(Sepak Bola Indonesia) Mengikuti Arab Saudi, Sanggupkah?

Balsamus Pieter Dwiwasa | tinjau.id
Jakarta – Sepak Bola menjadi pusat pertemuan dari berbagai penjuru. Kemenangan Arab Saudi atas Argentina, menunjukkan kepada dunia bahwa bola itu memang bundar dan tidak ada yang tidak mungkin.
Hal ini membuat kita (rakyat Indonesia) bisa bernafas lega, karena mungkin saja, kita juga dapat melakukan hal yang sama (sebelum mengalahkan tim besar, paling tidak bisa ikut serta dalam Piala Dunia).
Mari kita lihat satu persatu. Apa perbedaan dan persamaan kita dengan Arab Saudi. Kita sesama negara yang mayoritas penduduknya Muslim.
Apa hubungannya dengan sepak bola? Semua orang muslim memiliki arahan bahwa berurusan dengan alkohol sebagai hal yang haram.
Nilai ini baik untuk seorang atlet agar tidak menyentuh hal tersebut agar dapat memaksimalkan kemampuan dalam diri.
Tinjauan Terkait: Jerman-Jepang Di Atas Rumput: Spirit Lapuk vs Spirit Teh
Sebut saja, Mohammad Salah (Liverpool), Sadio Mane (Munchen), Paul Pogba (Manchester United), dan masih banyak lagi. Meskipun begitu, banyak pemain yang menyentuh alkohol dan tetap bisa bermain bagus, hanya saja, terkadang mereka memiliki perilaku yang kurang baik di luar lapangan, seperti mabuk-mabukan, berkelahi, dan sebagainya.
Bahkan untuk seorang atlet, mengkonsumsi alkohol sama saja merusak perkembangan otot pada dirinya dan makin lama akan menimbulkan penyakit organ vital seperti gangguan hati dan jantung.
Religiusitas juga ditunjukkan oleh pemain muslim yang masih berpuasa, meskipun sedang dalam pertandingan. Ibadah 5 waktu, mungkin juga menjadi penyemangat mereka untuk dekat dengan yang mahakuasa.
Islam misalnya percaya, ketika manusia dekat dengan Allah SWT, maka manusia berani untuk mengambil keputusan dan melakukan hal-hal yang benar.
Indonesia negara yang menganut Bhinneka Tunggal Ika, tentu saja bisa mengikuti jalan tersebut.
Beberapa tim besar di Inggris, seperti Liverpool ketika mereka juara Liga Inggris pada tahun 2019/2020, mereka berpesta tanpa alkohol!
Khusus para atlet mungkin lebih baik bila memiliki batas dalam mengkonsumsi hal-hal yang demikian (alkohol, tembakau, dan obat-obatan terlarang).
Tim Nasional Indonesia level junior, memiliki kekuatan yang tidak bisa di anggap remeh. Tim Asiop Apacinti berhasil menjadi juara Gothia Cup 2016 (Piala Dunia Usia -15) di Gamla Ullevi, Swedia, dengan mengalahkan tim IF Elfsborg, Swedia.
Tinjauan Terkait: Asa Asia Di Qatar?
Salah satu pemain yang akhirnya menjadi pemain Timnas Indonesia, Egy Maulana Vikri, ialah pemain yang bermain di liga Slovakia.
Tahun ini 2022,Timnas Indonesia menjadi sorotan ketika dilatih oleh pelatih ternama, Shin Tae Yong, yang berhasil membawa Tim Indonesia lolos ke Piala Asia 2023.
Selain itu,Timnas Indonesia juga pernah menjuarai AFF U-16 pada tahun 2018 dan 2022, yang terakhir menjadi juara setelah mengalahkan tim besar ASEAN, Vietnam, di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta pada Jumat (12/08/22).
Kemenangan itu terjadi berkat gol semata wayang dari Indonesia yang bernama Muhammad Kafiatur Rizky pada menit ke 45+1.
Sekarang, mengapa Timnas kita jarang lolos ke Piala Asia? Dan selalu kalah dengan tim-tim yang berasal dari Timur Tengah, Asia Timur. Dimakah kesalahannya?
Mengapa pemain-pemain tersebut jarang di panggil keTimnas. Apakah pembinaan kita berjalan dengan baik? Kita memiliki liga usia muda, tetapi apakah berjalan dengan baik? Biarlah ini semua dijawab dalam hati.
Pola pikir, “Selagi ada celah, harus di ambil” membuat kita seringkali menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan hal yang kita inginkan, contoh, pencurian umur, pemalsuan tinggi badan, dan lain sebagainya.
Mungkin perbedaan kita hanyalah wilayah. Arab Saudi memiliki luas 2.240.000 km persegi sedangkan Indonesia 5.193.250 km persegi.
Dengan luas yang lebih banyak, kita memiliki lebih banyak pilihan memilih pemainTimnas Indonesia.
Rasa hormat dan cinta tanah air membuat kita harusnya memiliki sikap rendah hati, ketika kita tidak terpilih, karena kalah dengan yang lain (yang menjadi pemain Timnas).
Sepertinya, kita kurang memiliki mental untuk terus berjuang agar dapat menjadi pilihan di kemudian hari.
Mari kita belajar dari negara-negara Asia. Bagaimana mereka mengelola sepak bola, mulai dari pembinaan usia muda, asrama, pemilihan makanan, dan pembatasan-pembatasan yang lainnya.
Mari menjadi WNI yang melek dengan pembinaan usia muda, dan menjadi penyumbang pemain-pemain hebat di kemudian hari. Kalau bukan kamu, siapa lagi? Semangat!









