Jerman-Jepang Di Atas Rumput: Spirit Lapuk vs Spirit Teh
Balsamus Pieter Dwiwasa | tinjau.id
Qatar – Macha menjadi teh yang terkenal karena memiliki cita rasa yang berbeda dengan jenis teh lainnya. Daya tarik Macha dapat menjadi pintu untuk mengenal kebudayaan Jepang.
Ketika Jepang mengalahkan Jerman pada babak penyisihan Grup E satu hari lalu, kita sedang dipertontonkan suatu pertandingan dua negara dengan budaya disiplin tingkat tinggi dan memiliki sistem kepatuhan terhadap aturan yang ketat dan tertata.
Tinjauan Terkait: Catat, Ini Daftar Grup Kontes Sepak Bola Dunia 2022
Setidaknya bagi Jerman, tentu kedisiplinanlah yang mengantar mereka menjadi juara dunia edisi 2014 di Brazil saat mengalahkan Argentina, dengan skor 1-0.
Barangkali tidak berlebihan juga mengatakan berkat kedisiplinan itu, Jerman selalu menjadi tim unggul dalam setiap gelaran Piala Dunia.
“Jerman bahkan mengabaikan banyak pemain bintang untuk dibawa ke Qatar tahun ini. Bertabur bintang. Jamal Musiala salah satu talenta muda di Timnas Inggris pun diboyong, hanya karena Musiala melihat keberadaannya di Timnas Jerman lebih sebagai suatu gengsi yang berdiri di atas status unggul dalam gelaran Piala Dunia,” demikian Eurosport menulisnya (16/11/22).
Orang seperti Musiala paham bahwa Jerman bukan tim kelas dua.
Tapi itulah status Jerman sebelum dikalahkan Jepang kemarin.
Tim Asia yang jarang disinggahi tropi kemenangan ternyata merontokkan status kelas satu Jerman.
Jepang, juga dengan budayanya yang disiplin, negara dengan kearifan khas yang ulet, mengalahkan Musiala dan kawan-kawannya.
Tinjauan Terkait: Asa Asia Di Qatar?
Jepang mungkin tidak pernah bilang soal khasiat teh semacam Macha yang enak itu memengaruhi semangat mereka. Tentu ada banyak kekayaan Jepang yang membentuk manusianya sebagai pribadi yang disiplin.
Setidaknya dapat dilihat bagaimana makanan dan minumannya disukai secara internasional.
Sepertinya melalui Sushi, Macha, Shabu-shabu, Takoyaki, Mochi, dan masih banyak lagi, Jepang memperlihatkan konsistensinya menembus pemahaman banyak orang mengenai budayanya.
Pengenalan budaya yang sangat konsisten ini juga tergambar dalam permainan ketika Jepang menghadapi tim unggulan Jerman. Mereka secara teratur dan perlahan, tidak terlihat lelah memberikan suntikan-suntikan yang cukup menyulitkan barisan pertahanan Jerman.
Jepang menunjukkan pada dunia, bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Tidak perlu diakui sebagai kelas satu, cukup membuktikannya di lapangan. Sekali lagi bola itu bundar. Spirit yang sudah lapuk sepertinya perlu diajak minum Macha bersama.









