membantu kita menangkap Tizha,” demikian beberan sang jenderal.
Yofas tidak menolak, tapi tidak mengiyakan. Dia hanya tahu kalau urusan strategi, jenderal ini memang jagonya.
Maka, bersama jenderal, keduanya mencoba membuat rencana lebih rinci lagi.
Bersambung…
Penulis: Anjar Anastasia
Beraja Senja adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.




