TinjauAds
Beraja Senja

Kudamaikan Diriku Dari Padamu, Masa Lalu

Dibaca dalam waktu9 Menit, 41 Detik

TINJAU – (Di antara hujan Bandung, Januari 2025).

Karena Posisi Pisau Itu

Tinjauan Terkait

Kaki melangkah menuju ruangan. Kemarin banyak sekali yang berkumpul di sana. Bisa ditebak, ruangan biasanya terlihat berantakan, baik karena benda-benda yang tidak diletakkan ke tempat semula atau sisa sampah.

Baru sampai di depan pintu, mata melihat sebilah pisau dapur menggeletak di meja. Di sekitarnya ada bekas kupasan buah.

Berkehendak membereskan tempat itu, mendadak sekujur tubuh seperti begidik dan sedikit keluar keringat dingin. Aku terpaku. Diam di tempat.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

Mata sekelebat melihat posisi pisau, bagian tajamnya menghadap ke atas, badan malah terasa mendadak lemas, ingin segera lari menghindar. Padahal pisaunya tidak bergerak.

Tubuh seolah mendapat kekuatan untuk berbalik arah.

Tapi…. Sekonyong-konyong, ada suara dalam hati yang bilang, “Kalau kamu lari, apakah menyelesaikan masalah?”

Seketika tubuh kembali pada posisi semula. Suara itu kembali terdengar, “Takut apa sih? Pisau itu kan nggak bergerak. Kamu ganti posisinya deh, selesai masalah dan takutmu.”

Meski suara itu keras terdengar, namun suara lain yang memintaku segera berlari, terdengar juga. Sayangnya, dia tidak memberi alasan kuat kenapa aku harus lari dan apakah nantinya akan bisa lega?

Aku harus segera memutuskan harus bagaimana. Lalu, pelan-pelan dan masih dengan takut-takut, aku dekati meja tempat pisau itu berada. Tangan kujulurkan untuk berani memegang dan berniat mengganti posisinya, setidaknya bagian tajamnya tidak menghadap ke atas.

Tangan kanan ini sungguh bergetar, sementara tangan kiri memegang pinggir pintu yang kebetulan memang berdekatan. Aku seperti sedang menghadapi sesuatu yang sangat menakutkan. Bisa mendadak terbang, mengarah ke badan. Sungguh aneh imajinasi kepalaku.

Tangan kanan pun diantara maju dan tidak. Mata terpejam demi mengurangi rasa takut yang ada.

Begitu ujung jari kurasa menyentuh ujung gagang pisau, cepat kujatuhkan posisinya sehingga bagian tajam pisau tidak lagi menghadap ke atas.

Wuuiiihhhh….

Seketika rasa lega itu lega seleganya.

Nafas yang sempat tertahan, bisa langsung ke luar bebas.

Lega beneran…

Bertumbuh Bersama Luka

Dalam proses hidup, luka batin yang sering kali tumbuh pada saat masa kecil seringkali tidak bisa hilang seiring usia. Kadang malah mengikuti dan bak gunungan es, semakin membesar justru saat kita sebenarnya berusaha untuk membuangnya. Tetapi sayangnya, sampai situ saja. Bukan dengan kesadaran berani menghadapi dengan mencoba cari tahu apa penyebabnya. Lalu, membuangnya agar hidup tidak lagi seperti diikuti terus.

Pada bagian ini, seringnya karena ada penolakan dahulu, dengan segala alasannya. Bisa jadi juga beralasan sudah menerima luka itu, tetapi sesungguhnya hati seperti senang “bermain” dan menikmati luka itu. Bahkan mungkin memanfaatkannya untuk tujuan tertentu terutama berharap belas kasih.

Seperti kala kehilangan atas berpulangnya Ibu masih begitu terasa. Meski tersamar dalam tawa atau cerita sehari-hari, rupanya ada yang menangkap kesedihan terdalamku itu.

Salah satunya adalah seorang terapis, teman dari seorang teman baikku.

Dia yang belum lama kukenal, katanya menangkap energi negatif dari diriku. Maka, tanpa banyak cerita (sebab kami baru sejam berkenalan) dia meminta pada temanku agar aku bersedia dia terapi.

Awalnya merasa aneh dan ada rasa penolakan. Apalagi belum lama kenalnya.

Tapi, karena sebenarnya dalam hatiku paling dalam ingin sekali terbebas dari kesedihan tak selesai itu, aku pun ke tempat praktiknya beberapa kali. Memang hanya ngobrol dan curhat biasa. Ternyata dari obrolan itu, dia menangkap sesuatu.

“Kamu selalu menyalahkan diri sendiri karena tidak berada di tempat saat ibumu menghembuskan nafas terakhirnya. Menyesali juga keberhasilan terbitnya novelmu seperti terlambat karena ibu tidak akan bisa lagi melihat karyamu yang lain dan menikmati hasilnya. Kamu merasa kamu gagal dan membuat sedih almarhum ibumu,” ujar sang terapis. “Sekarang coba pola pikir itu dibalik. Pikirkan bahwa kepergian ibumu itu justru karena dia ingin kamu bahagia dan bisa fokus mengejar masa depan cerah, dengan versimu, tanpa harus dibebani hal lain termasuk soal ibumu.”

Aneh.

Sebuah nasihat dan saran yang membuatku berontak dan tidak terima. Bagamaina mungkin aku bisa punya pikiran bahwa Ibuku adalah sebuah beban? Bukankah karena beliau aku berani berjuang?

Namun, setelah kuingat lagi, Ibuku memang pernah bilang bahwa aku harus mencari dan memiliki bahagia sendiri. Entah bagaimana caranya asal tidak merugikan orang lain.

Pelan-pelan ada kesadaran agar tidak terlalu lebih dalam mengikuti kesedihan itu. Apalagi kemudian mulai banyak karyaku keluar. Perhatianku benar terfokus hanya untuk pencapaian serta hidupku pribadi.

Mulai ku sadari bahwa kepergian Ibu bukan sekadar pergi, namun lebih untuk kebahagiaan dan masa depanku. Aku jadi percaya, Ibuku juga bahagia melihat anaknya dari sana.

Seiring waktu yang mengiring pada langkah kakiku, aku merasa masih ada luka batin yang seperti masih kencang menggelayut diri ini. Luka batin yang berhubungan dengan awal kehadiran serta proses hingga mencapai usia saat itu.

Tidak bisa dipungkiri, salah satu penyebab sakit Ibu hingga meninggalnya adalah bagian dari masa lalu kami. Masa lalu bersama bapak kandung yang meninggalkanku dan ibu justru di saat aku telah hadir di dunia setelah duapuluh dua tahun ditunggu.

Bukan hal mudah akhirnya menerima kenyataan Bapak yang sebenarnya sering membanggakan diriku meski berjauhan, ternyata memang memilih tidak ingin berkontak dengan Ibu. Kalau denganku beliau masih mau, karena beliau ternyata masih mengakui kehadiranku walau kadang dengan semua luapan emosi yang sejujurnya aku tak pernah paham apa penyebabnya.

“Tetap hormati dia ya, Nduk… Biar Bapakmu itu memang keras kepalanya tidak ada yang bisa menyaingi, tapi dia tetap Bapakmu.”

Pesan Ibu satu itu kupegang teguh.

Maka ketika kusadari ada sisa luka berasal dari Bapak, mau tidak mau harus kusembuhkan sendiri. Apalagi Ibu sudah tidak ada. Aku pun berniat berekonsiliasi dengan bapak kandung. Apa pun kondisi yang mungkin harus kuhadapi.

Kejadian pisau di atas memang ada hubungannya saat Bapak membentak Ibu di depan aku kecil. Demi melepas luka itu, didukung oleh banyak orang yang sangat memahami kondisiku, kuberanikan bertemu Bapak, mencoba membuka hati untuk semua yang terjadi. Termasuk dengan risikonya.

Bersyukur sangat, ternyata kami bisa saling memaafkan dan menerima masa lalu dengan keiklasan. Hatiku pun seperti plong. Hidup terasa ringan dan pintu kebaikan satu-satu terbuka.

Obatnya (Mungkin) Agama

Ada nasihat dari banyak orang pintar dan orang tua yang mengatakan kalau luka itu kembali menggoda dalam kehidupan sehari-hari, coba dibawa dalam doa. Berserah pada yang kuasa dan jangan menjauhi semua aturannya.

Rasanya, pesan tersebut banyak orang akan terima dan lakukan. Bisa jadi juga menjadi obat yang sedikit banyak bisa menyembuhkan.

Tapi, kalau luka itu justru menumbuh baru dari hal-hal yang berhubungan dengan agama, baik dari institusi, pemuka, aturan atau aktivisnya bagaimana? Tambah banyak dong luka hidup yang ada.

Saat TK, ada sebuah program yang membuat kami bisa bernyanyi langsung di RRI. Biasanya tiga bulan sekali, sekolah kami mendapat kesempatan. Anak-anak yang dianggap bisa bernyanyi bisa menjadi perwakilan untuk acara itu.

Kali itu, seorang teman yang biasa menjadi wakil sedang sakit. Bu guru yang mengajar nyanyi menunjukku untuk menggantikan teman itu. Dari segi suara, aku memang tidak bersuara merdu, tetapi tidak fales. Bisa mengikuti lagu. Bapak, Ibu dan Omku adalah pemusik dan penyanyi keroncong. Jadi, bisa dimengerti kalau anaknya ini juga bisa bernyanyi dan sedikit bermain musik.

Beberapa kali latihan, tidak masalah. Kesekian kali latihan Bu Guru TK-ku tiba-tiba memintaku untuk kembali ke kelas dan tidak jadi ikut dalam pertunjukkan kali itu. “Suaramu tidak bagus. Kembali ke kelas saja ya,” kurang lebih begitu yang dikatakan Bu Guru itu.

Aku kecil menurut saja meski meninggalkan sisa penasaran, kenapa tiba-tiba aku disuruh kembali ke kelas?

Rupanya tanpa kurasa, kejadian itu menumbuhkan luka di hati yang membekas hingga dewasa. Aku tidak PD bernyanyi walau semua orang tidak pernah ada yang menyatakan suaraku fales. Telingaku pun sebenarnya peka mendengar suara bahkan saat aku sendiri merasa suaraku tidak sesuai dengan yang lain, aku memilih berhenti dan diam.

Tetap saja ketidakpercayaan dan minder itu lebih besar.

“Kamu itu nggak fales, Njar… Hanya memang nggak biasa baca not dan itu bisa dipelajari,” dukung seorang sahabat baik  yang jago nyanyi dan mengerti tentang kondisiku.

Aku bergeming. Masih tidak cukup percaya. Padahal sebagai umat Katolik, bernyanyi itu bukan hal asing dan akan baik jika bisa bersama bernyanyi dalam paduan suara gereja.

Hingga sekitar tahun 2021, di gerejaku ada kelompok koor yang lama vakum hendak dihidupkan lagi. Oleh karena aku adalah salah satu pemrakarsa dan diminta oleh Pastor kepalanya langsung, mau tidak mau aku mesti ikut, turun tangan terlibat.

Itu berarti aku harus bernyanyi. Mengeluarkan kemampuan suaraku dengan teman-teman lain satu grup koor itu. Suara yang semula selalu membuatku tidak percaya untuk dikeluarkan, mulai saat itu harus berani kukeluarkan. Ada keraguan serta tak PD lagi melikupi diri.

Nyatanya, di kelompok itulah benar mulai muncul percaya diri itu.

Bukan karena suaraku jadi bagus. Tetapi, karena semua menerima jenis suara apa pun. Sekira ada yang beda, dia akan diajarkan sampai setidaknya membaik. Selain itu, dengan kesadaran sendiri, akan tahu harus bagaimana.

Tidak ada yang melemahkan hati di saat hendak mau berlatih.

Di tempat ini, luka masa TK itu justru menguatkanku juga menguatkan teman lain yang kurang lebih merasa sama. Sama-sama menjadi bisa.

Ada satu kisah lain yang kudengar sini. Kala itu aku ikut sebah pertemuan rohani, pembimbing kami bercerita tentang seorang Suster kenalannya yang selalu merasa gelisah. Padahal dia sudah mencapai cita-citanya, yaitu menjadi seorang biarawati. Dia memang ingin selalu melayani Tuhan dan sesama melalui jalur pilihan hidupnya itu.

Selain itu, Suster itu juga merasa, dengan lebih dekat Tuhan luka batin masa lalunya bisa hilang. Dia sangat merasa bahwa rahmat Tuhan menghapus luka itu akan turun berlimpah bersama niat tulusnya hidup menjadi biarawati.

Namun, seiring usia, ia tetap merasa ada yang tidak beres dengan dirinya.

Ada sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan dengan kalimat.

Celakanya, hal itu seperti hantu yang selalui mengikuti langkahnya, menakutkan, tapi tak berwujud. Padahal hubungannya dengan sang mama sebagai sumber dari luka itu, sudah sangat membaik. Bisa jadi sebab mereka terpisah tempat dan kepentingan sehingga interaksi sangat jarang atau seperlunya.

Dari sini Suster itu mencoba menggali, ada apa yang terus menggelisahkan hatinya?

Dibantu seorang psikolog dan pembimbing rohaninya, Suster itu akhirnya menemukan akar kegelisahannya selama ini.

Walau hubungannya dengan sang mama sudah membaik, rupanya masih menyisakan luka lain yang belum terselesaikan. Sisa itu adalah belum pernah saling terucap kata maaf dan memeluk satu sama lain.

Selepas kata maaf dan saling memeluk bisa juga terjadi, kehidupan Suster pun menjadi sangat baik. Ia bisa lebih tenang, damai dan penuh suka cita lebih dari sebelumnya.

Sadar Ada Luka

Dari semua masa lalu yang telah aku lalui serta contoh konkrit sekitarku, ada beberapa hal penting yang kucatat sebagai kunci untuk menjadikanku tetap masih dapat menikmati hidup. Kunci itu adakah kesadaran bahwa ada sesuatu yang harus dibenahi, tidak mengingkari lalu berani hadapi dengan mau dibantu teman atau orang terdekat, terapi atau berobat, beragama atau doa.

Dari kesemua itu, yang mendasar adalah tentang kesadaran. Sebab, jika selalu menghindari , seolah semua baik-baik saja, atau menganggap akan sembuh seiring waktu, bisa ibarat kerikil di ujung sepatu. Sudah tahu ada yang mengganjal, tetapi tidak mau coba melepas sepatu lalu dibersihkan hingga ke ujung-ujungnya. Sudah begini pasti akan tidak nyaman  saat kaki diajak jalan.

Jika sesuatu yang mengganjal itu dapat ditelusuri dan berani juga dihadapi, maka pendekatan untuk diobati, bisa mudah didapat. Baik dengan bantuan teman, keluarga terdekat, terapi, obat dan atau agama. Bahkan waktu bisa pula membantu, mendukung penuh dengan menghadirkan banyak kondisi serta energi baik menyertai.

Memang hasilnya tidak akan instan. Ada proses yang tetap harus mau dijalani.

Namun, setidaknya, sekira ada kejadian yang memancing luka itu muncul kembali, kita sudah siap dan tahu harus bagaimana supaya tidak memberatkan lagi hidup lagi.

Percayalah… Memberanikan diri menghadapi pisau yang mendadak membawa angan kembali kala masa kecil atau masa lalu, kemudian mengganti posisinya supaya tidak menakutkan, itu bakal lebih melegakan daripada membiarkan atau malah seolah tak hendak lihat lalu satu saat harus kembali melihat pisau dengan posisi yang sama.


Penulis: Anjar Anastasia

Beraja Senja adalah bagian dari Sastra Koma, kolom sastra TINJAU.ID, sebuah ruang sastra untuk mengekspresikan pikiran. Tulisan yang dimuat adalah buah pikiran penulis, bukan pendapat maupun berita yang disusun oleh jurnalisme redaksi.

Back to top button