TinjauAds
Beraja Senja

Kang Je Menjemput Paus

Dibaca dalam waktu7 Menit, 41 Detik

TINJAU – Hari masih pagi. Sambil menunggu air panas buat ngopi, aku membuka gadget dan membaca berita yang berseliweran dari berbagai medsos.

Di Instagram Duta Besar  Indonesia untuk Vatikan, aku berhenti mencari. Ada berita menarik mata dan ingin aku tonton dengan seksama.

Tinjauan Terkait

Di video dilaporkan bahwa Paus Fransiskus yang terakhir dikabarkan masih masa pemulihan setelah sekian lama di rumah sakit karena sakitnya, di hari Paskah itu menjumpai umatnya. Mengucap selamat Paskah serta sempat berkeliling lapangan Basilica St. Petrus seperti kebiasaanya sebelum sakit.

Rasa haru dan syukur kupanjatkan seketika

Senang sekali, Paus yang sangat kuhormati ini sudah ada kemajuan.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

“Kiranya Engkau memberi pemulihan cepat supaya Paus bisa beraktivitas dengan baik sebagaimana biasa, ya Tuhan…,” seruku dalam hati seiring video selesai.

“Nggak ngopi? Sudah bunyi tuh ceretmu,” suara yang mengagetkanku, menyadarkan telingaku juga, di bagian dapur ada yang berbunyi, menandakan air sudah panas.

Segera ku melangkah cepat ke dapur.

“Cuma satu gelas aja nih?” ujar suara itu lagi. Sudah ada di samping dan memperhatikanku mulai menyeduh kopi.

“Mau?” aku balik bertanya. Kepala laki-laki gondrong dan brewokan rapi itu mengangguk mantap. Segera kuambil gelas dan menyeduh kopi juga.

“Terima kasih ya, Kang, sudah memberi kesembuhan buat Paus,” ujarku sambal menyodorkan kopi di hadapanNya. Aroma kopi yang tertiup dari asapnya sebab seduhan air panas yang masih mengepul, sungguh memberi suasana dan kenikmatan tersendiri saat menghirupya lalu mengecap pelan-pelan kopi hitam itu.

Wajah penuh kharisma di depanku terlihat begitu menikmati kopi yang sudah masuk ke mulutnya serta aroma yang mengalir dari asap panas kopi.

Wangi…

“Berharap beliau semakin sehat dan tetap menggembalakan kami dengan baik..,” doaku seusai kopi hangat itu masuk ke dalam tenggorokanku.

Memang nikmat sekali….

“Amin, anakKu… Amin.”

Beberapa kali Kang Je meneguk kopi sembari membiarkan pagi mulai semakin menjemput siang. Alam sekitar sepertinya tidak menunjukkan akan hujan, layaknya beberapa hari belakangan ini.

Mendadak Kang Je terdiam, padahal baru saja meminum kopinya lagi.

Cukup lama Ia seperti mematung.

“Loh, Kang… Mau kemana? Kopinya belum habis loohh..,” ujarku sesaat Seseorang di hadapanku ini seperti berburu pergi.

IA memberi kode dengan tanganNya,”Kamu cuci saja, nggak apa. Aku buru-buru…”

Wah, ada-ada saja si Akang kesayangan satu ini.

Siang semakin tinggi. Aktivitas sehari-hari mulai kulanjutkan lagi.

Meski udara susah dipredeksi, aku berusaha untuk tetap menjalankan hari-hari dengan sebaik mungkin. Termasuk menemani seorang adik mahasiswa yang sedang berdiskusi tentang perkuliahannya.

Saat asyik ngobrol, notifikasi di HP menandakan ada pesan WA masuk.

Dari sebuah grup kor yang kuikuti.

Mataku tak percaya begitu melihat judu dari berita yang temanku bagikan di grup itu.

Kepanikanku dibaca oleh si adik, “Eh, kenapa, Kak?”

“Paus Fransiskus meninggal. Dik…”

“Lho, kita barusan cerita beliau kemarin waktu setempat sudah bisa beraktivitas terbatas.”

“Iya… Tapi, ini beritanya beliau barusan meninggal.”

“Valid nggak nih…” Si adik mulai mencari tahu dari gadgetnya. “Eh, Iyyyaaaa… Paus Fransiskus meninggal…”

Sesaat kami berdua terdiam dan mencoba mencari lebih tahu lagi untuk semua berita yang berhubungan. Ada kesedihan seperti sekonyong-konyong melikupi kami.

Gusti…

Kan baru tadi pagi, aku melihat sendiri kesaksian umatMu tentang bagaimana kondisi Paus saat itu. Kenapa sekarang malah berita sedih menemani siang ini?

Sekelebat aku teringat saat Kang Je buru-buru pergi tadi. Tidak menghabiskan sisa kopi hitamnya.

Jangan-jangan…

^^^^^

Tidak berlebihan sekiranya berita berpulangnya Paus Fransiskus ini menjadi viral dimana-mana. Tidak ada media sosial yang tidak memberitakan kepulangannya menuju keabadian.

Termasuk juga banyak berita di grup dan chat WA.

Secara pribadi, aku tidak kenal dalam, hanya umat biasa yang menghormati beliau sebagai pimpinan tertinggi Gereja Katolik, pengganti Santo Petrus.Kalau pun mengenal Paus cuma dari televisi dan berita yang ada. Belum pernah bertemu langsung.

Saat beliau berkesempatan ke Indonesia dan memberi misa akbar di GBK, aku tidak bisa ikut. Mungkin sedikit ada penyesalan, tetapi aku sudah lama mengiklaskan. Berharap lain waktu diberi kesempatan lain.

Ternyata, Sang Hidup punya rencana lain…

Saat Paus Fransiskus sakit dan masuk rumah sakit cukup lama, ada kekuatiran bahwa beliau tidak bisa sembuh lagi. Apalagi mengingat sebelumnya memang sudah sakit lama.

Tetapi, semangat dan teladan beliau yang menguatkan, justru membuatku dan umatnya yang lain di seluruh penjuru dunia malah semangat dan punya pengharapan besar atas kesembuhannya.

Apalagi saat hari Minggu Paskah itu beliau menunjukkan sendiri tentang perkembangan kesehatan yang diharapkan semua orang.

Sayangnya…

“Tidak ada yang perlu disayangkan, AnakKu..,” suara itu kembali terdengar di sampingku membuatku langsung mengecilkan berita tentang wafatnya Sri Paus. “BapaKu di surga punya rencana indah baginya… Dan, bagi kalian, umatnya…”

Aku menoleh.

Laki-laki yang selalu awet muda ini nampak tak lepas dari lilitan kalung Rosario sembari sesekali mulutnya nampak melantunkan doa Rosario pelan.

“Tapi, ini kan namanya PHP, Kang… Pagi kita sama lihat kebahagiaan umatMu atas kesembuhan Sri Paus. Laahhh… Kok BapaMu malah memanggilnya?” Kekecewaan ini tak bisa kusembunyikan.

Kang Je membalikkan badan.

SenyumNya berkembang tipis meski wajah duka itu juga tidak bisa ia sembunyikan.

“Apakah kamu merasa kehilangan salah satu anak kesayangan BapaKu itu?”

Kepalaku mengangguk-angguk.

“Kenapa?” suaranya berubah lembut. Seperti mengerti kesedihan terdalamku. “Bukankah sebelumnya, ada Paus lain yang juga sempat kamu ketahui? Mengapa ia seperti sangat menjadikanmu bersedih begini?”

Ku tarik nafas sejenak.

“Aku memang pernah tahu Paus Johanes Paulus Kedua. Pernah mengalami juga kepemimpinan Paus Benediktus. Tetapi, pada era Paus Fransiskus, aku merasa yang sungguh-sungguh mengenal dan mendalami apa arti menjadi umat Katolik. Aku seperti melihat langsung diriMu dalam wujudnya, Kang…”

Sebelum air mata itu kembali mengalir, segera dibenamkannya aku dalam pelukanNya.

“Aku paham, anakKu. Sangat paham…”

Ia biarkan aku menumpahkan emosi terdalamku dalam pelukan hangatnya itu.

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana. Amsal 19 ayat 21.” Kang Je melafalkan pelan ayat tersebut.

“Aku sangat mengerti kesedihanmu dan teman-temanmu…” Kang Je mengambil tisyu di meja. Dengan lembut juga Ia membantu mengelap air mata yang masih jatuh di pipi. “Benar jika Paus Fransiskus memberi teladan baik kepadamu dan yang lain. Ia salah satu umatKu yang sungguh bisa Kuandalkan untuk terus mengabarkan kabar suka citaKu ke seluruh penjuru dunia. Aku pun juga sedih begitu tahu, tubuhnya mulai tak kuat lagi untuk terus mewartakan kabar suka cita itu…”

Aku mulai bisa mengatasi emosi terdalamku.

Kudengarkan baik-baik apa yang hendak dikatakanNya.

“Tetapi, BapaKu punya maksud lain yang ku yakin pasti tak kalah baiknya seperti saat Dia mempercayakan Jorge Mario Bergoglio menjadi Paus, menggantikan Paus Benediktus.”

“Iya, Kang. Aku percaya itu,” sungguh aku  memang percaya bahwa Allah Bapa akan selalu mempercayakan anak terbaiknya untuk menjadi Paus selama ini, menggantikan Santo Petrus. “Tadi ku baca di berita, beliau sempat menerima pejabat tinggi sebuah negara setelah berkeliling lapangan Santo Petrus. Jauh sebelumnya yang kata temanku, seorang matan petinggi negara lain yang sedang flu, tapi berkunjung kepada Paus juga. Apakah  karena hal itu maka Paus meninggalkan kami semua?”

Kali ini Kang Je menahan senyum. “Hey… Kamu kebanyakan nonton drama bertema detektif jadi kebawa dengan apa yang terjadi pada Paus?”

Aku berusaha tersenyum. Meski samar sebab yang terlihat jelas adalah duka terdalam ini.

“Orang bisa berkata apa pun. Menebak apa pun atau bereaksi apa pun. Tetapi, kehendak BapaKu adalah yang terbaik dan akan kalian mengerti kelak.”

Kesekian kali ku terdiam.

Di luar, langit sudah mulai mendung menggantung.

Jadi teringat saat Jumat Agung lalu, angina kencang tiba-tiba menerpa tenda kami sampai berbunyi keras di bagian atas. Tak lama hujan deras pun menerpa bumi.

Menjadi Jumat itu menunjukkan keagunganNya.

“Sebenarnya memang sudah ada tanda-tanda yang menurut dokter yang kamu baca di medsos itu adalah tanda medis seseorang yang sedang sakit keras. Mulai tidak kuat lagi bertahan. Tapi, sekali lagi percaya ya, segala hal sudah diatur BapaKu dengan sangat baik adanya… Jadi, mari kita melayat Paus nanti malam.”

“Eh, gimana? Gimana, Kang?” aku kaget sekali ketika Kang Je mengajak melayat Paus. “Kita ke Vatican?”

Kali ini Kang Je tidak bisa menahan senyum lebarnya.

Ia mengacak-acak kepalaku.

“Ya enggak dong… Dikira ada Doraemon yang punya pintu ajaib sehingga bisa sekejap pergi ke Vatican?”

Ganti aku yang tersenyum malu. Salah menebak ternyata.

“Jadi, maksudnya gimana, Kang?” aku penasaran

“Kita melayat streaming…”

“Nah, apalagi itu…”

Sepertinya Kang Je sedang ngajak guyon di sela suasana duka ini. Persis seperti yang konon sering dilakukan Paus Fransiskus walau tidak banyak orang mengetahui satu sifat ini.

“Kita berdoa Rosario dan Misa Requim bareng melalui streaming. Mengirim doa untuk Sri Paus di sana, gitu…”

“Oalah…”

Tawa kecilku memecah keseriusan suasana yang tercipta.

Kedukaan ini memang membuat banyak orang bersedih. Kehilangan orang yang dikasihani juga bukan hal mudah untuk dilewati.

Namun, Paus Fransiskus sempat menuliskan sesuatu sebelum beliau wafat, “Kematian bukanlah akhir dari segalanya, tapi sebuah permulaan atas segala sesuatu. Itu adalah awal yang baru,”

“Lihat ini, orang-orang kreatif membuat kalimat in a world of hate be pope francis. Haha.” Kang Je tertawa lepas.

Aku jadi ikut tertawa.

Kalimat itu seperti ada kesan gurau, sedikit mengejek, tetapi kuat serta sarat makna supaya kita tetap berbuat baik dan membagi kasih, sebagaimana pun dunia ini buruk.

Hal itulah yang dilakukan Paus Fransiskus selama hidupnya…

Terima kasih Bapa Paus Fransiskus untuk semua penggembalaanmu kepada kami selama ini….

Istirahat dalam damai abadilah di sana bersama Allah Bapa, Yesus Kristus dan Bunda Maria…

(dalam duka berpulangnya Paus Fransiskus, 21 April 2025).


Penulis: Anjar Anastasia

Beraja Senja adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button