Kontroversi Wisuda TK-SMA, Menengok Kesakralan “Toga” Kelulusan
Kontroversi terbaru dalam dunia pendidikan kita di Indonesia ialah ketika seorang netizen mengajukan permintaan di Instagram Menteri Nadiem Makarim, agar wisuda TK, SD, SMP, hingga SMA dihapus dan ditertibkan. Menurutnya, wisuda bagi mereka yang belum kuliah, pemborosan.
Jakarta, tinjau.id – Sejarah wisuda pertama kali ada di universitas-universitas di Eropa pada abad ke-12. Tidak jelas universitas mana yang melakukan wisuda pertama kali. Tapi tujuannya jelas, yaitu penganugerahan gelar kepada mahasiswa yang sudah menyelesaikan masa studi dan mempertahankan tesisnya.
Setiap universitas dan negara memiliki sejarah tersendiri. Namun umumnya, topi dan toga menjadi ciri khasnya. Toga sendiri terinspirasi oleh pakaian sehari-hari civitas academica di Timur Tengah.
Salah satu prosesi paling umum dalam wisuda adalah penyerahan ijazah. Di mana rektor atau dekan akan menyerahkan ijazah asli atau salinan kepada wisudawan.
Penyerahan ini menjadi pernyataan bahwa wisudawan tersebut telah menyandang gelar akademik baru. Gelar baru itu disaksikan dan diakui oleh para civitas academica lain. Pernyataan ini juga menjadi pengumuman pada masyarakat secara simbolis.
[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]
Wisuda berarti seorang manusia dilantik menjadi penyandang kewajiban ilmu pengetahuan. Setidaknya ia bisa memilih untuk tetap sebagai sarjana saja (bagi mereka yang tidak lanjut S2 atau S3). Wisuda S1 dapat berarti “selesainya” pendidikan tinggi, strata tertinggi dari seluruh pendidikan dasar dan menengah yang sudah pernah dilalui.
Pertanyaannya: apakah anak TK, SD, SMP dan SMA perlu? Agak masuk diakal jika mengatakan bahwa jenjang-jenjang ini bukanlah pendidikan yang “rampung” dan “selesai”. Seorang lulusan SMA bahkan perlu sekolah ke jenjang tinggi jika mau disebut sebagai penyandang ilmu pengetahuan “paripurna”.
Anda menangkap poin pentingnya? Benar, wisuda itu bukan acara kelulusan semata. Namun pengakuan terhadap gelar akademis seseorang. Wisuda bukanlah foya-foya merayakan selesai masa studi. Namun momen sakral seperti penyematan gelar bangsawan atau keagamaan.
Kelulusan TK, SD, SMP, SMA dapat gelar? Kita bisa menjawabnya: Tidak. Tidak ada lulusan SMP yang mendapat titel SMP di belakang namanya.
Kesakralan “Toga” Wisuda
Dikutip dari canterbury.ac.nz, wisuda pertama kali diadakan saat kelulusan universitas pertama di Eropa pada abad ke-12.
Saat itu, Bahasa Latin masih menjadi bahasa yang digunakan di lingkungan pendidikan universitas. Secara etimologi, kata wisuda atau kelulusan dalam Bahasa Inggris berarti graduate. Pada abad ke-15, kata graduate memiliki makna “seseorang yang mendapatkan atau memiliki gelar”.
Dalam bahasa Medieval Latin, graduatus memiliki arti “untuk mengambil gelar”. Sedangkan dalam Bahasa Latin, gradus memiliki arti “sebuah langkah; langkah yang diambil (di tangga)”.
Langkah pertama yang diambil dalam jenjang perkuliahan adalah jenjang sarjana, sedangkan langkah kedua adalah jenjang pascasarjana.
Pakaian yang digunakan saat wisuda adalah toga yang memiliki sejarahnya tersendiri. Perguruan tinggi pertama yang meresmikan pakaian wisuda atau toga wisuda yakni University of Oxford dan University of Cambridge.
Toga merupakan sepasang pakaian yang terdiri dari topi dan jubah dan digunakan setiap kali melaksanakan wisuda. Pakaian tersebut sebenarnya telah mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Jubah atau gaun toga yang mencirikan pakaian akademik telah berevolusi dari pakaian sehari-hari staf universitas di Abad Pertengahan, yang didasarkan pada pakaian yang dikenakan oleh pendeta abad pertengahan.
Saat ini, pakaian toga tersebut telah memiliki ketentuan yang cukup ketat dan mencerminkan universitas dan jenjang pendidikan dari sang pemakainya.
Protes Netizen ke Menteri Nadiem
Sebelumnya ramai, orang tua murid mengeluh ke Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim untuk menghapus acara wisuda TK, SD, SMP hingga SMA.
Sosok orang tua murid itu bernama Eka, ia menyampaikan keluhannya melalui kolom komentar Instagram Nadiem Makarim yang meminta untuk menghapus acara wisuda. Ia menilai, wisuda hanya cukup hanya untuk Perguruan Tinggi saja.
“Tolong Pak Nadiem sekarang dihapuskan acara Wisuda dari TK – SMA karena hanya memberatkan biaya para orang tua. Wisuda hanya untuk lulusan Universitas aja bukan dari TK,” tulis Eka di kolom komentar Nadiem Makarim, Jumat 16 Juni 2023.
Seperti diketahui, acara wisuda baik itu TK hingga SMA pastinya akan mengeluarkan biasa tak sedikit. Hal tersebutlah yang membuat orang tua murid merasa keberatan untuk dana cukup besar. Dihimpun dari berbagai sumber, rata-rata wisuda TK bisa mencapai kurang lebih Rp400 ribu. Hal ini sudah termasuk biaya Ijazah, sewa baju, Foto serta beberapa keperluan lainnya.
Sementara SMP dan SMA diperkirakan bisa mencapai kurang lebih Rp700 ribu. Belum ditambah biaya perpisahan sekolah seperti liburan. Hal tersebut tampaknya kurang efektif bagi sebagian orang tua murid. Mengeluarkan biaya segitu besarnya sangat sulit. Jadi alangkah baiknya wisuda TK, SD, SMP, Hingga SMA dihapus saja.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Biro Humas Kerjasama dan Humas Kemendikbud, Anang Ristanto sendiri telah mengungkapkan bahwa kegiatan wisuda TK, SD, SMP dan SMA hanya bersifat opsional, boleh dilakukan atau boleh juga tidak.
“Kemendikbud Ristek mengimbau agar pihak sekolah dapat berkomunikasi dan bekerja sama dengan komite sekolah dan persatuan orangtua murid dan guru (POMG),” ujarnya saat dikonfirmasi awak media.









