TinjauAds
Tinjau

Hasil Uji Lab, Bahan Baku Petasan Jenis Low Explosive

Dibaca dalam waktu1 Menit, 27 Detik

Hasil uji lab bahan baku petasan merupakan peledak jenis low explosive. Bahan baku petasan itu mengandung kalium klorat, alumunium dan sulfur. Kandungan itu merupakan bahan peledak.

Surabaya, tinjau.idTim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Timur menemukan barang bukti di lokasi ledakan petasan di Desa Karangbendo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.

Temuan barang bukti ini perlahan mulai menguak penyebab ledakan yang menewaskan empat orang dan menghancurkan 25 rumah pada Minggu (19/2/2023) malam.

Barang bukti itu, selain tiga panci, wajan, pecahan logam dan satu puntung rokok, polisi juga menemukan bahan peledak di dapur rumah. Polisi menduga bahan peledak untuk memproduksi petasan.

Hasil uji lab barang bukti menemukan adanya kandungannya kalium klorat, alumunium dan sulfur. Jika kandungan tersebut di campur maka akan menjadi peledak jenis low explosive.

TinjauAds Kunjungi Website Penerbit Tinjau Utama Media

[custom-related-posts title=”Related Posts” none_text=”None found” order_by=”title” order=”ASC”]

“Bahan peledak jenis low explosive atau bahan isian mercon, atau bahan isian bondet. Itu yang sampai saat ini hasilnya seperti itu,” kata Kepala Bidang Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim Kombes Pol Sodiq Pratomo.

Sebelumnya, ledakan terjadi di Desa Karangbendo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar pada Minggu (21/2/2023) malam. Ledakan ini menewaskan empat orang. Empat orang ini diketahui masih satu keluarga.

Jenazah satu orang korban ditemukan dalam kondisi utuh. Sedangkan tiga lainnya terpental hingga sejauh 100 meter dari sumber ledakan.

Korban pertama yang ditemukan tewas adalah Sudarman. Lansia ini merupakan pemilik rumah tempat menyimpan bubuk petasan. Selain itu terdapat tiga orang lain yang berada di rumah tersebut. Mereka adalah Widodo dan Arifin yang merupakan anak Sudarman dan Wawa, kerabat ipar Arifin.

Selain empat korban jiwa, terdapat korban luka. Tri Wahyudi (27 tahun), Dwi Erna Wati (21 tahun), Bara Kartanegara (4 bulan), Jumali (35 tahun) dan Mesirah (60 tahun).***

 

Back to top button