Habemus Papam, Kang Je

TINJAU – “Masih merenungi kepergian Paus Fransiskus?” suara itu menyela dari arah samping sembari mengambil pisang goreng yang ada di meja. “Enak pisangnya kenapa gorengnya sedikit?”
“Banyak amat nanyanya?” jawabku sambil tetap mengunyah pisang goreng yang tadi kugoreng dan ada di piring.
“Hehe… Soalnya makan pisang goreng sambil merenungi sesuatu, pisang gorengnya bisa cepat habis deh..,” guyon Seseorang yang sudah menghabiskan tiga buah pisang goreng di piring.
Doyan ternyata.
Aku menyeringai saja melihat sementara yang daritadi masih mengunyah pisang goreng, mengibas-ibaskan tangannya tanda sudah selesai makan. Ia pun menyeruput lagi kopinya.
“So, apa jawabanmu atas pertanyaanku tadi?”
“Tentang Paus Fransiskus?”
Ia mengangguk.
“Sebenarnya sih udah nggak. Hanya masih suka kebawa perasaan saja tiap ada yang posting kembali perjalanan Paus Fransiskus selama sebelas tahun menggembalakan kami.”
“Ada yang menarik?”
“Banyak.”
“Ada yang meresahkan?”
“Banyak juga.”
“Kenapa tuh?”
“Ya ada beberapa hal yang kayak dicocok-cocokin gitu. Terakhir ku lihat video Paus almarhum beberapa jam sebelum meninggal. Katanya beberapa jam sebelum meninggal, ada tanda di wajahnya.”
“Kan dokter kepausan juga bilang ada tanda tentang kepulangan beliau beberapa jam sebelumnya?”
“Tapi, orang seperti berlomba-lomba mencari berita sejenis yang menurutku nggak perlu juga.”
“Itulah kenapa Aku nggak pernah punya IG,” jawabnya enteng. “Nggak Cuma IG aja ya. Tapi, semua media sosial yang terhubung dengan internet. Kamu bayangkan kalau Aku punya medsos. Apa nggak tambah ramai tuh…”
Wah, bener juga.
Kebayang Kang Je punya IG atau media sosial lain.
Bukan cuma bakal rajin posting, tapi juga malah bikin tanggapan lain yang mungkin beda dari tujuan postingan. Di dunia medsos kan semua orang bisa bebas punya persepsi.
“Makanya dalam Amsal 3:5–6 disebutkan percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
Wah.
Kang Je berdiri dan bersiap pergi.
Kebiasaan nih, kalau sedang asyik ngobrol bisa tiba-tiba cabut aja. Suka nggak asyik nih jadinya…
“Nggak nonton pembukaan conclave? Hari ini mulai loohh…,” Kang Je lagi-lagi mengetahui apa yang ada di kepalaku.
“Eh, iya ya? Mulai hari ini?”
Kepala Kang Je mengangguk mantap.
“Siapa jagoanMu, Kang?” tanya saya spontan.
“Semua jagoanKu… Kalau nanti Kusebut, bisa ramai bursa taruhan yang ada di internet.”
“Eeeehhh…”
Kang Je memicingkan sebelah matanya lalu meninggalkanku yang tidak bisa melanjutkan komentar.
^^^^^
Conclave atau pemilihan Paus baru akan segera dimulai.
Ada 133 Kardinal terpilih yang berasal dari banyak negara dan benua akan menghadiri pertemuan terbatas untuk menentukan siapa pemimpin umat Katolik selanjutnya.
Tidak bisa disangkal, kepergian Paus Fransiskus selamanya, bukan saja meninggalkan kesan baik, tetapi sekaligus PR untuk penggantinya. PR untuk menjadi penggembala yang lebih baik, tentunya. Oleh karena harapan besar ini, maka ada beberapa orang mulai menebak-nebak siapakah yang pantas atau layak memegang jabatan tertinggi, pengganti Santo Petrus tersebut.
Secara pribadi, aku merasa siapa pun nanti yang akan terpilih pastilah yang terbaik dari yang terbaik juga. Para Kardinal yang berkumpul memilih di Kapel Sistina adalah orang-orang pilihan. Tidak mungkin sembarang orang bisa sampai sana. Jadi, siapa pun nanti yang terpilih pastilah memang yang diberi kepercayan atas tuntunan Roh Kudus.
Sembari menunggu conclave dimulai melalui streaming, kucoba membuka beberapa medsos. Ada banyak berita dan ajakan untuk menyukseskan atau melihat pemilihan conclave itu bersama-sama.
Ada satu yang menarik mata.
Ajakan untuk melihat kemungkinan siapa calon Paus baru dari beberapa kandidat kuat.
Aku penasaran saja, mereka bisa menuliskan hal itu, akan memberi pandangan dari sisi apa saja.
Begitu ku klik link yang tertera, mataku terbelalak.
Kenapa jadi ajakan untuk memberi sumbangan kepada pilihan kita?
Di panel bagian kiri, ada semacam hasil suara dan sumbangan dari banyak orang yang mengikuti.
Ini maksudnya jadi semacam charity untuk tujuan tertentu yang berhubungan, atau apa ya? Baru tahu yang beginian.
“Mau ikut taruhan?”
“Eh, taruhan?”
“Ya, itu semacam judi bola untuk menebak siapa yang menang.” Suara kha situ menunjuk dengan tangannya panel sebelah kanan. “Kamu perhatikan baik-baik. Makin bertambah kan nilai nominalnya? Itu berarti banyak yang ikut dan menebak.”
“Hah?!” aku kaget sekagetnya. “Trus, duitnya kemana?”
“Kalau ada yang menang, bagi dua dengan yang menang. Kalau kalah buat penyelanggaranya saja. Persis judi saja gimana.”
“Astaga!” Aku menepuk dahiku sendiri.
“Kenapa kaget, bukankah jubahKu sendiri untuk mendapatkannya dengan cari dibuang pundi oleh para prajurit?”
Bener juga…
Dalam cerita Injil tentang kisah sengsara Yesus, ada bagian itu. Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: “Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya.” Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: “Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku.” Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu. (Yohanes 19:24)
Entah kenapa, ada bagian diri yang tidak terima.
Tidak terima karena dalam pemilihan nan agung ini, yang melibatkan kesungguhan hadirnya Roh Kudus diantara para Kardinal itu, kok dianggap sebuah permainan yang bisa menguntungkan.
“Tidak apa, AnakKu… Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, tho?”
Aku tersenyum. Itu kalimat yang diucapkan oleh Kang Je untuk para prajurit yang membuang undi untuk jubahnya tersebut.
“Kirim doa terbaikmu saja bagi para Kardinal itu supaya dapat mengemban amanat dengan baik.”
Aku mengangguk.
Di layar streaming sudah mulai terlihat rangkaian kegiatan conclave yang dinanti. Umat pun ternyata banyak juga yang menunggu di pelataran lapangan Basilika St. Petrus.
Memang tidak ada acara langsung di dalam Kapel Sistina. Tetapi, ada cuplikan-cuplikan apa yang sedang terjadi di sana. Salah satunya adalah begitu semua sumpah para Kardinal yang hadir selesai, Master Upacara Liturgi Kepausan mengucap “Extra omnes” yang menjadi tanda bahwa semua pihak yang tidak berkepentingan harus keluar dari ruangan.
Hal ini berarti tidak bisa semua orang dan info keluar masuk, apalagi yang tidak berkepentingan. Kesunyian, keheningan, doa-doa memang dijaga agar Roh Kudus bisa bekerja penuh dari dalam ruangan itu.
Di luar kapel, para umat yang masih berkumpul ternyata punya cara sendiri juga untuk mendukung. Banyak diantara mereka mendaraskan doa, terutama Rosario.
Sungguh, segala harapan baik melintasi langit Vatican agar tersampaikan kepada para kardinal yang sedang melaksanakan tugasnya.
Selain acara di kapel dan semua prosesnya, cerobong asap yang akan menjadi penanda apakah sudah ada Paus baru yang terpilih melalui asap yang akan mengepul nanti, adalah hal-hal yang sangat dinanti.
Satu hal lagi yang sebenarnya sudah menjadi seamcam pemandangan yang pasti ada, tetapi jarang diperhatikan dan diulas adalah kehadiran burung camar. Para burung-burung itu bertengger di sekitar cerobong asap dari hari pertama conclave.
Kumpulan burung itu dipercaya sebagai simbol dari akan hadirnya Paus baru terpilih yang membawa banyak harapan baru pula. Apalagi diantara kumpulan burung camar itu ada anak burung camar juga. Sesuatu yang belum pernah terjadi. Kehadiran mereka memberi sukacita tersendiri terutama saat dua kali asap hitam mengepul yang menandakan bahwa Paus baru belum terpilih.
Saat menegangkan penuh penantian itu berakhir juga.
Asap putih mengepul dari cerobong asap yang selama ini selalu diperhatikan dari banyak pasang mata di seluruh penjuru dunia.
Habemus Papam yang berarti Paus baru telah terpilih.
Puji Tuhan…
Aleluia…
Semua umat bersuka cita serta bersyukur untuk terpilihnya pimpunan baru.
Tidak jarang juga ada yang terharu dan tidak bisa menyembunyikan emosinya itu.
Selamat datang, Paus Leo XVI atau bernama asli Robert Francis Prevost, OSA, gembala baru kami, pilihan Allah.
Eh, tapi kok….
“Kenapa? Bukan yang masuk dalam prediksi seperti yang selama ini kamu baca atau jadi bahan taruhan?”
Lah, udah ada di sebelah aja Kang Je teh…
Senyumnya sumringah. Terlihat kegembiraan yang tidak bisa Ia tutupi.
“Iya… Paus Leo XVI bukannya tidak termasuk dalam kandidat seperti yang diperkirakan orang selama ini?”
“Oleh karena itu, anakKu… Rencana BapaKu adalah yang paling baik. Yang tidak bisa ditebak oleh siapa pun. Secanggih atau sepintar apa pun manusia yang mencoba mengutak atik.”
Aku mengangguk-angguk.
Ku percaya sungguh, Paus baru yang terpilih ini adalah pilihan Allah melalui para Kardinal yang selalu dalam bimbingan Roh Kudus.
Selamat bertugas menggembalakan kami, Bapa Paus…
Berkat, rahmat dan suka cita selalu menyertai langkah pelayananmu.
(Habemus Papam, 8 Mei 2025)
Penulis: Anjar Anastasia
Beraja Senja adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.



