116 KK di Desa Sebakung Makmur Mengungsi Akibat Banjir 1,5 M
Sebanyak 116 Kepala keluarga di Desa Sebakung Makmur Kabupaten Paser, Kalimantan Timur masih mengungsi karena banjir setinggi 1,5 meter yang hingga kini masih belum surut.
Paser, tinjau.id – Desa Sebakung Makmur menjadi salah satu dari empat desa di Kecamatan Longkali yang hingga kini masih terendam banjir.
Desa Sebakung Makmur letaknya di dataran rendah. Ini menjadi salah satu penyebab banjir yang masih cukup tinggi. Sebanyak 116 kepala keluarga mengungsi ke dataran yang lebih tinggi atau ke rumah kerabat yang lebih aman.
Kepala Desa Sebakung Makmur, Sutrisno mengatakan banjir tahun ini lebih parah daripada tahun 2021 lalu. Banjir kali ini selain merendam permukiman juga melanda lahan pertanian.
“Banjir sekarang dibanding tahun 2021 lalu ini lebih tinggi 50 centimeter. Genangan banjir mencapai sekitar 1,5 meter, membuat 116 KK terdampak banjir,” kata Sutrisno, Senin (20/3/23) siang.
Menurutnya, sebagian besar warganya yang terdampak banjir memilih untuk mengungsi ke daerah yang lebih tinggi di desa sekitarnya. Seperti Desa Gunung Makmur dan Desa Gunung Intan.
Kendati demikian, masih ada dua kepala keluarga yang belum bisa terevakuasi lantaran lokasinya yang sulit untuk terjangkau.
Normalisasi Kali Telake
“Masih ada dua kk yang hari ini akan kita usahakan untuk jemput dan evakuasi. Karena memang lokasinya yang cukup sulit. Namun mayoritas warga korban banjir lainnya sudah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi ke desa tetangga,,” tuturnya.
Sementara itu, untuk mencegah agar banjir susulan tidak kembali terjadi, pihak kecamatan Longkali mendorong pemerintah daerah melanjutkan program pembangunan bendungan. Selain itu juga melakukan normalisasi sungai Telake.
[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]
Hal itu bertujuan untuk meminimalisir dampak banjir yang kerap terjadi setiap tahun saat memasuki musim hujan.
“Kami terus mendorong pembangunan bendungan dan normalisasi sungai untuk terus dilanjutkan. Karena memang itu salah satu upaya untuk meminimalisir dampak banjir yang rutin terjadi setiap tahun,” kata Camat Longkali, Arfah.
Menurut Arfah, banjir yang terjadi saat ini merupakan dampak dari penyempitan aliran sungai Telake. Akibat semakin maraknya pembangunan pemukiman warga, khususnya yang berada di bantaran sungai.
Oleh sebab itu, pihaknya pun tak bisa berbuat banyak selain memberikan imbauan agar masyarakat lebih waspada saat memasuki musim hujan.
“Iya mau bagaimana lagi. Kami cuma bisa mengimbau kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di bantaran aliran sungai Telake. Karena jika curah hujan tinggi, kemungkinan air akan kembali meluap yang bisa memicu terjadinya banjir seperti kemarin,” tutupnya.









